Feeds:
Tulisan
Komentar

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘STAIN Purwokerto’

(Seputar Pengumuman Lomba Cerpen STAIN Purwokerto 2011)

Pengumuman lomba cerpen se Indonesia yang diselenggarakan oleh STAIN Purwokerto pada tahun 2011 ini berlangsung meriah dan menegangkan pada kamis (26/05). Para penulis yang sudah datang sejak malam hari baik dari, Jakarta, Banten, Padang, Yogjakarta, Semarang dan lainnya itu dipanggil satu-persatu sebagai nomintaor untuk berdiri di muka Aula. Barulah kemudian disebutkan juaranya. Tampil sebagai juara I, peserta yang berasal dari Universitas Terbuka UPBJJ Padang dengan judul Lelaki yang Dibeli,  juara II ditempati oleh peserta asal STAIN Purwokerto, Angga Aryo Wiwaha dengan judul Noken Baliem, dan Sunlie Thomas Alexander dengan cerpennya yang berjudul Bunga Delapan Dewa menempati posisi ketiga.

Menyoal Lokalitas dalam Cerpen

Setelah pengumuman selesai, seperti tahun sebelumnya, para pemenang dipanggil untuk menjadi pembicara acara launching buku Lelaki yang Dibeli yang merupakan kumpulan cerpen pemenang dan nominator lomba ini. Hadir sebagai pembicara Ahmad Tohari yang terkenal dengan novelnya Ronggeng Dukuh Paruk, serta seorang esais muda berbakat, Abdul Azis Rasyid.

Mengingat tema lomba ini adalah tentang lokalitas, maka perbincangan hangat seputar lokalitas pun tak terelakkan. Sunlie berpendapat bahwa lokalitas jangan dijadikan sebagai sebuah tempelan.

“Penulis sering terjebak pada perkara ini. Padahal ini sangat berbahaya,” terangnya.

Pendapat sedikit berbeda diutarakan oleh Ahmad Tohari yang menyatakan bahwa, “Universalitas dan lokalitas merupakan satu-kesatuan. Tidak akan ada lokalitas tanpa universalitas, begitupun sebaliknya,” tandasnya.

Pendapat ini seakan menegaskan cerita-cerita dalam kumpulan cerpen ini, sebagai sampel cerpen pemenang lomba ini yang menceritakan benturan antara lokalitas dan universalitas. Cerpen Lelaki yang Dibeli, berisikan cerita yang merupakan problem klasik orang minang yakni pihak perempuan yang diharuskan melamar kepada lelaki. Cerita ini mencapai puncaknya pada filosofi adat minangkabau, Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah yang memiliki arti adat bersendikan agama, dan agama bersendikan kitabullah.

Peserta Bertambah Banyak dan Kompetitif

Diakui oleh dewan juri, Abdul Wachid B. S. peserta kali ini bertambah banyak. Tahun sebelumnya, diikuti oleh 473 cerpenis, tahun ini telah mencapai angka 579 cerpenis. Sayangnya peningkatan ini, tidak diimbangi oleh konsistensi seperti tahun sebelumnya. Tahun 2010, panitia lomba mengadakan tiga lomba sekaligus meliputi lomba esai, cerpen, dan puisi. Tahun ini dua kategori lomba dihilangkan, yakni esai dan puisi.

“Mudah-mudahan tahun depan, kampus tergerak melihat peserta yang membeludak seperti ini,” ujar Fakih, Presma STAIN Purwokerto dalam sambutannya.

Dalam pengantar buku ini, panitia menyatakan telah menerima naskah dari para mahasiswa yang karyanya telah dimuat di media massa nasional, seperti Majalah Sastra Horison, Kompas, Republika dan lain sebagainya. Dengan demikian, penyelenggaraan lomba ini sudah sangat kompetitif. Bahkan dapat dikatakan, lomba ini dapat dijadikan sebagai salah satu peta untuk menunjukan arah kesusastraan Indonesia mendatang.

 

Tiga Puluh Empat Cerita

Antologi cerpen Lelaki yang Dibeli ini diterbitkan oleh Obsesi Press bekerja sama dengan Buku Litera. Adapun buku itu berisikan tiga puluh empat cerpen dari pemenang dan nominator lomba ini. Keragaman berbagai asal peserta, memantik keragaman budaya dalam cerpen-cerpen yang terdapat dalam antologi ini, mulai dari pelosok Papua sampai pada budaya etnis Tionghua.

Kumpulan cerpen ini, menjadi salah satu bukti bahwa keragaman budaya tidak pernah habis untuk digali dan dieksploitasi untuk dijadikan sebuah cerita yang menarik.

Read Full Post »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.