Cerpen

PEREMPUAN HUJAN

Malam ini hujan menggigilkan diriku lebih dari yang aku bayangkan, bahkan segelas Wiski yang menemaniku tak mampu menghangatkan tubuhku. Begitu pula tubuh Sari yang kini tengah mengamit tubuhku. Aku benar-benar menggigil!

“Tidak tidur Mas?” tanya Sari entah untuk yang keberapa kalinya.

Aku hanya dapat memandang wajah perempuan cantik itu, aku pun tak mengerti kenapa mataku tak terkatup-katup. Tarian hujan menggetarkan bulu kudukku, seakan mencoba menggali kenangan masa lalu.

“Pendingin ruangan sudah aku matikan, sekarang Mas bisa tidur nyenyak!” ujarnya kembali setelah beranjak untuk mematikan pendingin ruangan dan kembali memelukku lebih dalam.

Tapi aneh! Kenapa hujan itu semakin dalam masuk ke otakku? Aku tidak bisa tidur, pikirku dalam-dalam. Aku mencoba mencari akal, aku harus bisa tidur malam ini. Besok rapat akan benar-benar melelahkan diriku. Apalagi, besok aku harus lebih berperan aktif lagi, terlebih karena aku harus menunjukan profesionalismeku dalam bekerja. Aku tidak mau kesempatan ini terbuang begitu saja hanya karena aku tidak bisa tidur. Ayo, mata terlelaplah! Hatiku membatin. Namun parahnya, sekarang hujan seakan telah tinggal dan membangun rumah di dalam otakku! Semula berbisik, kemudian berteriak-teriak menggelegar seperti petir. Aku ingin istirahat! Teriakku dalam hati.

Sari tampaknya melihat geliatku yang tidak normal ini, walau tubuhnya berusaha melelapkanku itu, namun hujan tampaknya lebih berkuasa malam ini di tubuhku. Maka tubuhku pun tetap gigil. Ia kemudian bangkit dan kembali dengan sebuah botol dan segelas air minum.

“Ini pil tidur, mungkin kau akan terlelap dengan pil-pil ini.”

Aku meminumnya dengan harapan yang cukup besar. Aku sudah cukup tersiksa dengan hal ini.

Satu tablet, tak begitu berpengaruh bagiku, kuteguk satu tablet lagi, dan lagi dan lagi… hingga aku tak bisa menghitung berapa tabet yang dapat melelapkan mataku.

***

Kali ini hujan benar-benar membuatku kesal! Rapatku kacau hanya karena hujan, banyak investor menggagalkan rapatku. Padahal, untuk mengatur waktu pertemuan ini aku harus menunggu berbulan-bulan lamanya. Oh hujan! Kenapa kau harus datang sekarang?

Akupun harus menerima kenyataan ini, wajahku semakin keriput. Karena omset perusahaanku semakin menyurut. Hal ini tentu sangat membuatku tertekan, karena aku menduduki posisi yang erat kaitannya dengan pendapatan perusahaan. Dan tentu semua penyebabnya ada pada satu hal: Hujan!

Oh, hujan! Di mana tubuhmu? Kan kucincang tubuhmu dengan celuritku! Pekikku ketika aku melihat pendapatan perusahaan semakin hari semakin menurun. Perusahaanku begerak di bidang travel. Umumnya, penduduk Jakarta malas berwisata ketika musim hujan. Dan sekarang, hujan datang ketika omset perusahaanku mencapai puncaknya, kini semuanya beramai-ramai membatalkannya. Orang-orang Jakarta lebih sibuk dengan rumahnya sendiri, takut-takut bantaran sungai atau selokan depan rumah akan menenggelamkan mereka.

Ah, dasar orang-orang penakut! Dulu aku menentang hujan, bahkan hujanlah yang aku nantikan, aku akan berlari-lari di antara rintik-rintiknya yang kian merajang. Aku biarkan dadaku yang telanjang dibelai atau bahkan ditusuknya, aku tak peduli bila kemudian aku sakit dibuatnya. Aku jatuh cinta pada hujan, bahkan juga pada seorang perempuan! Ah, kemana anakku? apakah ia telah menjadi cerutu sepertiku? Kenapa pula sekarang kubenci hujan? Ada apa denganku?

Tiba-tiba hujan semakin akrab denganku. Orang-orang kantor melihat tingkah lakuku yang aneh, aku berlari di tanah lapang, kulepaskan dasi serta baju yang melekat di tubuhku. Aku ingin membiarkan dadaku yang telanjang dicumbui hujan seperti dulu dan aku ingin…

Kemudian hujan seakan memperjelas apa yang aku rindukan, perempuan hujan; istriku Alfia.

“Mas, benar mau ke kota?” tanya Alfia, istriku ketika hujan membuat kami semakin mesra bahkan ketika aku mengemukakan keinginanku untuk pergi ke Jakarta.

“Ya, kau lihat perabot rumah tangga kita, makan kita. Kita bahkan kekurangan untuk memberi susu kacong kita…,” ujarku sambil mulai membuka baju dan memamerkan tubuh kekarku di hadapannya.

