Cerpen

TERORIS!

Sonip dan Mahdi menyetop bis kota. Ketika itu jam sudah menunjukan pukul sebelas malam. Sudah terlalu malam, ujar Sonip. Sebenarnya pengajian itu selesai tepat pukul sembilan, andai saja mereka tidak terlarut dalam diskusi panjang persoalan teroris pemboman Bali. Tapi, ya sudahlah yang lalu biarlah berlalu.

Ente ngantuk Di?” Tanya Sonip pada Mahdi yang duduk di sampingnya. Mahdi mengangguk.

“Dasar kerbau! Bukannya ente tadi tidur ketika berangkat ke pengajian?”

“Iya, kalo segitu bagi ane kurang,” jawab Mahdi sembil lalu mengatupkan kedua bola matanya.

Tak lama kemudian Sonip sudah mendengar suara dengkuran temannya itu. Sonip hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia tidak habis pikir dengan temannya yang satu ini. Kerjaannya selalu tidur. Kalau di kampus tidak ada dosennya, dia juga tidur.

Sonip memandang jalan-jalan kota yang semakin malam semakin ramai. Banyak pemuda dengan mengendarai berbagai mobil mewah datang ke kafe-kafe atau pub-pub sambil mengandeng ceweknya masing-masing. Ya Allah, sudah separah inikah kota ini? padahal dulu, ia masih ingat ketika ia masih remaja. Hampir setiap malam Sonip dengan teman-temannya pergi sambil membawa Al-Qur’an menuju mushollah untuk mengikuti pengajian.

Bus yang ditumpangi sudah sepi, lima orang penumpang baru saja turun. Tinggal ia Sonip dan dua orang yang duduk di depannya. Suasana begitu sepi, tiada suara lain yang terdengar kecuali hanya suara mesin bus yang menderu yang sesekali diselingi suara-suara musik yang menggelegar dari tempat hiburan yang dilewati.

Sonip mulai menguap, sepintas masih terbayang perdebatan mereka sehabis pengajian bersama dengan kedua temannya yang lain. Ardi dan Misbah berpendapat pemboman di Bali yang kedua itu bisa dibenarkan. Mereka memang cukup keras dalam hal ini.

“Itukan mungkar! Wajar dong kalo mereka mengebomnya,” kata Misbah sengit.

Berita tentang pemboman di Bali kembali menggemparkan Indonesia. Perdebatan tentang siapa pelaku pemboman Bali tersebut selalu menjadi perdebatan yang seru di kalangan aktifis. Tidak terkecuali bagi keempat pemuda ini.

“Tidak bisa begitu. Islam itu agama yang membawa kedamaian. Kita gak boleh berbuat seperti itu!” seru Sonip tak kalah sengit.

“Masak kamu rela negara kamu ini terus menerus dibumbui dengan mungkarat. Ini virus Nip, virus!” kini Ardi menambahkan, teman ngaji yang satu ini memang sedikit kritis dan paling tidak suka dengan berbagai mungkarat yang terjadi akhir-akhir ini.

“Ya, virus itu harus dimusnahkan. Jangan sampai virus itu menyebar kepada pemuda kita. Ingat Nip! Pemuda kita sudah banyak yang hancur,” Misbah berseru. Matanya berkilat-kilat, seakan-akan apa yang diperbuat teroris untuk mengebom itu patut ditiru dan dilakukan oleh, kalau perlu semua kaum muslimin. Tidak perlu toleransi, kita terjajah karena kita terlalu banyak toleransi, desisnya dalam hati.

“Apa gak ada jalan lain selain itu? Itu terlalu berisiko. Bisa-bisa orang yang gak berdosa juga ikut kena. Kenapa kita gak pakai cara yang aman kalau itu ada?” Sonip beralasan. “Seperti memberi penyuluhan pada para remaja kita. Agar mereka kuat imannya dan gak mudah tergoda. Gimana? Bukankah itu lebih baik? Nah, ini baru di sebut Islam. Bukan begitu teman-teman?” lanjutnya berharap menuai tanggapan positif dari teman-temannya.

