Atap Sastra

SAYA INGIN MENULIS HINGGA SERIBU TAHUN NANTI

//01/

Saya suka menulis. Menulis adalah sebuah kegiatan yang universal. Semua orang bisa melakukannya, tidak terkecuali, ras, suku, atau jenis kelamin, dicampakan. Semua orang sama dalam hal tulis menulis. Karena hal itulah saya lebih memilih kegiatan menulis ketimbang yang lain. Karena selain menulis itu menambah wawasan saya juga begitu bermanfaat bagi saya.

Begitu pentingnya menulis. Hingga saya begitu ingin menjadi penulis, ingin menorehkan seberkas tinta di atas kertas walau hanya bertuliskan abjad “A”. Saya jadi teringat pada salah satu tokoh islam yaitu khalifah Ali Ibnu Abi Thalib. “Ana abdun man alamani harfan” (saya hamba bagi siapa yang mengajari saya walaupun itu hanya satu huruf). Kalau toh, Ali berbicara seperti itu, karena ia tahu betapa pentingnya ilmu baginya. Maka saya akan berbicara lain “Saya akan memberinya uang berapapun itu, kalau ia bisa mengajari saya menulis”. Karena saya tahu begitu pentingnya menulis bagi saya. Maka saya relakan uang berapa saja bagi siapa yang dapat mengajari saya menulis. Sebab nilai hamba pada zaman sekarang tidak begitu dipentingkan ketimbang uang.

Jika kita Berbicara tentang menulis memang tidak bisa lepas dari masalah budaya. Dan budaya itu sendiri tidak mungkin lepas dari sejarah. Sejarah kepenulisan sejak dahulu memang sudah ada, dan karena tulisan itulah yang membentuk sebuah sejarah. Sejak zaman Mesir Purba tulisan sudah ada. Ketika itu tulisan hanya berbentuk sebuah ukiran yang merupakan sebuah bahasa Mesir Kuno, tulisan itu disebut hieroglyph yang mempunyai arti tulisan suci. Tulisan ini biasanya sering kita jumpai di tembok-tembok dengan cara dipahat. Tapi ada pula tulisan hieroglyph yang ditulis di atas daun papyrus. Gulungan papyrus itu sendiri dijadikan sebuah kliping yang kemudian ditaruh di perpustakaan. Makanya jangan heran bila di zaman Mesir Kuno hampir setiap perpustakaan memiliki pabrik yang membuat papyrus. Negara Indonesia pun tidak mau kalah dengan tulisan Mesir Kuno. Kita punya tulisan Jawa Kuno yang terkenal dengan tulisan sangsakerta.

Ya, memang aktifitas tulis menulis tidak lepas dari budaya dan budaya tidak akan lepas dari sejarah. Karena, semua hal itu seakan rangkain rel yang harus dilewati oleh setiap lokomotif , tidak terkecuali.

//02/

Saya sadari, bahwa diri saya sekarang adalah seorang santri, santri yang terkukung oleh beberapa peraturan pondok yang begitu mencekik. Tapi saya lebih sadar lagi bahwa karena saya santri yang dua puluh empat jamnya diatur waktu. Saya merasa, saya lebih tertantang, tertantang untuk menulis, untuk berkarya. Menciptakan sebuah cerita pendek, puisi ataupun esai. Sebab selama pengamatan saya beberapa tahun ini, bahwa kaum santri banyak turun ke dunia tulis menulis dan karena hal itu pula saya jadi terpacu untuk dapat menulis dengan baik, a good creation.

