Puisi

BERPUISI

Aku masih minum kopi ketika tsunami mengetuk pintu di pagi hari, menjerit-jerit hingga merintih, memaksaku untuk berpuisi. mengkisahkan mayat mati, masjid mati, jalan mati, rumah mati. namun tak juga baris itu merangkai mati.

Ketika getar jogja menggoncang hatiku, hingga nadiku tersekat duka. kemudian berpuluh-puluh mayat mencoba masuk dalam tubuhku. mencakar-cakar nafasku, menari-nari di mataku. namun tak juga getar kata-kataku.

Ketika aku mulai menulis, kata-kataku berdarah sebelum sempat laut dan gempa menyesak di kertasku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s