1 Apa yang kau asah di hatimu gelisahkah atau sunyi yang kau tikam berkali-kali pada rahim purnama Bila memang gelisah aku ingin menjadi kumbang pertama yang menjilatinya sebagaimana ibu menyapu ruang-ruang kotor di hatiku membakar masa silamku dengan kata-kata yang lebih puisi dari seruling burung pipit di pucuk melati 2 Dan kini kugaduhkan sunyimu lewat [...]
Arsip untuk ‘Puisi’ Kategori
vakansi 1
Diposkan dalam Puisi pada April 17, 2011 | Tinggalkan sebuah Komentar »
KE DALAM RAHIMMU
Diposkan dalam Puisi pada Maret 26, 2011 | 1 Komentar »
Bu, aku ingin pulang ke dalam rahimmu aku tersesat dalam peta usiaku yang rapuh menjadi dewasa tak semudah menetaskan air mata menjadi dewasa adalah usaha mengakrabi dusta Kulihat orang-orang bermata hujan menggelepar di pinggir jalan sedang di gedung-gedung dewan obrolan soal suap dipayungi awan keadilan Bu, mengapa kebenaran itu sulit ditemukan? Rahim hangatmu ibu, itulah [...]
MAYAT TELANJANG
Diposkan dalam Puisi pada Februari 23, 2010 | Tinggalkan sebuah Komentar »
Di bawah jembatan layang ada mayat telanjang tanpa nama dan menyimpan rahasia yang menikam mata kita kita hanya bisa melahirkan air mata serupa hujan membasahi telaga Beberapa lalat melayat seperti sunyi menyayat sedang kita mulai mengeja warna bendera mana yang menyimpan dendam lalu mengasahnya seperti pedang
Dunia Terjemahan Chairil Anwar; Tentang Datang Dara, Hilang Dara
Diposkan dalam Atap Sastra, Catatan, Puisi, Label A Song of The Sea, Chairil Anwar, Datang Dara Hilang Dara, Hsu Chih Mo, Puisi, terjemahan pada Februari 23, 2010 | 13 Komentar »
Sajak Datang Dara, Hilang Dara merupakan sajak terjemahan Chairil Anwar yang begitu mempesona. Memang, berbeda penerjemah yang penyair dalam menerjemahkan sebuah puisi dengan seorang penerjemah biasa. Bisa dilihat kekuatan diksi yang digunakan oleh Chairil dalam menerjemahkan karya Hsu Chih Mo, yang berjudul A Song of The Sea. Berikut sajak terjemahan karya Chairil: DATANG DARA, HILANG [...]
PARAGRAF-PARAGRAF DARI KOTA
Diposkan dalam Puisi, Label penyair, Puisi, sajak pada Februari 20, 2010 | Tinggalkan sebuah Komentar »
1. Aku mendetik bersama waktu yang dinginnya rubuh sedang subuh kubangun dengan air mataku sajadah-sajadah masih sepi keningnya kukecup dan aku semakin gelisah Bulan seperti celurit cahayanya mencabik lubuk hatiku kukenang angka-angka aku semakin malu sedang dosaku mengalir begitu saja lewat air mata, air mataku yang luka 2. Mencari nasib, lembaran hidup begitu rumit kota [...]