Semisal, Jamal D Rahman, seorang santri Pond Pest Al-Amien Prenduan yang kini menjadi pemimpin redaksi Majalah Sastra Horison, ini mampu menorehkan tinta dan menjelmanya menjadi kata-kata yang begitu indah, kata-kata yang mempunyai artian begitu luas tapi lugas. Kebanyakan puisi yang dibuat olehnya adalah bertema relijius, penuh dengan unsur sufistik. Puisi relijiusnya masih terus bermekaran di antara puisi-puisi yang berbau ‘hot’ yang saat ini digandrungi oleh beberapa sastrawan muda Indonesia dengan dalil bahwa puisinya itu bernilai estetika, bernilai seni. Ia terus berusaha mempertahankan puisi Indonesia dahulu yang dipropori oleh Hamzah Fansuri, ia seperti dilahirkan memang untuk menggantikannya. Lewat kumpulan puisi yang berjudul Reruntuhan Cahaya ia seakan-akan membuktikan bahwa dirinya adalah penulis yang terlahir dari rahim pesantren yang penuh dengan nilai relijinya.

Selain itu, ada pula sastrawan yang juga terlahir dari rahim pesantren yang kini kita kenal dengan sebutan Gus Mus. Gus Mus yang nama panjangnya adalah Mustafa Bisri ini mampu menggoyak dunia sastra kita. Pasalnya kebanyakan dari tema cerpen yang diangkatnya tidak jauh dari dunianya sendiri, yaitu dunia pesantren.

Pria kelahiran rembang ini. Selain menjadi kyai, ia juga terkenal sebagai cerpenis dan penyair juga peseni yang cukup disegani. Cerpen-cerpennya punya karekteristik tersendiri. Karena rata-rata dalam cerpennya mengangkat problema tentang ‘darah biru’ atau lebih dikenal lagi dengan Gus (bahasa jawa, panggilan untuk anak kyai). Ia dengan begitu menariknya membuka ‘tabir-tabir’ yang selama ini menurut kita terlalu tertutup untuk sekedar mengetahui dunia pesantren. Tapi, sekarang ia dengan bahasanya yang lugas, dapat menelanjangi seluk-beluk pesantren yang temaram. Ia dengan mudahnya membuatkan cahaya di antara kegelapan itu, hingga jalan itu menjadi terang dan mampu dilalui oleh siapa saja. Ia dapat mengemas cerpen-cerpennya hingga begitu menarik dan kadang membuat pembaca menyunggingkan mulutnya.

Semua cerpen pesantrennya terkumpul dalam sebuah antologi tunggal yang berjudul Lukisan Kaligrafi terbitan Kompas. Selain itu, puisi-puisinya tak kalah menarik dari cerpen-cerpennya. Puisi-puisi yang berbentuk relijius penuh dengan penghayatan-penghayatan yang begitu mendalam hingga dapat membuat pembaca merenungi nasibnya. Sedangkan puisi yang berbentuk kritik dibuatnya sebegitu ngocolnya, hingga orang yang ia kritik tak merasa dirinya dikritik. Terlintas pada bait-bait puisi Negri Bokong yang begitu tajamnya mengeritik bangsa inim, yang masih dalam temaram lampu lima watt yang semakin lama semakin meredup.

Semua itu ditulis oleh kaum santri, bukan yang lain. Ini membuktikan bahwa kaum santri pun mampu bersaing dalam kancah sastra dan jurnalistik. Beberapa penulis yang berasal dari pesantren yang kini bertengger di dunia sastra Indonesia adalah Ahmad Munif, Maftuhah Jakfar, Nanden Lilis, dan lain sebagainya.

Tulisan mereka memang begitu menggagumkan, terutama bagi saya sendiri. Membuat saya semakin iri, kapan saya bisa menulis seperti mereka? Tulisan mereka memang mempunyai bobot yang cukup besar, tidak hanya tulisan belaka yang hanya meminta pamor publik. Bahkan ada sebagian dari kaum santri membuat heboh dengan pemikiran-pemikirannya dan idiologi-idiologinya yang berilirian keluar dari rel ‘adat’ pesantren. Mereka mengumpamakan bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj nabi Muhammad itu adalah hanya sekedar budaya orang arab saja untuk merayakan kelahiran rasulullah, bukan budaya orang muslim. Jelas pendapat ini mendapatkan ‘jawaban’ yang begitu banyak oleh para tokoh ulama Indonesia.