Sebetulnya ekonomi keluarga kami tak begitu parah, karena kehidupan seperti ini hampir semua dirasakan oleh penduduk di desa ini. Satu-satunya penghasilan terbesar adalah bercocok tanam. Itupun kalau musim hujan tiba. Kalau tidak? Ah, semua ladang akan tampak kering kerontang bahkan tidak dibutuhkan. Air akan menjadi sangat mahal di sini. Karena air PDAM hanya akan mengalir 3 hari sekali. Cukup jauh dari standar keluarga sehat. Bahkan bila suplemen PDAM itu minim –walaupun kami sudah membayar dengan harga yang mahal untuk takaran air mentah- maka tidak jarang penduduk sini harus berjalan 3 kilo jauhnya untuk mencapai sungai lalu mengambilnya untuk kebutuhan sehari-hari. Mandi, cuci baju dan bahkan untuk di minum.

Nerama Mas?” tanya istriku. Nah, inilah mungkin solusi yang paling mudah serta ekonomis untuk mengatasi masalah air.

“Ya, bukankah air di kamar mandi kita telah menipis?” jawabku padanya. Kemudian ia mengangguk, sambil kemudian ia membawa beberapa ember ke muka rumah yang mulai mengucurkan air deras pada pangkal tempat air bergabung di sudut atap kami. Akupun berkali mondar-mandir dari kamar mandi ke tempat istriku yang sedang menadah air. Ia tersenyum, dan kemesraan kamipun semakin menjalar di sini. Kemesraan yang sama ketika hujan mempertemukan kami berdua.

Aku masih ingat, ketika entah untuk keberapa kalinya aku membantu ayahnya yang sudah renta menadahkan air untuk bak mandinya yang mulai kosong. Seperti kebanyakan pemuda di kampung ini, hujan merupakan anugrah yang luar biasa bagi kami. Kami selalu merayakannya dengan berlari-lari kecil di embong, agar hujan leluasa menjamahi tubuh kami.

Ada pula di antara kami yang menyempatkan untuk melihat sungai kecil yang mengalir mengitari kampung kami, mungkin saja ranting atau daun bambu telah membuat genangan air itu menjadi mampet. Kalau sudah mampet, kamilah yang pertama kali mengatasinya. Walaupun ini terlihat main-main, namun dalam berkerja kami selalu serius menghadapinya.

Nah, disela itulah aku selalu menyempatkan nerama di rumah ayah Alfia, kasihan aku pikir ketika itu. Orang setua itu hidup sendiri, walaupun ia bercerita padaku tentang anak-anaknya yang hidup bahagia di Kenjeran, Surabaya. Salah satunya tentang Alfia. Ah, ia selalu cantik di hadapanku ketika hujan.

Maka, ketika hujan meraba desaku yang berada di pelosok Madura. Aku menemukan wajah Alfia di rumah itu, ia belum lama kembali dari Surabaya. Seperti biasa aku nerama di sana. Saat aku ajak ia ikut nerama bersamaku, ia menggeleng pelan seraya menebar senyum padaku. Mungkin ia agak aneh melihat hal ini. Hal ini tentu tidak ada di Surabaya atau Bandung sekalipun. Namun, ketika ayahnya menyuruhnya membantuku, ia pun mulai memberikan ember dan menadahkan hujan untuk kemudian aku bawa ke dalam kamar mandi miliknya. Itulah saat-saat terindah bagi kami, awal percintaan kami, dan awal aku menyebutnya sebagai perempuan hujan.

Mungkin ayahnya membaca rasa yang bergumul dalam hatiku, maka pada suatu ketika ia memancingku dengan beberapa pertanyaan yang membuat wajahku memerah di hadapan Alfia, begitupun dengannya. Ah, pada saat itu pun hujan menari di antara percakapan kami.

Namun, kenapa aku saat ini begitu membenci hujan? Aku pikir, akulah yang salah, aku telah dipecundangi oleh kehidupan! Hujan selalu membawaku kepada kerinduan yang sama, kerinduan akan perempuan hujan. Ah, bahkan aku rindu menuangkan air hujan di kamar mandi rumah kami.

Kurasakan, tiba-tiba kerinduanku pada perempuan hujan semakin membuncah, kenapa kesadaran ini baru timbul ketika Sari, sekertaris kantorku mulai memelukku seperti hujan? Aku menghempasnya begitu saja. Selama ini, cukuplah perselingkuhan ini kuakhiri. Kota telah membuatku menjadi manusia dasi!

Teringat di kepalaku, berapa tebasan celuritkah yang pantas kuterima untuk satu perselingkuhan buta? Entahlah, namun aku yakin kau tetap perempuan hujan yang sama.***

Keterangan:

Nerama: menadahkan air hujan yang jatuh lalu memindahkannya ke dalam kolam

Kacong: sebutan untuk anak laki-laki

Embong: jalan raya

Iklan

1 thought on “PEREMPUAN HUJAN”

  1. Identitas cerpenmu sudah bisa saya rasakan, aku suka dengan cara bercerita kamu… ada lomba infokan dong
    nomerku tetap yang simpati yang akhirnya 801 kok rif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s