Ada kota mati yang tumbuh di dalam tubuhku, sebab tak satu gerimis pun jadi air mata. tak satu luka jadi kata-kata. tak satu bunga jadi cerita. aku hanya membiarkan kenangan jadi patung-patung yang tak disembah siapapun. sedang pada wajah bulan kupahat gelisah tentang nasib-nasib orang yang tertusuk takdir Tuhan. tak berdaya, menggelapar-gelepar dan ajal semakin [...]
Arsip untuk Juni, 2009
TENTANG KOTA MATI
Diposkan dalam Puisi pada Juni 11, 2009 | 4 Komentar »
DALAM BUS WAY, DALAM KOTA YANG GIGIL OLEH HUJAN
Diposkan dalam Puisi pada Juni 11, 2009 | 2 Komentar »
Kota ini semakin gigil oleh hujan. kau lihat itu, lihat itu! berbaris pamflet compang-camping tertusuk hujan, tertusuk jari jam dan janji yang telah bugil, sesekali masih terdengar kata-katanya yang menjadi bisik, mirip gerimis yang runtuh dari mata langit.“banjir tak akan datang”. Aha! apa yang lebih ditakutkan, selain lidah-lidah sungai yang menjulur di lantai, di aspal, [...]
KEPADA DIAS, PENYAIR YANG TAK LELAH MENANGIS
Diposkan dalam Puisi pada Juni 11, 2009 | 2 Komentar »
“dari mana cahaya bulan? dari luka-luka yang tersulam” Seperti pagi lain di matamu, kau duduk memangku nasib di halaman sajakmu. kertas-kertas kau biarkan gaduh, pada urat lehernya kau lahirkan kata. kemudian air mata mengalir begitu saja dari ujung matamu yang belati. aku kadang melihatmu jadi bulan perak di balik kerudungmu. berusaha memintal luka menjadi cahaya. [...]
TENTANG RAHASIA YANG KAU BANGUN DI DADAMU
Diposkan dalam Puisi pada Juni 11, 2009 | Tinggalkan sebuah Komentar »
1. Ada rahasia yang kau bangun di dadamu. api yang berkobar melahap semua gelisah yang kau takutkan. seperti iblis-iblis kecil, kau bungkam khianat dengan nafas pisaumu. sedang luka-luka di hatimu kau biarkan dikecup bibir pantai. katamu, perih itu adalah hikayat Tarji temukan puisi. 2. Jika rahasia itu adalah lelaki bermata celurit, akulah yang terluka. sebab [...]
MENGENAL HURUF-HURUF LULUH (Bagian Ketiga)
Diposkan dalam Ruang Bahasa pada Juni 11, 2009 | Tinggalkan sebuah Komentar »
Petinju dan peninju, manakah yang benar? Sebetulnya dua kata tersebut adalah benar. Tetapi mengapa pada kata petinju, T pada kata tersebut tidak luluh sedangkan pada kata peninju luluh? Apakah tetap dibenarkan? Ya, tetap benar! karena sebetulnya dua kata tersebut memiliki proses pembentukan yang berbeda dan memiliki makna yang berbeda pula. Cermati proses pembentukan kedua kata [...]

