Cerpen

PUTRI

Dari ranting pohon jambu yang tergetar karena angin, Putri berusaha mencari jawab atas segala gelisah, atas gundah yang tak pernah berhenti mengoyak hatinya. Seperti angin itukah cinta? Setiap angin datang begetarlah segala yang ada didekatnya. Begetarkah hatiku? Pekik hati Putri lirih. Tidak, tidak sama sekali, lantas apakah ini? Kasihankah? Apakah cinta dibangun dengan rasa kasihan? Kasihan atau kasih, apa bedanya?
Tiba-tiba Putri merasa begitu tidak mengenal dunia. Tidak pernah tahu apa-apa tentang segala rahasia perihal hati yang terkoyak cinta. Tapi cintakah ini? Putri kembali menatap reranting yang dipetik bisik angin, seperti mencari jawab yang belum terungkap.
Putri menyandarkan tubuhnya pada dinding depan kamarnya. Asrama mahasiswa putri itu sudah lenggang. Malam memuncratkan cahaya bulan pada kolam. Ikan-ikan berenang seperti menjilati bulan. Daun jambu jatuh kemudian mengambang dalam kolam.
Putri mengela nafasnya, mengingat dan memutar ulang segala hal yang terekam mengenai Kalam. Lelaki itu, lelaki yang menyulam hidupnya dengan kesunyian, menyembunyikan masalalu yang kelam. Putri iba saat pertama kali bertemu dengannya, tak seorang pun yang berani mendekatinya. Mantan pecandu narkoba itu seperti makhluk mematikan yang siap menikam siapapun. Tapi itu tidak bagi Putri. Putri malah iba dan tidak tega melihatnya di bangku kelas duduk sendiri mematung.
Maka Putri tidak segan untuk kemudian menyapanya, memberikan perhatian lebih ketimbang temannya yang lain. Putri merasa mereka tak adil terhadap Kalam. Siapapun berhak memiliki hidup normal, menyapa dan disapa. Putri muak pada mereka yang mencemooh meski lewat mata saja. Muak sekali! Bukankah Tuhan menciptakan makhluk itu sama?
“Kamu harus hati-hati Put. Dia mantan pecandu,” nasehat temannya suatu ketika.
“Memang kenapa? Apakah kita lantas menjauhinya. Dia mantan bukan? Mestinya kita yang peduli padanya! Memberikan dukungan moral. Itu yang kalam butuhkan bukan?” cecar Putri seakan menuntut bahwa tamannya itu harus melakukan hal yang serupa.
“Kau memang tidak takut Put?”
“Takut kenapa?”
“Dia mantan pecandu.”
“Sudah kubilang bukan? Dia yang butuh kita!”
“Tapi…”
“Kamu juga harus bantu. Jangan menjauhinya seperti jijik begitu.”
“Hati-hatilah Put,” temannya lantas memperingatinya. Putri bahkan tak merasa ada bahaya yang akan menerkamnya. Sebab Putri tahu, Kalam tidak seburuk seperti apa yang dipikirkan teman-temanya yang lain. Putri tahu itu, karena Putri dapat membaca gerak bibir kalam. Gerak bibir saat ia berbicara pada putri.
“Tak ada seorangpun yang berani mendekatiku. Tapi kenapa kau mau? Aku itu hina. Aku itu kotor. Hidupku merasa lebih berarti sebab kamu Put. Kau tahu Put? Tak ada seorang pun yang mau mendengarkanku…”
Kemudian Kalam mulai bercerita soal keluarganya pada Putri. Putri mendengar tertegun. Sesekali memperhatikan mata Kalam yang mengalirkan air mata. Terlebih bila Kalam mengingat bagaimana bapaknya mengusirnya, masyarakat mengucilkannya. Mereka memberi tatapan yang mencemooh dan begitu tajam menusuk hatinya. Meski ia sudah tobat dan tidak lagi memakai benda terlarang itu.
Kalam juga menyesali pergaulannya yang membawanya ke dunia itu. Mulanya memang mencoba, lama-lama ketagihan. Mulanya gratis, lama-lama harus membeli meski harganya mahal. Mulanya ia tak mencuri, lama-lama ia mau tak mau harus punya uang meski itu didapatkan dengan mencuri atau menipu orang tuanya sekalipun.
Putri terus mendengarkan kisah Kalam. Ia tersentuh hatinya terlebih ketika melihat air mata Kalam yang mangalir deras. Air mata yang mengalirkan penyesalan yang membuat Putri juga mengalirkan air mata lirih. Membayangkan penderitaan dan kesedihan yang dialami Kalam.
“Terimakasih Put kamu sudah mau menjadi temanku.”
Ah, teman? Putri kembali melihat bulan yang kini berenang bersama ikan. Bulan yang sama saat pertama kali Putri mendapat pesan singkat dari Kalam. Sebuah pesan yang penuh harapan. Pesan yang bagi Putri tak mempunyai pilihan melainkan satu jawaban.
Kau sangat berarti bagiku Put. Maukah kau mendampingku?
