Esai

MENGUAK RAHASIA LA RUNDUMA

Pada tahun 2005, saat para penulis perempuan sedang gencar-gencarnya menyoal feminisme semisal Ayu Utami dengan Larung dan Samannya, atau Jenar Maesa Ayu dengan Jangan Main-main dengan Kelaminmu. Muncul nama baru yang mampu menarik perhatian khayalak sastra di Indonesia dengan cerpennya yang berjudul La Runduma, penulis itu bernama Wa Ode Wulan Ratna. Cerpen ini menjadi juara pertama dalam lomba cerpen yang diselengarakan CWI (Creative Writing Institute) bekerja sama dengan Menpora. Selain itu, cerpen itu kemudian terangkum dalam Indonesian Barättar, Swedia. Tak lama kemudian cerpen itu kembali dimuat, akan tetapi di media massa yaitu Republika.
Melihat pencapaian prestasi yang telah dicapai Wa Ode lewat cerpen La Runduma. Menarik sekali bila kemudian kita menilik dan menelaah, serta menilai faktor-faktor apa yang membuat cerpen ini mampu memenangkan lomba tersebut.

Teori Mimetik atau Teori Sosiologi Sastra
Bila kita merujuk pada alur dalam La Runduma. Maka sungguh ini sangat mimetik sekali. Karena apa yang ditulis Wa Ode merupakan upaya untuk mengeksplorasi budaya lokal yang selama ini sangat minim ditampilkan. Wa Ode yang memang memiliki hubungan darah dengan cerita yang ditulisnya, yaitu Buton, Sulawesi Tenggara.
Tidak salah bila kemudian makalah ini diarahkan pada pendekatan memetik tersebut serperti yang diungkapkan M. H. Abrams dalam A. Teeuw (1983:59). Tetapi, agaknya cerpen ini akan lebih menarik bila kita mengungkapnya lewat pendekatan sosiologi sastra. Karena teori ini menurut Albert Memmi dalam Segers (2008:70) menitik beratkan pada sosiologi genre, bentuk, tema, karakter, dan gaya.
Dalam makalah ini, penulis akan memfokuskan pembahasan pada tema dan gaya bercerita saja yang notabene menjadi kekuatan dari Wa Ode dalam cerpen-cerpennya.

Fenomena La Runduma
Apa yang diungkapkan Wa Ode dalam cerpen La Runduma, bukanlah hal baru dalam kesusastraan kita. Setidaknya bila kita menilik dari penggarapan tema lokalitas sastra yang penuh dengan nilai feminismenya. Wa Ode berusaha mengangkat harkat perempuan yang terkungkung budaya. Maka apa yang dilakukan Wa Ode tidak jauh berbeda dengan para seniornya Oka Rusmini (Tarian Bumi) dan Abidah El Khaleqi (Perempuan Berkalung Sorban).
Hanya saja, meskipun bukan hal baru, akan tetapi cerpen ini menyajikan suatu yang sebetulnya baru. Yakni setting Buton yang sangat minim digarap oleh penulis senior maupun muda. Maka pembaca, akan tersaji dengan suatu ritual adat yang unik namun membuat pembaca ingin ikut memberontak seperti yang dilakukan oleh tokoh aku dalam cerita ini.
Memang Posuo (proses peralihan dari remaja ke dewasa) merupakan ritual adat yang wajib diikuti oleh setiap gadis yang beranjak dewasa. Para gadis tersebut akan dipingit selama delapan hari, mengikuti tahapan semedi dari Bhaliana Yimpo sampai Mata Kariya. Barulah kemudian dimandikan dengan iringan tetabuhan gendang sesuai dengan jumlah perempuan yang dibaptis dewasa. Bila ada gendang pecah, maka dalam ritual itu menjadi pertanda atas adanya peserta posuo yang tak perawan dan itu sangat memalukan bagi keluaga manapun.
Di sinilah sebetulnya konflik inti dari cerita pendek ini selain juga konflik batin tokoh utama yang sedang menunggu La Runduma untuk melarikan diri dari upacara tersebut. Wa Ode berusaha mengungkapkan ketidakrelevanan upacara tersebut langsung di awal cerita sehingga membuat cerita ini langsung membuat pembaca ingin tahu cerita selanjutnya.
Aku masih perawan. Sungguh. Aku masih perawan! Tapi mengapa gendang itu bisa pecah, ayah?
Keputusan Wa Ode untuk membuat narasi yang provokatif di awal cerita merupakan keputusan yang tepat. Inilah gaya khas Wa Ode bila kita membaca cerita-cerita lain dalam kumpulan cerpennya Cari Aku di Canti (2008), sebut saja Bulan Malino, Cari Aku di Canti, dan Perempuan Nokturia.
Selain gaya tersebut, stilistika (alat ungkap) yang digunakan Wa Ode begitu puitis. Baik ketika melukiskan perasaan;
Run, tak ada kertas. Tapi aku menulisimu di setiap jengkal langkahku. Sudah lima hari aku bersama sepi. Telah kuketahui dari bisu semua teman-temanku yang ikut terjerat dalam upacara ini.
Atau bila kita membaca narasi Wa Ode ketika menggambarkan keadaan alam;
…Hutan-hutan di luar begitu rindang dibuai angin malam. Mungkin saja ada halimun yang melamun di pucuk pohon atau ada babi hutang mengais-ngais mencari sisa rezeki.
Di selangkangan malam ini aku menganga. Malam putih bagi perawan-perawan yang dikunci…
Selain kedua hal tersebut, Wa Ode melengkapi ceritanya dengan mengutip istilah-istilah daerah yang membuat cerpen ini ‘meyakinkan’ serta membuat pembaca masuk ke dalam budaya Buton yang magis dan penuh dengan nuansa spiritual yang tinggi. Kita akan disuguhi istilah-istilah baru itu seperti Posou, Suo, Sesi Pauncura, Parika, Bhisa dan lain sebagainya.
Dengan demikian, kekuatan tema digabungkan dengan narasi yang puitis serta pemakaian istilah adat merupakan rahasia tersembunyi dari kesuksesan cerita La Runduma.

Iklan

4 thoughts on “MENGUAK RAHASIA LA RUNDUMA”

    1. kita sudah bertemu, waktu di dkj pas peluncuran buku si murai dan orang gila. cerpenku orang-orang jakarta. bangga bisa satu buku dengan kamu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s