“Rupanya kamu kurang meneliti. Berapa banyak aktifis Islam yang melakukan dakwah pada mereka, tapi hasilnya? Ya, sedikit. Lebih banyak yang gak sadarnya!” terang Misbah kemudian.

“Itukan masalah bagaimana kita berdakwah. Masalah hasil yang tidak optimal itu sudah biasa. Rasulullah saja ketika berdakwah tidak langsung banyak pengikutnya. Apalagi kita umatnya?” kini Mahdi ikut nimbrung.

Sonip menguap, ia rasa ia sudah mulai mengantuk. Sebenarnya, betul juga apa yang dikatakan oleh Misbah, berapa banyak aktifis Islam yang berdakwah untuk menuju kebaikan, tapi yang sadar hanya sedikit. Tidak lebih dari setengahnya. Tapi bukankah itu yang disebut perjuangan. Sebagaimana Nabi ketika menyerukan agamanya. Bahkan, Nabi saja tak dapat membawa pamannya untuk masuk Islam.

Kepalanya mulai penat tentang berbagai peristiwa pengeboman yang ada di negri ini. Belum lama kasus bom di Kedubes Australia. Kini kembali Indonesia digoncang bom, dan itu tempatnya di Bali. Ironisnya pelakunya adalah anak negri ini. Ia membunuh saudaranya sendiri. Lebih dari itu, setiap peristiwa pemboman agama Islamlah yang dibawa. Padahal Islam bukanlah agama teroris. Islam adalah pembawa perdamaian. Jangankan membunuh manusia, membunuh pohon-pohonan saja dilarang oleh Rasul ketika dalam peperangan. Aku pikir mereka sudah menjadi Sumanto-sumanto modern yang memakan manusia dengan bom! lanjutnya dalam hati.

Samar-samar ia mulai menutup matanya, tapi sebelum ia terbuai dalam mimpi, ia masih sempat mendengar percakapan orang yang duduk di depannya.

“Kau siap Man?” ujar suara yang agak besar.

“Aku takut,” jawab suara yang satunya lagi.

“Kenapa harus takut? Bukankah kau ingin ke surga?”

“Ya, benar. Tapi aku takut kalau aku tidak bisa melaksanakan tugas ini dengan baik.”

“Kalau begitu permasalahannya, itu tidak apa. Tapi kalau kau takut untuk berjihad. Kau sungguh bukan seorang muslim sejati.” Masih dalam keremangan Sonip mendengar kata-kata itu. Kata-kata itu terdengar begitu miris di hati Sonip.

“Sebentar lagi kita sampai pada tujuan. Seperti yang telah kuajarkan, kau berjalan di tengah-tengah mereka. Semua gerak-gerikmu akan aku pantau. Bagaimana?”

“Aku tahu,” jawab suara itu begitu dalam.

“Bom itu akan meledak hanya dalam hitungan sepuluh menit, kau harus cepat! target yang tepat!”

Apa?! Bom? Tanya Sonip penasaran dalam hati. Apakah dia tidak salah dengar dengan ucapan dua orang yang duduk di depan mereka.

“Baik, aku akan berusaha.”

“Bomnya kau taruh di mana?” tanya suara berat itu kemudian.

“Di tas dan di tubuh,” jawabnya pasti. Tak lama kemudian mulai terdengar gerak-geriknya memeriksa tas dan tubuhnya. Sonip yang memperhatikan mereka mulai berkeringat. Bukan! Ia bukan takut. Tapi ia sekarang hanya berpikir bagaimana cara mencegah mereka.

Sonip, bergumul dengan berbagai macam pikirannya. Kalau aku mencegah sekarang kemungkinan besar mereka membawa senjata tajam, bisa-bisa aku dibunuh nantinya. Tapi apa yang harus aku perbuat. Apakah aku membiarkannya begitu saja, agar aku selamat? Ah, tidak, tidak mungkin hal itu aku lakukan. Aku tak rela bila nanti saudara-saudaraku sebangsa mati sia-sia terkena bom. Walaupun toh, kemudlaratan yang mereka lakukan akan hancur! Namun aku yakin, tidak semua orang yang mudlarat nantinya akan mati. Anak-anak kecil, bapak-bapak, atau ibu-ibu yang tidak berdosapun bisa saja mati karenanya. Harus berapa lagikah anak-anak kecil menjadi yatim, istri-istri menjadi janda? Dan kemanakah kelak mereka menggantungkan hidup? Ah, aksi bom bunuh diri kadang membuat kehidupan menjadi begitu hancur!

