Atap Sastra

KADO UNTUK GURU

Besok bukanlah hari ulang tahun guru tersebut. Tapi entah kenapa ia menyuruh semua muridnya untuk membawa sebuah kado. Semacam kado ulang tahun. Pinta guru itu hanya satu. Berisi batu!

Ketika pertama kali guru tersebut menyuruh murid-muridnya membawa kado berisi batu itu. Semua murid nyaris bingung dan tak mengerti. Karena tentu mereka heran. Sebab guru tersebut bukanlah guru keterampilan, matematika atau apapun yang berkaitan dengan seni secara bentuk. Tapi guru itu hanya seorang pengajar bahasa Indonesia. Kenapa harus kado yang dibawa?

Petunjuk berikutnya, sang guru meminta murid-muridnya untuk menghias kado itu secantik mungkin. Semenarik mungkin. Bisa ukurannya diperbesar atau mungkin kecil. Berbentuk kerucut, kotak, atau mungkin bulat.

Namun, setiap murid guru tersebut mengerjakannya dengan antusias. Tak ada satu muridpun yang berniat untuk tak mengerjakan. Sebab guru tersebut terkenal sangat baik dan paling dekat dengan murid. Sebutlah, guru idola.

Keesokan harinya, ruang kelas sedikit berbeda dari hari-hari yang lain. Semua membawa kado dengan berbagai bentuk dan hiasan. Ada yang diberi pernik dan manik-manik membentuk love. Ada juga yang membentuknya semacam permen yang besar yang kedua ujungnya dikuncir ciamik.

Sang guru tersenyum puas. Karena kelas ini kemudian menjadi perhatian kelas lain. Di jendela-jendela. Wajah-wajah murid lain menyembul mengintip penasaran. Tentu saja mereka tidak tahu bahwa semua kado yang menarik itu berisi batu! Ya, hanya sebuah batu!

Demikianlah guru itu akhirnya memulai pelajaran dengan senyumnya yang mengembang kemudian berkata.

“Saya bangga pada kalian! Lihatlah betapa kalian begitu kreatif membentuk kado-kado tersebut!”

Lalu sang guru memberikan tepuk tangan membuat murid-murid tersebut perasaan melambung tinggi, bangga akan dirinya. Lalu kemudian sang guru melanjutkan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk berubah. Dan murid-muridpun yakin diri mereka dapat berubah!

Yang terjadi selanjutnya, sang guru menulis dua buah kalimat. “matahari  terbit sangat cerah” dan “matahari terbit seperti ketika pertama kali diciptakan.”

Para murid kemudian bingung. Apa maksud sang guru menulis kata-kata tersebut. Sang guru pun tersenyum kembali.

“Murid-muridku yang kusayangi, kalian lihat perbedaan dua kalimat di papan tulis. Apa yang kalian rasakan. Adakah perbedaan di antara keduanya?”

Sang murid hanya tercenung, berusaha memperhatikan.

“Tentu tidak ada bukan?” lanjut sang guru. “Dua kalimat tersebut memiliki makna yang sama. Hanya saja cara menulis dua kalimat itu berbeda. Cara mengungkapkannya lebih indah kalimat kedua ketimbang kalimat pertama bukan?”

“Begitulah, murid-muridku. Bahasa seperti kado kalian yang membukus batu. Jika kalian kreatif menggunakan kata, frase, kalimat hingga membentuk kata yang biasa menjadi luar biasa. Membentuk batu yang hanya sebuah batu, menjadi sesuatu yang menarik.”

Para murid mengangguk. Sambil melihat kado mereka masing-masing. Selama ini, mereka selalu kesulitan mengarang. Sekali sulit, mereka selalu mengeluh pada sang guru. Sekarang mereka mulai yakin pada diri mereka sendiri bahwa mereka bisa. Dan pasti bisa!

Depok, 24/07/2008

Iklan

2 thoughts on “KADO UNTUK GURU”

  1. guru adalah pahlawan buat kita karna guru telah mengorbankan tenagax hanya untuk mengajari kta ………………… I LOVE YOU GURUKU ,,,,,,,,,,,,,,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s