Catatan

SEORANG YANG MENANGIS DI HADAPAN MONYET YANG SEDANG MENETEK

Apa yang kau bayangkan bila seseorang tiba-tiba menangis begitu saja di depan kandang monyet? Lucu atau apakah? Bagiku ini bukan masalah sepele, lihat saja bagaimana air matanya terus mengucur melihat anak monyet yang bermanja dengan ibunya. Terkadang anak itu menetek. Terkadang lagi ia dibelai-belai ibunya.
“Monyet saja penuh kasih sayang seperti itu…,” ujarnya memulai kata-kata yang masih diselingi tangis.
Kemudian cerita mengalir begitu saja. Tentang orang tua yang tak begitu menyayanginya, tentang perlakuan berbeda pada dirinya, terkesan diskriminatif. Demikianlah kekecewaan kepada orang tuanya membuat dirinya menangis di depan kandang monyet.
Aku iba memandangnya. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Aku hanya ingin membiarkan dia menangis, mengeluarkan semua yang mengganjal di hatinya. Dan kemudian air mata itu terus saja mengalir menyusuri pipinya.
Sebagai seorang anak, mungkin aku juga sering merasa seperti itu. Tak diperhatikan, diacuhkan. Dan itu oleh orang tua sendiri! Setidaknya sedemikian pengalaman telah membuktikan dan telah tertulis dicatatan batinku sendiri. Ketika kecil, aku lebih sering diasuh oleh kakak-kakakku. Hingga akhirnya aku pergi meninggalkan rumah untuk pergi ke pesantren yang letaknya di Madura. Jauh dan begitu jauh dari rumahku. Namun di sinilah kemudian keberadaan orang tua aku rasakan, bapak dan emak tak seakan memberikan kasih sayangnya. Masih ingat betul, emak menangis ketika aku mau berangkat sendiri ke pesantren. Entah apa yang dipikirkannya. Hanya saja akupun ikut menangis dan aku yakin apa yang kami keluarkan dari kedua belah mata kami tidak lain karena keterikatan batin dan kasih sayang yang sangat dalam. Demikian pun bapak. Kasih sayangnya selalu hadir walaupun bersifat eksplisit saja. Setidaknya ia selalu prihatin dengan keberadaanku yang jauh dari rumah itu.
Saat itulah, mungkin aku merasa bahwa aku dekat dengan orang tuaku, bukan semata-mata hanya ingin mendapatkan surga-Nya. Tapi lebih dari itu, karena aku sayang dan merekapun begitu sayang kepadaku. Hal itulah yang membuatku pulang setelah tujuh tahun di pesantren.
Aku ingin memberikan kasih sayangku, itulah pikiranku. Dan benar saja ketika bapak sakit dan emakpun tak berdaya dengan tubuh ringkihnya. Aku selalu hadir untuk menemani mereka. Memberikan pelayanan sebaik-baiknya. Karena aku yakin, apa yang aku berikan sekarang tak seberapa besar dari pengorbanan yang telah mereka berikan.
Aku sayang mereka! Bagaimana dengan Anda? Mungkin kita kesal, aku pikir itu wajar karena memang bukankah Tuhan selalu memberikan masalah pada kita. Masalah tersebutlah yang kelak membuat kita menjadi lebih bijak. Pertanyaannya, sudahkan kita menjadi lebih bijak dengan masalah yang kita hadapi?
Tentang seorang perempuan yang menangis di depan kandang monyet itu! Aku pikir, ia hanya sedang mengingat kenangan pahitnya tentang orang tua. Tapi sesungguhnya, ia pun sering membanggakan mereka lebih dari aku!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s