Puisi

RINDU MEMBATIK BAHASA DALAM SAJAKKU

Rindu membatik bahasa dalam sajakku, ibu. lagu yang kau bisikan dulu mengalir begitu deras di nadiku. sungai-sungai di tubuhku mencari muara dan muara itu, selalu ada di wajah telagamu. temaram bohlam, membuat kita semakin erat berpelukan. kau selalu tahu, aku takut pada kegelapan. maka tiap kali kuberjalan dan tersesat di rimba kota, kau kembali menimangku sebagai air mata yang baru lahir dari percakapan cinta.

Rindu membatik bahasa dalam sajakku, ibu. aku senang menjadi malaikat kecilmu, ketika kehidupan sulit diterjemahkan dengan kejujuran. kita menjadi bahasa penenang bila bapak pulang. mulutnya akan mengeluarkan iblis-iblis yang dilihatnya. kita hanya bisa menggigil kemudian mengeja alif disisa malam. aku ingat, doamu begitu tulus kau panjat. kita selalu hujan untuk bercakap dengan tuhan.

Rindu membatik bahasa dalam sajakku, ibu. kau layarkan aku begitu jauh darimu. jauh dari halaman rumah yang kau sapu dengan air matamu, jauh dari bayam yang kau tumis diperutku. namun aku tahu, kau hanya ingin menjadikanku bulan, agar kelak kubisa berjalan dalam kegelapan. rinduku tak habis padamu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s