Salah satu tokoh yang cukup membuat heboh dengan pemikiran-pemikirannya yang begitu kontroversional. Yaitu Zuhairi Misrawi, begitu ia dikenal. Seorang yang lahir di pulau garam ini, yang juga lulusan pesantren. Dengan goresan penanya mampu membuat gempar dunia islam Indonesia. Ia merupakan santri yang berfikir progresif yang menyadari peranannya dalam rana sosial-kemasyarakatan. Sebagai pemikir, ia aktif dalam beberapa komunitas pemikir islam. Seperti P3M, Kordinator Program Islam Emansipatoris dan direktur Lembaga Studi Islam Progresif (LSIP), Jakarta. Bersama beberapa kolega-koleganya. Seperti Nurkholis Majid, Azyumardi Azra, Mun’im A. Sirry yang rata-rata dari mereka adalah lulusan peasntren, santri.

Begitu kharismatiknya ia, setelah pulangnya dari kuliahnya di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Yang begitu banyak sokongan dan sumbangsi pemikir-pemikir muslim dunia. Seperti Syaikh Muhammad Tantowi, Hasan Hanafi, Ali Harb, dan lain sebagainya. Hingga tulisan-tulisannya bernilai tinggi. Beberapa buku yang telah dieditorinya telah banyak beredar, seperti halnya Dari Syariat Menuju Maqashid Syariat. Ia juga sempat memberi kata pengantar sebuah buku yang begitu fenomenal. Fiqih Lintas Agama, adalah sebuah buku yang merupakan gebrakan dalam dunia ijtihad keagamaan, yang mencoba menempatkan penafsiran teks-teks suci yang aktual dalam pergaulan global, dengan lebih menekankan pada universalisme doktrin, kemaslahatan umum, dan komunitas setara (ummatun wahdatun). Secara umum, buku ini berusaha merekrontuksi ulang fiqih klasik, kemudian merujuk kepada semangat awalnya: inklusif dan progresif sebagai komitimen untuk membangun toleran sesame umat beragama. Dan tentunya fenomena pluralisme dan multikulturalisme tak dapat dihindarkan, dalam artian fiqih dapat membawa pesan-pesan moral untuk mengukuhkan keberagaman itu sendiri. Buku ini sempat menjadi bahan kontroversi para ulama, yang mengganggap buku itu dapat mengkafirkan keislaman seseorang.

Selain itu, ada pula yang melanggar dari ‘adat’ pesantren yang malah terjun ke dunia yang kita anggap adalah dunia hitam, tapi anak muda sekarang malah menyebutnya Dugem (Dunia Gemerlap), padahal dunia itu membuat kita semakin tenggelam dalam bulir-bulir kesesatan. Moamar Emka, begitu nama penulis Jakarta Undercover Sex In The City yang telah menjadi dua seri. Ia dengan beraninya membuka blak-blakan dunia yang dahulu hanya diketahui oleh golongan tertentu, yaitu dunia malam. Dunia yang penuh dengan lampu yang berwarna-warni berpendar di dalam diskotik kini dibukanya lebar-lebar. Dengan gaya tulisannya yang bikin ‘merangsang’ para pembaca untuk lebih mendalami dan merenungi begitu banyak dunia hitam yang ‘terselimut rapi’ di ibu kota kita yang kita tidak ketahui. Ia juga menyertakan harga setiap hiburan untuk sebuah kenikmatan yang semu itu, yang harganya membuat mulut kita menganga.

Dari pesta ke pesta ia hadiri untuk sekedar mengetahui aktifitas warga ibu kota –pendatang ataupun bukan. Ia relakan uangnya berjuta-juta untuk sekedar mendapatkan aktualisasi praktek protitusi di ibu kota Negara kita yang juga ibu kota Negara saya. Penulis yang kelahiran Ponorogo ini, konon adalah santri yang pantang menyerah untuk menerima informasi ketika di pondoknya hingga ia mendapatkan hukuman, sekarang menghasilkan buah keberanian bagi dirinya, untuk siap bertanggung jawab dari langkah yang ia telah lakukan. Kini, buku-bukunya telah beberapa kali dicetak ulang dan menjadi salah satu buku yang termasuk Best Seller di hampir setiap toko buku di ibu kota. Hingga dapat membakitkan gairah menulis dan mengkaji masalah propitusi dan sex di ibu kota. Yang kemudian diikuti beberapa penulis lainnya dengan tema yang hampir sama. Yaitu tema sex. Beberapa buku yang ikut meramaikan irama sex yaitu Ayam Kampus, Sex At The Phone. Kareana mereka –para penulis, melihat begitu lakunya bahan bacaan yang memuat tentang industri sex. Sehingga merekapun mulai ‘meniru’ dengan gaya yang berbeda dan sajian yang berbeda pula.