Pesan itu benar-benar singkat. Tapi Putri sungguh kehabisan akal untuk menjawabnya melainkan satu kata. Kata yang sungguh berat untuk dijawabnya. Tetapi tak ada pilihan kata lain selain kata itu. Mudah saja sebetulnya kata itu. Ya, sudah cukup. Akan tetapi benarkah aku sanggup? Benarkah aku mencintainya? Benarkah ini yang terbaik untuk kehidupanku? Putri bertanya-tanya dalam hati.
Putri tahu harapan Kalam begitu besar terhadap dirinya. Puisi-puisi yang pernah Kalam kirimkan, Putri tahu maksudnya. Tidak lain bahwa Putrilah cahayanya, Putrilah harapannya, Putrilah hidupnya. Akan tetapi Putri hanya menikmati puisi-puisi itu tidak lain seperti sebuah permen karet yang ia kunyah tanpa ia telan ke dalam mulutnya. Puisi-puisi itu tak pernah Putri masukan ke dalam hatinya, tak pernah ia biarkan mengendap lama.
Putri kemudian mengiyakan kemauan Kalam. Putri sungguh tak tega menghancurkan harapan Kalam. Putri tak mau menyakiti hati Kalam yang telah ribuan kali tersakiti. Tak tega rasanya, terlebih Kalam mengancamnya akan kembali ke dunia kelam itu bila Putri tak menerima Kalam. Putri gelisah. Satu sisi ia tahu hubungan itu akan sia-sia. Tidak ada harapan untuk menjadikan hubungan ini ke jenjang yang lebih serius, pernikahan misalnya. Tidak mungkin sekali, selain Putri sesungguhnya tak cinta dan tentu keluarganya tak mungkin menerima sosok Kalam.
Ah, Putri tak mampu membayangkan bila kelak Abah atau Umi menerima lamaran dari seorang pecandu narkoba seperti Kalam. Kedua orang tuanya yang sejak kecil memupuk dirinya dengan iman itu. Abah dan Umi pun menyekolahkannya jauh ke kota ini tidak lain agar dirinya mampu belajar dengan baik agar kelak sepulang kuliah ia mampu meneruskan pesantren kecil binaan Abahnya.
Putri masih sendirian. Menatap pohon jambu yang digetarkan angin dari selatan. Asrama nampak sepi. Teman-temannya yang lain tampak terlelap nyenyak, sedang Putri tak sedikit pun melelapkan matanya meski kantuk menggelayut di matanya yang bundar dan kelam.
Putri ingat matanya pernah mengalirkan air mata karena ditampar Kalam. Keras sekali, sakit sekali hatinya. Pertengkaran yang berujung pada kekerasan itu mulai dirasakannya saat Kalam merasa memiliki dirinya. Sedang Putri tak kuasa untuk melawannya. Ego Kalam benar-benar keras. Selalu mementingkan diri sendiri ketimbang diri Putri. Tak merasakan perih hati Putri.
Beginikiah perilaku mantan pecandu? Beginikah yang selalu ditakuti teman-temannya? Beginikah hal yang selalu membuat orang-orang menjauh? Kalam seperti orang yang tak pernah dikenal Putri. Ingin sekali lari darinya. Namun sungguh Putri tak tega bila Kalam kembali ke dunianya. Mabuk-mabukan dan mengonsumsi narkoba. Bahkan kini Putri digelayuti rasa bersalah bila ia meninggalkan Kalam dan Kalam kembali ke masa kelamnya. Putri merasa bila ia meninggalkan Kalam, ia sama saja mendorong Kalam ke masa kelam. Dan itu sungguh tak Putri inginkan.
Kini Putri malah merasa bersalah pada keluarga Kalam yang menaruh banyak harapan pada Putri.
“Sejak hadir Putri, Kalam menjadi lebih baik dari dulu. Ia bahkan sudah mulai shalat,” ujar Mamah Kalam ketika Putri main ke rumahnya.
“Benar itu Put. Kalam sudah tidak membantah orang tua lagi. Ia menjadi penurut,” kali ini bapak Kalam membenarkannya. Tak mau kalah, kakaknya angkat bicara, “Kami sangat berharap padamu Put.”
Harapan-harapan seperti itulah yang membuatnya tahan atas segala siksaan Kalam. Tamparan di pipinya ia terima dengan berurai air mata, kata-kata kasar yang dilontarkan, diterimanya dengan hati penuh luka. Semua hal yang sakit, diterima Putri dengan segala penderitaan yang tak terkatakan. Kadang hatinya tercekam rasa takut, kadang tercekik rasa iba yang mendalam. Tak jelas. Sungguh tak jelas sedang Putri hanya bisa mengalirkan tangisnya ke pipinya yang cembung dan menyimpan semua luka di dalam hatinya.
Lantas inikah cinta? Inikah angin yang menggetarkan reranting? Inikah cinta yang menggetarkan hati itu? Sungguh tak ada yang tergetar hati ini, tak ada yang tergetar jiwa ini oleh tiupan kasih dari lelaki. Sungguh pun tak ada! Putri menyeru pada kedalaman hatinya yang telah lama ditumbuhi gelisah.
