Kau tahu bagaimana ruh menuju langit Ra? Lihatlah ke pusat ledakan, dari sana akan lahir ruh-ruh yang terbang menuju langit, menuju surga. Ah, sebentar lagi mungkin kita akan berterbangan seperti mereka… *** Kau sering bertanya Ra, ke mana ayah-ibumu pergi, ke mana kakak-adikmu pergi. Lihatlah ke pusat asap yang mengepul di sana, setelah sebuah pesawat [...]
Arsip untuk ‘Cerpen’ Kategori
RUH YANG MENUJU LANGIT
Diposkan dalam Cerpen pada Maret 5, 2010 | 4 Komentar »
TENTANG CINTA
Diposkan dalam Cerpen pada Februari 23, 2010 | 8 Komentar »
Bila aku mengenal cinta, maka aku ingat Rara. Bila aku mengenal dosa, pun sama; Rara. Ya, Rara telah mengajariku banyak hal soal cinta. Tentang air mata yang jatuh dari kedua mataku, tentang senyumnya yang selalu mengalirkan rindu. Aku tak mengelak bila citna tak lebih dari pintu dosa. Tapi aku lebih percaya bila cintalah kunci surga. [...]
Mereka yang Menanam Rindu di Hatiku
Diposkan dalam Cerpen pada Februari 23, 2010 | 1 Komentar »
Air mataku tak henti mengalir, barangkali seperti air yang kini menghempas rerumah menjadi tanah. Deras, deras sekali. Aku menyekanya berkali-kali agar aku dapat melihat dengan jelas. Mencari sosok ibu atau bapak yang barangkali tertimbun di antara tumpukan puing rerumah atau pada lumpur yang kini menebal sampai ke lututku. Tetapi rasanya sia-sia. Aku hanya mendapati lumpur [...]
DUNIA SENO, DUNIA SENJA
Diposkan dalam Atap Sastra, Catatan, Cerpen, Label Cerpen, senja, seno pada Februari 23, 2010 | 2 Komentar »
Saya membaca cerpen Sepotong Senja untuk Pacarku karya Seno Gumira Ajidarma ketika saya masih duduk di kelas tiga Tsanawiyah di pesantren saya. Ketika itu saya membeli buku kumpulan cerpennya dengan judul cerpen tersebut, tepat ketika uang kiriman saya baru saya terima sehingga bisa saya sisihkan. Saat pertama kali saya membacanya, saya begitu terpesona dengan gaya [...]
NYIBU
Diposkan dalam Cerpen pada Februari 13, 2010 | Tinggalkan sebuah Komentar »
Ketika aku masih sibuk menghitung pendapatan tokoku hari ini, tiba-tiba dua orang berwajah cemas datang mengetuk pintu rumahku. “Kamu harus pulang sekarang Cong!” kata seseorang bersongkok hitam dengan tinggi yang cukup mencolok. Aku terdiam tak menanggapi. “Tolonglah, untuk sekali ini saja,” ujar satunya memelas di sela asap tembakau yang dihisapnya. Aku mengerutkan keningku, kutahu mereka [...]

