Catatan

‘DOMPET’ PENGAMEN LEBIH TEBAL DARI GURU

Sepulang kuliah, bapak menyuruh saya belanja karena beberapa dagangannya di warung telah habis. Seusai shalat lohor, saya bergegas dengan motor mio biru saya ke agen warung tempat biasa bapak belanja. Sebetulnya saya agak lelah, jarak tempuh kampus-rumah cukup jauh, belum lagi hari ini saya puasa, duh benar-benar keras! Matahari membakar tenggorokan saya. Haus sekali. Namun sekalipun segelas air dingin tampak di depan mata, tak meragukan iman saya.
Sambil menunggu barang belanjaan yang sedang diambil oleh si penjual yang kebetulan orang Batak. Saya memperhatikan seorang pengamen yang kemudian bernyanyi tak jauh dari saya. Baik si Batak yang menyimak dan si pengamen saling memberikan senyum. Entah apa yang terjadi. Setelah menyanyikan beberapa tembang lagu, akhirnya si Batak itu memberikan uang lima ratus rupiah. Aku menganggap hal itu, hal yang biasa. Namun hal yang berbeda justru setelah si pengamen telah pergi jauh meninggalkan kami. Si Batak berujar dengan kalkulasi mantap khas seorang pebisnis.
Dia ngejar target, kata si Batak. Satu hari bisa 200 rumah, lanjutnya sambil mengambil beberapa barang pesanan saya. Kemudian si Batak melanjutkan perkataannya, kalau setiap rumah memberinya lima ratus rupiah, ia bisa dapat seratus ribu dalam sehari. Bayangkan kalau sebulan ia bisa dapat tiga juta rupiah! Sudah kayak bos dia. Di rumahnya dia punya motor. Tapi kalau ngamen ia jalan kaki.
Saya berpikir, benar juga apa yang di katakan oleh si Batak ini. Saat ini, mungkin ratusan pengamen tersebar di Jakarta. Saya tidak tahu, apakah nasibnya sama seperti yang diungkapkan si Batak ini. Yang jelas saya benar-benar terperangah kalaupun begitu kenyataan. Hanya dari mengamen, bisa mendapatkan TIGA JUTA dalam sebulan.
Entah kenapa saya jadi teringat nasib guru di Indonesia, mungkin karena saya bagian darinya. Paling mengenaskan guru swasta, karena digaji dengan gaji yang pas-pasan. Ada yang delapan puluh ribu dalam sebulan, ada pula yang seratus ribu. Gaji variatif namun tak hanya sedikit sekolah yang menggaji gurunya lebih dari penghasilan si pengamen tadi.
Saya pikir, negeri ini sangat berharap majunya pendidikan, namun untuk menghargai pendidikan itu sendiri negeri ini tak bisa. Padahal dengan gaji yang cukup, guru akan tampil bijaksana dan optimal di hadapan siswanya. Kenapa bijaksana dan optimal? Jelaslah, saat ini tak sedikit guru yang memiliki profesi ganda. Pagi mengajar, sore mengojek. Pagi mengajar, sore berdagang sate. Tak pelak ini membuat diri si guru tidak tampil bijaksana dan optimal di hadapan siswanya.
Menuntut pendidikan maju, perlu. Namun lebih perlu mengangkat harga diri pendidikan itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s