Atap Sastra

MENULIS TAK BUTUH OTAK!

Menjadi penulis? Suatu hal yang tak pernah saya banyangkan dahulu. Hanya saja sejak kecil saya memang senang membaca, membaca cerita tepatnya. Dari satu gudang di sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI), kami menyebutnya perpustakaan. Kalaupun ruang itu sangat kecil dan benar-benar jauh dari kesan referesentatif. Tapi saya selalu berkunjung untuk sekedar membaca cerita-cerita itu. Entah kenapa tak satu judulpun saya ingat, mungkin karena dulu dan hingga sekarang saya tetap bodoh. Lemah dalam mengingat.

Bicara soal bodoh, saya selalu merasa seperti ini. Kalaupun IP sementara saya lebih besar dari punya teman-teman yang lain. Saya tetap merasa bahwa saya bodoh. Saya selalu merasa susah mengingat, bahkan untuk sesuatu yang belum lama terlewatkan. Sepanjang umur saya di MI, sekali saya mendapat peringkat 10 besar. Sisanya, entah mungkin kedua puluh atau mungkin lebih dari itu. Saya bodoh. Saya selalu sadar itu. Tapi entah kenapa saya bisa menulis? Dan kini saya mulai percaya pada apa yang di katakan Om kita semua, Albert Einstain. Imajinasi itu lebih penting dari ilmu pengetahuan. Wow! Sempat saya berdebat tentang ini dengan rekan saya karena saya menulis sebuah resensi buku yang diawali dengan kata ini. Ia tidak setuju! Tapi saya tak tinggal diam untuk mengungkapkan alasannya. Tentu saja Om kita itu, berbicara pada konteks tertentu dan namanya konteks tak dapat dimasukan sebagai pendapat yang universal dan fleksibel. Begitu temanku…

Kembali soal masa kecil dan buku-buku berdebu di gudang kecil kami itu. Tak ada yang menarik mungkin bagi bacaan anak tahun 90-an seperti saya. Tidak ada cerita bergambar yang sekarang begitu muda di dapat. Jadi kemauan membaca, benar-benar harus dari tekad kuat diri sendiri. Saya sendiri tak mengerti, kanapa saya mempunyai tekad untuk membaca buku-buku yang notabene tak menarik.

Saya sering baca cerita-cerita daerah, ada alasan kenapa saya suka cerita seperti itu. Alasannya satu dan sederhana. Tak ada cerita lain! Sisanya diktat pengajaran bahasa indonesia, buku kenegaraan, eksak dan keterampilan. Untuk buku yang terakhir saya suka membaca. Walaupun dalam keterampilan ini, untuk mempraktekannya tangan saya benar-benar tak terampil.

Buku diktat bahasa Indonesia pun sering jadi korban pelarian untuk membaca cerita-cerita di dalamnya. Barulah saya kenal karya-karya sastrawan Indonesia. Walaupun begitu, saya tetap masih lupa karya siapa saja yang sudah saya baca. Sekali lagi karena saya bodoh, oleh karena itu saya pelupa…

Usai 6 tahun di MI, saya pindah ke TMI. Kata yang hanya berbeda dengan kata T ini bukan berarti jaraknya dekat. Namun, ini benar-benar jauh dari tempat tinggal saya. Saya diover –bahasa ini digunakan keluarga saya untuk padanan kata hijrah atau pindah- ke TMI Pondok Pesantren AL-AMIEN PRENDUAN yang letaknya di Sumenep Madura. Pulau paling ujung dari pelabuhan Kamal Madura.

Di tempat ini kemudian saya mengembangkan tulis-menulis. Besar terimakasih saya kepada semua ustadz (guru) yang telah membimbing saya sedemikian rupa hingga saya dapat berkarya seperti saat ini. Terlebih khusus, Moh. Hamzah Arsa. Guru yang tekadnya lebih besar dari tubuhnya yang kurus itu. Tentu saja, tak terlepas rekan-rekan saya di Sanggar Sastra Al-Amien, Purnomo, Gabril, Ismail, Abror, Hafil, Kholil, Kholis Majid dan banyak kancah lain yang tak bisa saya sebutkan satu persatu. Karena tentu akan menghabiskan lebih dari 15 halaman, dan saya malas untuk mengetik nama-nama mereka dan mungkin pula karena saya juga agak lupa. Karena memang saya bodoh…

Di pondok ini, kyai saya sangat mendukung santri-santrinya menulis, itu dapat dilihat dari para alumnus yang telah tumbuh menjadi penulis kenamaan. Sebut saja salah satunya Jamal D Rahman, pimpinan majalah sastra Horison.

Sejak kecil saya bodoh sehingga sering lupa, pun hingga sekarang. Tapi saya tak pernah putus asa karena kebodohan saya dan saya pun tak pernah merasa minder karena sering lupa. Saya berkata seperti ini, ingin menegaskan, benar menulis butuh otak yang ‘lebih’. Tapi kemauan kita untuk berubah adalah hal yang ‘lebih’ untuk berkarya.

Untuk itu, walaupun saya bodoh, saya adalah penulis karya sastra…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s