//03/

Para penulis sekarang mulai merasa bebas dan tentram bila menerbitkan bukunya, mereka tidak khawitir akan dipenjara seperti dahulu. Di zaman rezim Orde Baru yang dengan begitu banyak kekangan, dengan membatasi penerbitan buku. Setiap buku harus memenuhi keriteria yang tidak menyinggung Negara. Padahal fungsi tulisan dahulu adalah sebagai suara yang paling keras di dunia untuk menuntut ketidakadilan, ketidaksewenengan para aparatur Negara yang memperlakukan rakyatnya dengan begitu sengsara. Menyiksa, memenjarakan keliberalitasannya, menginjak hak asasinya sebagai manusia, yang itu padahal tindak pindana yang begitu sadis. “Karena seni sesungguhnya pemberontakan,” kata Albert Camus, seorang filsuf dan seniman Prancis. Mereka sadar bahwa dengan keberadaan kaum intelektual yagn menyebarakan karaya-karyanya yang bernada kritik atau protes-protes. Kepemimpinannya akan tergoyah atau bahakan bisa lengser. Mereka tidak segan-segan merobek, mebakar, bahkan mendroup kembali buku-buku yang telah disebar luaskan, dan tak segan-segan menangkap para orang yang berani menerbitkan buku itu. Hal seperti itu di alami oleh tiga orang aktivis dari Yogyakarta, Bonar Tigor Naipospos, Bambang Isti Nugroho, Bambang Subono. Mereka ditangkap lalu dipenjarakan bertahun-tahun karena mengedarkan buku Rumah Kaca, karya Pramoedya Ananta Toer. Pramoedya Ananta Toer sendiri telah beberapa kali keluar masuk penjara karena salah satu bukunya yang sempat beredar yaitu Hoa Kiau Di Indonesia. Penahanan ini didahului dengan keluarnya PP 10/60, sebuah peraturan presiden yang sifatnya rasialis, dalam rangka menghalau kaum minoritas etnis cina dari usaha mereka di wilayah Indonesia. Pramoedya menjadi salah satu orang yang tampil untuk melakukan perlawanan terhadap hal itu, ia menunjukan perlawanannya dengan membuat artikel-artikel yang dimuat dalam surat kabar Berita Minggu, yang kemudian dibukukan dengan judul Hoa Kiau Di Indonesia.

Akibatnya, ia harus berhadapan dengan undang-undang PP 10/60 itu, ia dipanggil oleh PEPERTI (Penguasa Perang Tertinggi), dan bukunya yang telah beredar itu segera dicabut dari peredarannya. Sebelum disekap di RTM (Rumah Tahanan Militer) tanpa proses sebagai mana mestinya. Ia diintograsi oleh Mayor Sudharmono. Setelah itu ia dipindahkan ke penjara Cipinang karena dianggap sebagai ‘pengacau’ di RTM. Kemudian beredar berita tentang penyekapan Pramoedya Lewat pers yang kemudian diberitakan. Lewat radio itulah Pramoedya baru tahu bahwa dirinya akan di penjara dengan surat penahanan yang ditanda tangani oleh A. H Nasution.

Tak ada karya fiksi satupun yang dibuatnya berdasarkan pristiwa ini, akan tetapi ia hanya menghasilkan sebuah buku harian yang ditulisnya di dalam penjara Cipinang. Namun begitu naas baginya, karena buku itu hancur pula dalam peristiwa 1965. di tahun ini untuk yang ketiga kalinya Pramoedya harus masuk tirai besi. Kali ini ia ditahan oleh pemerintahan Orde Baru pimpinan Soeharto, setelah pemberontakan PKI -yang lebih dikenal denga peristiwa GETAPU-gagal.

