Puisi

SUATU HARI MENUJU KOTA

Ketika tubuh mencari nafas untuk dipuisikan, ada tanya harus kuhadiskan, entah pada siapa?

Di sini, semua seperti dadu, jalan berliku waktu, mencari titik untuk menisankan hidup. gerimis memburu mataku, gubuk-gubuk begitu saja membangun rumah kardus dalam hatiku. tak henti-henti hingga jutaan sampah masuk ke dalam mulutku. namun, sampahkah itu?

Ketika tubuh mencari nafas untuk dipuisikan, ada tanya harus kuhadiskan, entah pada siapa?

Meneguk musim, gelas-gelas kosong diisi dengan memburu uang, emosi serta keegoisan diri. rumah dibangun tinggi-tinggi menantang surga tuhan. menyembunyikan luka dalam hati. kumuntah, busuk hati mereka. namun, sampahkah itu?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s