Esai

Akhirnya Kutemukan Mereka yang Hilang: Mencatat Cacat Orba Dalam Cerpen Jujur Prananto

Jika kita membaca cerpen-cerpen Jujur Prananto (JP), maka kita tidak lebih seperti melihat sebuah layar dalam sebuah bioskop yang manayangkan bagian-bagian cerita yang runut dan begitu menarik. Hal inilah yang membuat cerpen-cerpen JP menarik. Cerpen-cerpennya sangat filmis sehingga membuat pembaca nyaman dan enak ketika membacanya. Termasuk pada cerpen Akhirnya Kutemukan Mereka yang Hilang (AKMYH) yang akan kita bahas dalam tulisan ini.
Hal ini tidak mengherankan, bila kita melihat latar belakang JP. JP menyelesaikan kuliahnya di Jurusan Sinematografi di IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dan seringkali berkerja dalam produksi film-film layar lebar sebagai sutradara maupun sebagai penulis skenario. Misal saja film Petualangan Sherina dan Ada Apa dengan Cinta merupakan hasil tangan emasnya sebagai penulis skenario.
Hal lain yang meneguhkan angapan ini adalah dengan keluarnya film layar lebar Doa yang Mengancam pada awal 2009 ini yang diangkat dari judul cerpen yang sama yang masuk dalam cerpen pilihan Kompas bersamaan denan AKMYH.
Kehadiran JP dalam kancah sastra Indonesia tentu saja menambah khazanah kesusastraan yang kita miliki. Ia lahir pada 30 Juni 1960 di Salatiga. Sebagai penulis cerita pendek prestasinya tidak diragukan, cerpennya beberapakali terangkum dalam antologi cerpen pilihan Kompas. Meski JP sebetulnya lebih berprestasi di dunia perfilman karena pernah meraih berbagai penghargaan, salah satunya Piala Vidia lewat serial Kupu-kupu Kertas.
Sebagai cerpenis, cerpen-cerpen JP selalu menangkap probelmatika yang ada di masyarakat. Hal ini kita bisa tangkap dari berbagai cerpennya yang tersebar di berbagai media cetak. Maka tidak heran bila kemudian AKMYH lahir dari tangannya.
Meski topik dalam AKMYH adalah topik lama, yaitu menyoal kepemimpinan Orba (Orde Baru) yang berkuasa sewenang-wenang dengan ‘menghilangkan’ mereka yang dianggap mengancam stabilitas nasional. Tetapi JP berhasil membuat cerpen ini tidak lantas menjadi basi atau layu. Sebagai topik lama yang diangkat, maka JP berhasil membuat cerpen ini tetap nikmat dinikmati.
Cerpen ini memang dipublikasikan pada kurun waktu 2002, akan tetapi belum jelas tanggal pembuatannya karena penulis tidak mencantumkannya. Bisa saja bila kemudian cerpen ini telah jauh hari dibuat JP. Hanya saja, barangkali penulis tidak siap untuk mempublikasikannya atau barangkali media yang tidak siap menerbitkannya. Hal ini wajar, mengingat resiko yang begitu besar bila tetap memuatnya ke media massa. Bisa jadi, apa yang tadinya fiksi dalam cerita ini bahkan menjadi nyata. Mereka akan benar-benar hilang.
Alasan kedua adalah karena penulis ini mulai aktif menulis cerita pendek dari tahun 1985 sampai awal 1990. Maka tidak heran bila kita bisa menganggap kelahiran cerpen ini jauh sebelum cerita ini diterbitkan, bahkan bisa jadi, cerpen ini lahir saat banyak orang yang sengaja ‘dihilangkan’.
Sebagaimana penulis lain, sudah menjadi hal wajar bila seorang penulis menyikapi segala hal yang terjadi di sekitarnya sebagai sebuah inspirasi dalam melahirkan karya. Maka JP yang hidup pada zaman Orba dan ikut merasakan kecemasan sebagai seorang penulis yang memiliki keluarga merasa takut bila suatu waktu diculik entah ke mana. Perasaan inilah yang kemudian tertuang dalam cerita ini melewati tokoh Kamil dalam percakapan berikut ini.
“Kamu benar-benar ingin kembali ke Jakarta?” tanya mereka beramai-ramai.
“Tentu saja. Bukankah kita punya sanak-saudara di sana? Saya bahkan berkeluarga. Anak-istri saya menanti saya pulang.”
Memang cerita yang disajikan JP sedikit Absurd. Kental dengan nuansa supranatural. Dalam tokoh utama cerita ini, Kamil yang sudah mati merasa dirinya masih hidup seperti biasa dan dapat bertemu dengan teman-temannya yang hilang bahkan yang sudah lama sekalipun yang sesungguhnya pun telah mati. Namun dari awal cerita, JP membuat tokoh ini seakan memang benar-benar hidup. Membuat tokoh Kamil dan bahkan pembaca yakin bahwa Kamil hanya ‘direkayasa’ dengan peluru yang menembus dadanya. Karena setelah ia bangun. Kamil tak mendapati luka. Akan tetapi, jelaslah di akhir cerita ini bahwa tokoh Kamil telah meninggal. Hal ini pun dituliskan JP dengan sangat cerdiknya lewat narasi berikut ini.
“Benar sayang? Reza lihat ayah? Di mana? Bilang sama ayah, Reza sebentar lagi mau ulang tahun, ayah. Reza sayang ayah.”
Sekonyong-konyong tawa Reza terhenti. Lalu menangis keras dan menggapai-gapaikan tangannya ke arah pintu.
Meski cerita ini bersifat absurd, akan tetapi di sinilah kelebihan cerita ini, dengan demikian cerdiknya JP mengeritik soal penculikan lewat tokoh Kamil yang terus menerus mengyinggung soal protes dan jendral yang menculiknya secara halus namun tegas dan jelas.
“Kamu yakin mereka pelakunya?”
“Ya.”
“Kenapa tidak kamu laporkan ke teman-teman di kantor pusat?”
“Orang-orang ini cuma menjalankan perintah.”
Memang orba menyisakan luka yang mendalam bagi siapa saja. Terlebih bagi mereka yang dirugikan oleh berbagai peristiwa yang terjadi yang mengukung kebebasan pers. Kehadiran cerpen ini, selain sebagai sebuah memoar, juga sebagai sebuah masukan bahwa siapapun tak menginginkan tragedi kemanusiaan itu kembali terjadi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s