Tepat pada tanggal 13 oktober, rumahnya dikepung dengan gerombolan pemuda yang berkedok topeng. Kemudian ia diculik oleh tim tentara dan polisi yang disertai dengan penghinaan dan pemukulan, antara lain dengan gagang tommygun. Akibat pemukulan ini, pendengarannya menjadi rusak. Selain itu, semua harta benda yang ada di rumahnya dirampok, dan kumpulan naskah yang belum diterbitkan (koleksi buku yang mencapai 5.000 jilid beserta dokumen sajak abad lalu) di musnahkan.

Begitu malang memang nasibnya, tapi ia dengan semangatnya yang tinggi ia masih sempat menulis ketika di pulau tempat ia dipenjara. Bahkan beberapa karyanya terinspirasi oleh peristiwa yang dialaminya. Seperti naskah Perburuan dan Keluarga Gerilja yang sempat diselundupkan melalui seorang yang dikenalnya sendiri di penjara itu juga, Prof. Mr. G.J. Resink.

Sebagai seorang penulis yang sering terkena ‘malapetaka’ ini, dengan beberapa penangkapan yang membuatnya depresi, hingga memberi corak pada karya sastranya sebagai salah satu gaya yang sering dipakai oleh para penulis ulung dunia seperti John Steinbeck, William Saroyan, Lode Zielen, dan terutama Maxim Gorki. Yaitu gaya realisme sosialis. Pramoedya yang belum lama ini memperoleh penghargaan sastra dari warga Norwegia ini, yang juga pernah mendapat penghargaan dari Freedom For Write Award (1988), The Fund For Free Expression Award (1990), dan Magsaysay (1995). Ia sebagai penulis yang beberapa kali tertimpa penderitaan, yang sering kali terbebaskan oleh nuraninya untuk terus menulis sebagai mana dikatakannya sendiri,

Dengan patiraga itu si kawula datang sang gusti: inilah diriku, kukembalikan semuanya kepada-Mu; ambillah semua, bunuhlah kawula ini sekarang juga kalau memang sudah tak berguna bagi kehidupan. Ya, memang sengaja aku hendak bunuh diri dengan bertapa.

Begitulah ia melukiskan kegetiran yang terus ditimpa olehnya, melukiskan dengan penuh hati yang dirundung penyiksaan, terutama terhadap karya-karyanya.

Tak banyak kini karya-karyanya yang telah beredar, tapi saya salut kepadanya, karena dalam keadaan seperti apapun ia masih pada kondisi stabil dalam hal menulis. Ia tak perduli begitu gelapnya kehidupan yang saat itu ia lalui –penjara. Tapi ia tetap pada konsistensinya untuk menulis, untuk dapat berbicara, menyerukan keluhan yang ada di hatinya, melalui sebuah cara. Menulis.

Dengan jerih payahnya itu ia berhasil merampungkan beberapa roman, novel, dan kumpulan cerpennya dalam bentuk buku. Perburuan (1950), Keluarga Gerilja (1950), Di Tepi Kali Bekasi (1951), Subuh (1950), Pertjikan Revolusi (1950), Korupsi (1954), Midah Si Manis Bergigi Emas (1954), Tjerita Dari Djakarta (1957), dan terakhir Gulat Di Djakarta (1953) yang ia diterbitkan melalui usaha penerbitan sendiri. Begitulah Pramoedya dalam suka maupun duka ia terus bisa menulis, tanpa ragu sedikitpun.

Menjadi penulis memang tidak mudah, menjadi penulis harus siap untuk digojlok apabila memang karya kita itu membuat banyak kontoversial. Bahkan akan lebih dari sebuah gojlokan, bisa saja akan terjadi penyiksaan, penyekapan, atau yang lainnya saperti yang di alami oleh sastrawan kita Pramoedya Ananta Toer yang baru saja saya bahas. Tapi kita tidak perlu takut, sebab sebuah permasalahan tidak untuk kita hindari tapi untuk kita lawan.

