Catatan

MENJEJAK TUJUAN HIDUP

Aku sering bertanya pada teman-temanku tentang tujuan hidup mereka. Nampaknya, banyak dari mereka yang tidak paham tujuan hidup itu sendiri. Bahkan tak sedikit dari mereka merasa berat untuk menjawab pertanyaan yang sebenarnya mudah dan tampak sederhana. Apa tujuan hidupmu?

Jika kita berada di atas perahu dan kita berada di tengah-tengah samudra yang begitu luas. Bila kita tanpa tujuan kita terus terkatung-katung, mungkin kita akan terus saja mengikuti kemana angin membawa kita. Tanpa kita tahu, arah angin itu bisa saja terus beputar dan memutar-mutarkan kita di tempat yang sama. Begitulah keadaan kita yang tidak memiliki tujuan hidup.

Perahu yang baik adalah perahu yang memiliki nahkoda dengan kemampuan pengetahuan yang baik dalam menentukan rute dan arah peta yang membawa kita pada tujuan. Sedang sebaik-baiknya nahkoda adalah mereka yang memiliki tujuan.

Dari sketsa di atas, kita dapat mengambil konklusi bahwa tujuan hidup memiliki peran yang urgen untuk membawa kita pada kesuksesan. Adanya kesuksesan karena kita mencapai tujuan atau apa yang kita harapkan. Lantas pertanyaannya, apakah yang kita harapkan? Jawaban atas harapan merupakan kunci mendapatkan tujuan hidup.

Bagi seorang muslim, sebetulnya tujuan hidup telah terang sekali dijelaskan oleh Allah SWT. Lewat firmannya “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (51:56). Konotasi dari ayat ini adalah, terciptanya manusia dan jin tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah SWT.

Dalam kisah nabi Adam, sebagai nenek moyang manusia. Kita bisa mengambil hikmah, bagaimana setelah Adam dan Hawa diturunkan ke bumi, yang dilakukan keduanya tidak lain adalah ibadah, yaitu dengan meminta ampunan atas segala dosa yang telah diperbuat.

Untuk itu, jelaslah bagi seorang muslim, tujuan hidupnya tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah. Hal itulah yang selalu kita lafalkan ketika kita shalat, tepatnya ketika kita mengucapkan lantunan doa pada takbiratul ihram. Salah satu cuplikan doa tersebut adalah wa ma yahyah wa mamati lillahi rabbil alamin (Hidupku dan matiku hanya kepada Tuhan sekalian Alam). Lafal ini mengindikasikan bahwa kita menyerahkan diri sepenuhnya kepada Sang Khalik, Allah SWT. Hal ini tentu memperjelas hakikat kehidupan kita dan apa yang kita tuju kelak.

Sebagaimana sebuah perahu, diri kita adalah nahkodanya, sedang rute dan arah petanya adalah Al-Quran dan As-Sunnah. Untuk itu, perbanyaklah kita membaca dan mempelajari firman-firman-Nya serta hadist-hadist nabi. Semakin banyak kita membaca, semakin jauh kita dari kesesatan.

Sudahkah kita tahu tujuan hidup kita? Sejauh mana kita telah kehilangan arah dari rute dan peta yang ada? Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Yang terbaik mereka yang sadar bahwa jalannya salah dan ia memperbaikinya dan bukan hanya menyesalinya saja tanpa ada tindakan yang mampu mengubah dirinya.

ย 

Depok, 12 Ramadhan 1426 H


ย 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s