Tentang Saya

KISAH DIBALIK KARYA

Kelas I aliyah, Juara II Lomba Menulis Cerpen se Jawa Timur tingkat SMA

Cerpen ini berjudul Embun di Tengah Hujan. Apa yang Anda pikirkan tentang judul ini? embun ada di tengah hujan? Setidaknya hal itulah yang dipertanyakan seorang juri ketika saya sedang mempresentasikan karya saya yang mendapat juara II Lomba cerita pendek se Jawa Timur di tahun 2006.

Cerpen ini bercerita tentang bencana banjir di mata seorang anak kecil. Rasa simpati sang anak dengan caranya sendiri membuat sang kakak tersentuh. Karya ini kemudian memotivasi teman-teman saya untuk terus berkarya, setelah itu di tahun yang sama karya-karya kami banyak yang masuk koran lokal dan majalah nasional.

Lewat Al-Qur’an Saya Berkarya

Pertengahan tahun 2005, dengan terpaksa saya mengacuhkan liburan saya yang sepuluh hari untuk mengikuti lomba cipta puisi di Malang. Tak sia-sia pengorbanan saya itu, karena karya saya meraih juara III untuk Lomba Cipta Puisi yang berdasarkan pada ayat-ayat Al-Quran. Sedang rekan saya meraih juara I. Bersyukur saya, karena untuk mengarang sebuah puisi bukanlah keahlain saya yang utama saat itu. Puisi itu berjudul Tentang Burung-burung Pelempar Batu, inspirasi dari surat an-naml. Tentang burung yang membinasakan gajah. Tapi saya jadikan ini sebagai peringatan dan pemberitahuan pada pembaca bahwa di atas segala kekuasaan, ada kekuasaan Allah.

Di tahun yang sama, di akhir tahun menjelang liburan puisi saya terpilih sebagai nominasi untuk kemudian saya presentasikan di hadapan juri. Sempat saya membaca puisi itu di depan hadirin saat penyisihan. Puisi dengan judul Dalam Bentangan Langit dan Gunung Doaku Bertebaran ini akhirnya memenangkan lomba sebagai juara II tingkat SMA se Jawa Timur.

Saya bukan perempuan, tapi saya tulis tentang perempuan

Sering dalam karya saya, saya menjadi seorang perempuan. Penjiwaan perempuan ini akhirnya menghasilkan prestasi yang luar biasa. Juara I lomba menulis cerpen dalam bulan bahasa tingkat internasional yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Jakara dan Forum Lingkar Pena. Cerpen itu berjudul Malam Ini Rembulan Tak Datang. Berkisah tentang seorang ibu yang menanti anaknya yang tak pulang karena pergi untuk menjadi TKI di negera tetangga.

Karya ini sangat membuat saya termotivasi untuk berkarya. Terlebih karena uang yang di dapat benar-benar membantu saya dan orang tua saya untuk membayar uang kelas akhir yang membutuhkan budget besar.

Tentang HAM, bagi saya sangat penting untuk disuarakan!

Dengan kesadaran tentang pentingnya Hak Asasi Manusia, saya menulis cerpen Senja yang Temaram, Semerah Darah Perbedaan. Cerpen ini lahir setelah saya berkunjung ke tempat penampungan pengungsi tragedi Sampit di Ketapang Sampang. Melihat keberadaan mereka benar-benar mengalami kesulitan yang sedemikian rupa. Banyak hal yang perlu diangkat, agar semua orang tahu bahwa kerusahan akan melahirkan banyak masalah. Terutama tentang masa depan. Tak ada yang bisa saya lakukan untuk mereka, mungkin hanya lewat cerita pendek inilah saya hanya membantu.

Demikianlah, karya itu lahir yang kemudian menjadi finalis lomba sayembara menulis cerita pendek tentang HAM yag diselenggarakan oleh Kedubes Swiss dan Forum Lingkar Pena.

Puisi dalam doa atawa doa dalam puisi

Lahirlah sebuah puisi doa atau mungkin doa yang puitis. Tidak lain untuk menyambut lomba menulis doa yang diselenggarakan oleh PCNU cabang Sumenep. Saya ikut menulis, sebetulnya enggan pula. Tapi saya harus menulis, sebab saya harus menjadi teladan bagi adik kelas serta rekan-rekan saya agar mereka juga berlomba-lomba dalam menulis. Namun akhirnya saya malah yang mendapatkan juara II. Tapi saya bersyukur, dengan demikian saya pun dapat menraktir mereka makan. Haflah, istilah kami untuk makan bareng dengan gratis…

Saya Kecewa dengan Perpustakaan di Indonesia

Menghidupkan Kembali Perpustakaan Sekolah, adalah makalah ilmiah yang menggugat eksistensi Perpustakaan Sekolah. Sebab, saat ini banyak sekali sekolah yang bahkan tidak memiliki perpustakaan. Kalaupun ada, keberadaannya hanya sekedar menjadi pelengkap agar bisa mendapatkan Bantuan Oprasional Sekolah (BOS).

Fenomena inilah yang kemudian saya angkat dalam lomba karya tulis ilmiah tingkat sma sederajat di Sumenep. Walaupun saat itu saya tak dapat memresentasikannya, karena bertepatan dengan ujian akhir saya di kelas akhir di pondok saya. Tidak dibolehkan oleh pihak pondok untuk hanya sekedar memresentasikan karya tersebut. Tapi, syukurlah pada akhirnya karya tulis ini dapat meraih harapan terakhir. Tentu karena ketidak hadiran penulis.

Ada Gula dalam cerpen?

Anda seorang penulis? Jika ya, tentu Anda akan merasa membutuhkan ‘bumbu’ yang dapat meracik karya anda agar lebih menarik. Itulah yang kemudian tersedia dalam buku Joni Ariadinata. Saya meresensi buku Joni ini dengan pengantar kata bijak dari Om kita Albert Einstain. Imajinasi lebih penting dari ilmu pengetahuan. Dan saya dapat tersenyum melihat karya ini akhirnya mendapat penghargaan juara II lomba resensi yang diselenggarakan oleh penerbit Gema Insani Press.

Saya termotivasi untuk menulis resensi saat itu, karena seorang ustadz dalam sebuah pembengkalan penulisan resensi memotivasi santri-santrinya agar menulis resensi. Karena seorang rekannya, dapat hidup dengan menulis ini. ustadz itu bernama Syarqowi Dhofir. Saya banyak terkesan dengan pemikiran-pemikirangnya. Judul resensi tersebut adalah Bukan Cuka Campur Gula.

Ada Malaikat Di Malam Hari

Satu lagi cerpen saya yang menceritakan persoalan HAM. Kali ini konflik di Aceh yang saya akan sebagai latar dari cerita ini. citra buruk tentang tentara maupun ‘pemberontak’ menjadi dasar yang menjadikan cerita ini.

Ada hal unik yang kemudian saya baru sadari dari seorang rekan saya, yang sedikit kritis mengungkapkan kesamaan plot dengan sebuah kisah yang dulu pernah kami pelajari pada darsu muthollaah. Kisah berbahasa arab yang dari sinilah santri-santri menggali kosa kata arab, agar dapat menceritakan kembali baik secara lisan maupun tulisan.

Cerpen Bila Malam Itu Malaikat, meraih juara I pada lomba menulis cerita pendek yang diselenggarakan oleh Perhimpuan Indonesia-Tionghua (INTI) Jakarta dalam rangka memeringati hari kebangkitan nasional.

Iklan

1 thought on “KISAH DIBALIK KARYA”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s