Puisi

HATI DESEMBER II

Entah kapan sakera menanam celurit dalam tubuhku. getarlah hatiku bila kau mempermainkan darahku dengan payudaramu. aku masih ingat ranum senyummu membelai gelombang, kulihat kau purnama untuk sekali saja.

Daun berbisik ketika kita mulai menyembunyikan bayang masing-masing. untuk sekali pertemuan kita menjadi amat rahasia. kedai-kedai minum kita lupakan, kita teguk siang dengan kata-kata yang tiba-tiba menjadi wisky.

Lampu merah mengingatkan kita jalan pulang serta ribuan kerinduan yang harus kita lewati dalam kesendirian. kita meraba kalender masing-masing, mencoba mempertemukan senyum pada satu muara.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s