***
Matahari saat itu begitu terik. Panas sekali. Putri menatap Kalam dengan tajam. Hatinya mendidih, panas sekali, barangkali sepanas matahari. Kalam telah menampar pipinya kembali karena soal sepele dan salah paham saja. Putri merasa tak sanggup lagi hidup seperti ini. Ia tak sanggup menahan luka yang terus ditusukan Kalam ke dadanya. Sakit, sakit sekali. Perih, perih sekali. Sungguh pun Putri telah menahannya rasa itu sekian lama, kini akhirnya pecah juga.
“Kita Putus. Jangan pernah hubungi aku lagi. Camkan itu!”
Kemudian Putri berlalu meninggalkan Kalam. Dari kejauhan Kalam memanggil-manggil namanya, tapi Putri tak hiraukan. Ia malah mempercepat jalannya.
Malamnya, Putri menerima pesan dari Kalam. Aku akan mati bila kamu tak kemari. Putri menatap berkali-kali, setiap kali ia ragu untuk tidak menuruti ancaman Kalam. Tetapi semakin ia tak peduli, semakin kencang kata-kata itu berdengung di telinganya, di hatinya.
Akhirnya, Putri menuruti ancaman Kalam itu. Putri bergegas ke tempat kos Kalam. Segera ia melihat Kalam yang menangis. Air matanya mengalir saat melihat Putri. Putri menghindari setiap tatapan harap Kalam. Kalam terus memohon agar Putri kembali kepadanya, menjadi lenteranya kembali.
Tapi Putri telah lelah. Lelah oleh segela yang dilakukan Kalam padanya. Putri telah menjadi daun yang gugur dan terjungkil ke dalam kolam. Putri telah kalah. Ia tak sanggup lagi hidup bersama Kalam. Tak dihiraukan lagi segala yang mengganjal. Ia sungguh tak kuasa atas penderitaan yang ia alami.
Tahu usahanya sia-sia merayu Putri. Kalam mulai berbuat kasar pada Putri. Kalam mendorong Putri ke dalam kamar dan mengunci pintu kamar itu dari luar. Putri berteriak tapi tak ada yang menolong. Tak ada satu teman kos Kalam yang berani menentang kehendak Kalam. Putri menangis, meraung-raung. Tapi Kalam seakan tak memperdulikan. Ia hanya terus mengurung Putri dalam kamar meski berkali-kali Putri menggedor pintu kamar itu.
Sampai malam, barulah Putri dilepaskan setelah pemilik kos datang dan membukakan pintu kamar. Saat itu Kalam tak ada, entah ke mana. Putri bersyukur bisa bebas dan segera Putri menelpon Kakaknya karena Putri takut bila Kalam kembali datang dan melakukan tindakan yang lebih kejam.
Malam itu pula kakak Putri datang tapi tak sendiri. Ia datang bersama Abah dan Umi. Mereka menangis saat bertemu dengan Putri, memeluk Putri begitu erat. Kakak Putri ingin melaporkan tindakan Kalam itu ke Polisi. Tapi Putri melarangnya.
“Tapi itu sudah mencapai tindakan kriminal Put!” ujar kakaknya.
Tapi Putri terus menerus memohon untuk tidak melaporkan Kalam. Putri tak tega pada keluarga Kalam. Putri juga tak ingin Kalam dipenjara, karena Putri merasa dirinya tak apa-apa. Ia hanya merasa trauma saja. Akhirnya, kakaknya hanya mengancam Kalam. Bila Kalam melakukan tindakan kriminal itu lagi, tak segan kakaknya itu akan melaporkannya ke polisi.
Sejak itu, tak sekalipun Putri menganggap Kalam ada dalam hidupnya. Sekalipun Kalam memohon, menangis, meraung. Putri tak bergeming, tak tergetar lagi. Barangkali karena Putri telah menjadi reranting kering yang telah patah. Patah oleh angin yang menghempasnya.
Kini, Putri membiarkan lelaki yang duduk di pojok kelas itu sendiri, membiarkannya ditelan sunyi.***

pro: navis, setiap hidup, setiap hirup, mestinya kau tak sendiri

Iklan

3 thoughts on “PUTRI”

  1. terima kasih, Mang, sedikit berbeda, tapi kurang lebih seperti itulah kisahku kemarin. tapi mungkin karena aku sendiri yang mengalaminya, aku mengatakan, lebih tragis dari itu. sekali lagi terima kasih telah mau menampung keluh kesahku. semoga aku bisa menjadikannya sebuah pelajaran bagi aku sendiri dan bagi yang membacanya, mungkin. sekali lagi terima kasih dan semangat!!!

  2. bagus…. Sedahsyat realitanya…. Tau gak dia aja baru cerita sama aku, malah dia udah cerita sama kamu yang jauh disana… Andai aku yang diceritain duluan gak bakal jadi cerpen sebagus ini… Good

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s