Atap Sastra

Detektifisme Dalam Sastra

Salah satu dari genre sastra adalah detektifisme, genre ini berkembang sekitar abad XX dipelopori oleh edgar alan poe di tahun 1841, genre ini bertahan cukup lama yaitu hingga satu setengah abad. Genre ini sempat diprediksikan akan munah diakhir abadnya, tapi kesimpulan itu dengan cepat terelak dengan adanya penyebaran yang cukup agresif dari genre itu sendiri.

Genre in berkisar dari suatu peristiwa kejahatan, dan terus mempermasalahkan kejahatan sampai akhir cerita, sampai kebaikan atau lebih dtepatnya kebenaran atau kebaikan datang. Kejahatannya dapat dilakukan oleh satu kelompok atau sekelompok orang, dapat direncanakan, terjadi secara kebetulan; atau karena terpaksa; dapat pula merupakan kejahatan patologis, karena pelakunya terkena gangguan jiwa, dapat pula berkaitan dengan unsure relijius atau agama.

Semua kemungkinan telah diterobos oleh kebanyakan penulis cerita detektif, terutamap penulis cerita detektif barat yang telah mengubah ratusan atau bahkan ribuan cerita detektif yang menghidupi banyak penerbit, dalam persoalan ini tentu saja tak lepas dari thriller dan suspense, jika yang terakhir itu dianggap sebuah genre sastra.

Cerita detektif juga dapat disajikan dengan cara memanipulasi penyajian peristiwa atau tokoh yang memang sengaja dibuat oleh pengarangnya. Langkah ini dianggap sebagai sebuah teknik yang sah karena sebenarnya semua karya sastra adalah sebuah rekayasa dari pihak pengarang, yang berusaha untuk menggiring pembacanya kesuatu arah tertentu.

Cerita detektif kelasik menggunakan cara ini secara terang-terangan dank arena car itulah yang membuat genre ini banyak disukai karena banyaknya tipuan-tipuan yang dilakukan penulis kepada pembacanya. Para ahli sastra barat menyebut (penyajian)nya dengan cara macchiavelique, karena semua unsure cerita maupun deskrifsi disampaikan dengan cara sedemikian rupa untuk mengecoh para pembacanya. Ja;lan cerita bisa berpilin tanpa terduga, dan keterangan-keterangan yang disampaikan para tokoh tak dijamin kebenarannya. Dan ha itu juga dapat dilakukan pada cerita detektif modern yang bergaya suspense.

Kebanyakan dari cerita detektif kelasik menekankan pada enigma memainkan dua ceirta, cerita tentang kejahatan yang tak pernah hadir secara langsung, dan cerita tentang pelacakannya yang hadir secara langsung, tetapi tidak berisi peristiwa penting selain usaha pelacakan dan tentu saja keberhasilan sang tokoh pelacak dalam membokar misteri kejahatan.

Cerita detektif kelasik bisasanya dimulai dengan suatu pembunuhan atau tindak kejahatan, jadi akhir cerita kejahatan, untuk menyampaikan keeping-keping cerita kejahatan yang harus disusun dengan cerdas dan cermat oleh tokoh detektif. Di sinilah pengarang memainkan tipu muslihatnya dengan mengacak kepingan-kepingan alur tersebut dan membunyikan informasi sesungguhnya di balik berbagai macam interpretasi atau pernyataan-pernyataan tokoh yang dicurigai, atau yang mempunyai hubungan dengan kejahatan itu atau malh penjahat itu sendiri. Kenyataan itulah yang membuat tzvetan menyatakan bahwa informasi dalam sebuah karya sastra yang diberikan seorang tak harus benar selamanya.

Untuk melakukan hal itu, diperlukan pengarang yang memang benar-benar mengusai seni bercerita –ingat tak semua orang dapat bercerita dengan benar dan baik! Mengetahui aturan main yang dapat dilanggar untuk sebuah pengecohan terhadapa pembaca.

Agatha Christie adalah salah satu contohnya. Karena kepandaiannya dalam mengecoh pembaca ia mendapat pujian dari roland barthes sebagai “pengarang yang sangat menghayati konvensi penulisan sastra” dan oleh karena ituia mampu memanfaatkannya secara optimal, khususnya dalm ceritanya yang berjudul pembunuhan Roger Ackroyd. Karya itu menarik karena misteri pembunuhan amat sempurna dan nyaris tak terungkap, antara lain berkat penuturnya. Yang bertindak sebagai penutur adalah si penjahat sendiri dari awal sampai akhir cerita ini. Cerita ini sangat mengecoh pembaca dan tentu cukup membuat kita merasa dibodohi.

Para literature adalah pengarang yang suka dan memang menikmati untuk menjahati pembacanya. Mereka gemar membuat pembaca menjadi bingung (Pirandello), tegang (semua suspense), ketakutan (horror) atau sedih berkepanjangan (drama kehidupan). Pengarang adalah penyiksa intelektual.

Di lain pihak, sang pembaca memang ingin dan senang disiksa. Ada satu permainan sadho-masokhis anatara pengarang –pembaca. Pantas jika hary berger menyebutkan kebutuhan rohani manusia yang bertolak belakang, yaitu kebutuhan akan tatanan, keadamaian, perlindungan terhadap semua bentuk terror dan kekacauan hidup dan sebaliknya juga kebutuhan akan ketidakpastian, ketidaksamaan, kakacauan, petualangan , siksaan. Bahkan ia mengatakan bahwa sering kali manusia merasa paling bahagia dalam keadaan tersiksa secara intelektual.

Tapi amat disayangkan, karena genre itu tak berkembang dan kurang diminati oleh para penulis Indonesia. Entah karena faktor apa, mungkin faktor lingkungan atau faktor sosial itu sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s