Seorang wartawan RCTI Fery Santoro, ia tahu akan retesiko propesinya itu dan ia juga tahu bahwa dengan pekerjaannya itu ia bisa saja mati. Sebagai reporter yang bertugas di Aceh. Sebuah kota yang tidak pernah henti-hentinya melakukan genjatan senjata terhadap tentara republik Indonesia yang diplopori oleh GAM (gerakan aceh merdeka), ada kemungkina ia tertembak oleh peluru nyasar lalu mati di sana, atau ditawan oleh pasukan pemberontak –GAM. Semua kemungkinan itu ia ketahui. Tapi demi mendapatkan sebuah berita yang aktual, yang itu keluar dari tinta penanya sendiri. Ia menepiskan kemungkinan-kemungkinan itu dari kepalanya. Ia menepiskan wajah istri dan anak-anaknya yang setiap waktu menantikannya untuk dapat makan bersama di sebuah tempat yang cukup mewah, atau sekedar saling melepas rindu setelah melakukan tugasnya yang berat dan penuh tantangan itu. Ia berusaha untuk melupakan semua itu dengan terus menjalani pekerjaannya seikhlas mungkin. Dan memang itulah yagn terbaik bagi seorang jurnalis, ia tahu segala resiko, tapi ia akan terus melakukan pekerjaan itu tak peduli maut menghadang di depan mata. Sebab ia tahu makna filossofis dari pekerjaannya, kalau dimisalkan seperti pekerjaan seorang sopir maka ia mati katika ia menyetir. Jarang sekali seorang sopir mati di waktu selain pekerjaan itu. Dan mungkin hal itulah yang diambil oleh Fery. Bahwa, kalau toh ia mati saat ia bekerja maka ia akan rela. Sebab keamatiannya akan menjadi kematian yang mulia, kematiannya yang berarti.

Hamid Jabbar, penyair ini mengorbankan seluruh hidupnya dengan puisi, bahkan ketika ia mati pun ia sedang membaca puisi di sebuah acara yang bertemakan Malam Dies Natalis Ke-2 Universitas Islam Negri (UIN) Syarif Hidayatullah. Ketika itu, ia bersama beberapa sastrawan lainnya memabacakan sebuah puisi, sampai pada bait walaupun Indonesia hancur, kita harus tetap bernyanyi! Ia kemudian jatuh terduduk, lalu merebahkan badannya. Semua penonton bersorak. Sebab mereka menganggap itu hanya sebuah adegan Hamid untuk mendeklamasikan puisi. Tapi ternyata itu bukanlah sebuah adegan pertunjukan, melainkan adalah adegan yang nyata. Ia meninggalkan dunia ini dengan adegan yang begitu indah, ia mengakhiri hidupnya dengan puisi. Hamid jabbar yang terkenal dengan beberapa pusi parodinya yang terinspirasi dari sebuah kejadian yang ada di Indonesia. Seperti halnya judul puisi proklamasi 2, yang ditulisnya pada tahun 1998 setelah Presiden Soeharto menghentikan bantuan Belanda melalui IGGI dan kemudian membentuk CGI. Yang menurutnya adalah sebuah kemerdekaan untuk kedua kalinya, dengan gaya melesetkan teks proklamasi, ia membuat sajak itu.

Begitulah Hamid Jabbar, hidup untuk puisi, mati untuk puisi. Saya ingin seperti mereka semua, menulis selamanya, selama gas CO2 masih terus menghembus dari paru-paru saya. Selama Dajjal masih belum keluar dari sarangnya, selama Malaikat Israfil belum meniup terompetnya. Aku ingin menulis hingga senja umurku nanti, begitu kata sastrawan Taufik Ismail.

Saya ingin menulis hingga seribu tahun nanti. Begitu kata saya…

Iklan

2 thoughts on “SAYA INGIN MENULIS HINGGA SERIBU TAHUN NANTI”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s