Belum selesai ia menuntaskan pergumulan pikirannya. Bis yang ditumpanginya sudah berhenti di suatu pusat keramaian kota. Sejenak ia mengintip, dua orang itu turun. Adrenalin dengan segera membasahi sekujur tubuhnya, bagaimana ini? Apakah ia akan membiarkan ini berjalan begitu saja. Namun apa yang bisa aku lakukan? Ia menatap orang yang berlalu lalang, ada pula yang bergandengan tangan. Glamour kehidupan kota, tampak sekali di tempat itu. Berapa wanita berpakaian minim menghiasi sepanjang bibir jalan. Betapa hancur kota ini? Akan tetapi baru sejenak ia melirik, ia segera melihat bayangan orang tua yang sedang berjalan dengan anak kecil, tidak sedikit bahkan diantaranya bersama ibunya. Kembali ia rasakan tubuhnya membasah. Perasaannya berperang antara mencegah atau tidak. Allah bagaimana aku harus berbuat? Ujarnya dalam hati.

Bis mulai berjalan perlahan meninggalkan dua penumpang yang baru saja turun. Sonip memperhatikan sejenak tampang wajah lelaki itu. Ha?! Bukankah itu Ardi dan Misbah?! Tanpa sempat membangunkan Mahdi, Sonip beranjak keluar dari bis. Ia melihat jam tangannya. Aku hanya punya waktu 10 menit, tidak lebih!

Dalam kepadatan malam itu, Sonip mulai mencari wajah Misbah dan Ardi. Namun tak ia temukan. Di mana kedua temanku? Ujarnya dalam hati. Kalau aku tahu itu kalian, sudah pasti aku cegah! Kembali hatinya berujar.

Menit terus berjalan, namun tak kunjung ia temukan. Sementara menit telah mencapai angka 9. Berarti hanya menunggu hitungan detik saja. Sonip bertambah keras untuk mencari mereka, tentu dengan detak jantung yang lebih cepat, sambil terus berpikir apa yang harus ia lakukan untuk menyelamatkan, minimal mereka yang tidak bersalah.

Hitungan detik kian menipis, tak ada waktu lagi, ujarnya dalam hati. Tinggal hitungan mundur 10 detik. Adrenalinnya semakin menjadi-jadi. Harus aku putuskan sekarang juga, aku harus teriak membubarkan semua orang ini. Ya harus!

“Awas ada bom! Cepat tinggalkan tempat ini!!!” serunya menjadi-jadi. Namun teriakannya itu hanya didengar sedikit orang. Dan sayangnya tak ada yang menggubrisnya. Mereka terus asik bercengkrama dengan malam yang semakin mengelam.

“Tolong, percayalah padaku! Sebentar lagi bom itu akan meledak!” kembali suara Sonip membelah dentuman musik house yang melenakan. Namun, tak sedikitpun mereka menggubris.

“Ah, dasar orang gila!” terdengar bisik kecil dari pemuda yang asyik berpasangan.

“Cari sensasi saja!”

Ia melihat jam tangannya kembali, tinggal 2 detik lagi. Gawat!!! Tak seorangpun yang menggubris. Sonip semakin bingung. Namun di tengah kebingungannya itu tiba-tiba seseorang memegang pundaknya. Ia terperanjak, ketika tahu siapa yang memegang pundaknya itu. Misbah dan Ardi tersenyum. Dan…

“Dar!!!”

Sonip terbangun dari mimpinya, keringat berpeluhan di sekujur tubuh.

“Kamu mimpi buruk yah? Ayo bangun, kita sudah mau sampai,” tegur Hamdi mendapati dirinya di tengah nafas yang terengah-engah. Ia mencoba melirik bis itu, bis sudah sepi.

“Misbah dan Ardi tadi pamit pulang waktu kamu tidur. Tapi bukannya rumahnya di Jati Luhur? Kok mereka turun di tempat diskotik itu ya?” terang Hamdi kemudian.

“Apa?!”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s