Catatan

KACA MATA UNTUK MEREKA YANG RABUN SASTRA (Refleksi Pengajaran di Sampang, Madura)

Jauh dari segala hiruk-pikuk kota. Kicau burung, klining sapi, barbaris bukit, berbentang sawah. Mungkin akan lebih tampak adalah kultur budaya yang kuat. Kerukunan yang dibangun dengan pondasi adat-istiadat.
Lebih dari itu, edukasi akan menjadi lebih terbelakang terspesifikasi pada bidang-bidang umum, baik itu IPS, IPA, B. Inggris atau bahkan B. Indonesia sekalipun. Sebab, lembaga-lembaga yang ada di desa, tepatnya di pedalaman merupakan lembaga-lembaga dengan corak islam yang kental. Untuk itu pelajaran agama, menjadi pelajaran prioritas yang amat mendominasi 70-80 % jam pelajaran.
Dari realita demikian, jelaslah bila kemudian pelajar-pelajar di sini banyak yang rabun sastra (mengambil istilah Taufik Ismail). Terlebih lagi, minimnya bacaan sastra di dalam perpustakaan sekolah membuat hal ini semakin memburuk.
Buklet Pengajaran sastra yang diseminarkan akan menjadi tidak begitu terpakai di sini. Karena sekalipun dijelaskan, mereka tidak paham. Bagaimana bentuk puisi atau cerpen, novel atau roman itu sendiri.
Saya merupakan guru tugas, di sebuah sekolah di daerah Kedundung. Sekitar 8 kilo dari kota Sampang, tidak terlalu jauh dari kota memang, namun di sini pun saya kesulitan mengajarkan sastra dengan cara yang tepat, apalagi di lembaga yang lebih jauh dari ini?
Lokasi kadang tepat untuk menjadi tolak ukur sejauh mana minimnya mereka mendalami sastra. Lokasi ini, bisa kita tinjau dengan 2 pertanyaan. Pertama, sejauh mana lembaga pendidikan itu berada jauh dari kota? Kedua, sejauh mana lembaga pendidikan itu berada jauh dari jalan raya?
Karena, hanya sebagian kecil lembaga dengan lokasi terpencil (Jauh dari kota dan jalan raya) memiliki SDM yang sepenuhnya mengetahui sastra.
Selain itu, sarana dan prasarana ataupun tenaga pendidikan berperan vital dalam mengembangkan sastra pelajar. Dengan adanya perpustakaan dan guru yang mempunyai kredibilitas tinggi dan kreatif akan mampu menanggulangi hal tersebut. Dan tentu saja, agar guru tidak bertepuk sebelah tangan, guru harus mampu memberikan motivasi pada anak didiknya untuk lebih mengembangkan sastra (minimal karya tulis) di manapun mereka berada.
Hal yang mungkin sulit dihadapi guru, adalah mengajarkan sastra, baik itu cerpen, puisi, novel dan roman. Sementara mereka tidak pernah membaca bahkan melihatpun tidak. Saat seperti ini, mungkin saat yang amat membingungkan, sementara keberadaan buku paket tidak juga muncul untuk meringankan beban ini.
Memvisualisasikan, mungkin menjadi solusi yang tepat. Tak seorangpun yang tidak pernah mendengar lagu atau musik, tak seorang pun yang tidak pernah menonton sinetron atau film. Inilah yang mungkin akan membantu secara lebih efektif. Kaca mata yang ringan dan mudah diimplementasikan dalam imajinasi anak didik. Lagu kita visualiasikan puisi, sementara cerpen, novel ataupun roman kita visualisasikan lewat film-film di TV.
Di manapun kita berada, hendaknya guru memang harus kreatif. Karena tidak selamanya sistem yang baku itu dapat menanggulangi problem-problem edukasi di ruang belajar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s