Atap Sastra, Esai

PERBANDINGAN NOVEL MADAME BOVARY KARYA GUSTAVE FLAUBERT DAN BELENGGU KARYA ARMIJN PANE

(catatan, semestinya kajian sastra bandingan tidak membandingkan buku terjemahan. harus dari referensi yang berbahasa asli. namun dalam penulisan kali ini, perbandingan itu dilakukan dengan buku terjemahan)

A.    Biografi
1.  Biografi Gustave Flaubert
Gustave Flaubert lahir di Rouen.  Ayahnya, Achille Cleophas  Flaubert adalah seorang dokter dan ibunya Anne Caroline Justine merupakan anak dari seorang dokter. Sehingga dapat dikatakan Gustave Flaubert lahir dalam keluarga kedokteran.
Namun latar belakang tersebut tidak mempengaruhi pilihannya untuk menekuni dunia tulis menulis, sebab pada umur lima belas tahun ia telah memenangkan sebuah lomba kepenulisan. Meski kemudian menginjak masa remaja ia memilih sekolah hukum di Perancis pada tahun 1840. Akan tetapi hal itu tak berlangsung lama,  karena didiagnosis memiliki penyakit ia kemudian tak dapat menyelesaikan pendidikannya. Hal itulah yang kemudian merubah jalan hidupnnya dan mulai memutuskan untuk mendedikasikan hidupnya untuk sastra.
Novelnya, Madam Bovary diselesaikannya dalam lima tahun dan pada 1857 baru bisa dicetak. Ia kemudian terkenal sebagai penulis yang sukses pada tahun 1860 pada masa pemerintahan Napoleon Bonaparte III. Flaubert kemudian meninggal pada 8 Mei 1880.

2.    Biografi Armijn Pane
Armijn Pane memiliki banyak nama pena, di antaranya Ammak, Ananta, Anom Lengghana, Antar Iras, AR., A.R., Ara bin Ari, dan Aria Indra. Dengan nama-nama itu ia menulis puisi dalam majalah Pedoman Masyarakat, Poedjangga Baroe, dan Pandji Islam. Armijn Pane, anak ketiga dari 8 bersaudara. Ia dilahirkan tanggal 18 Agustus 1908 di Muara Sipongi, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara.
Armijn Pane lahir sebagai seorang yang mewarisi “darah seni”, karena ayahnya Sutan Pangurabaan Pane adalah seorang seniman daerah yang telah berhasil membukukan sebuah cerita daerah berjudul Tolbok Haleoan.
Dengan demikian, pergulatan dalam berkesenian merupakan hal yang lumrah bagi Armijn Pane meski pada awalnya ia bersekolah di Hollandsislandse School (HIS) Padang Sidempuan dan Tanjung Balai. Kemudian masuk Europese lagere School (ELS), yaitu pendidikan untuk anak-anak Belanda di Sibolga dan Bukittinggi. Pada tahun 1923 menjadi Studen Stovia (sekolah kedokteran) di Jakarta. Tak sampai selesai, ia kemudian pindah pada tahun 1927 ke Nederlands-Indische Artsenschool (Nias) ‘sekolah kedokteran’ yang didirikan tahun 1913 di Surabaya. Namun kemudian Jiwa seninyalah yang kemudian menang, Armijn Pane kemudian masuk memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di AMS bagian AI jurusan bahasa dan kesusastraan di Surakarta hingga tamat tahun 1931.
Dengan latar belakang pendidikan kedokteran yang pernah dicicipi oleh Armijn Pane, banyak orang beranggapan hal inilah yang mempengaruhi karya-karyanya seperti dalam Belenggu yang dibahas dalam makalah ini lewat tokoh Dr. Sukartono.
Sebagai seorang seniman, Armijn Pane dikenal sebagai pendiri majalah Pujangga Baru dan berbagai majalah sastra lainnya. Ia pernah memimpin majalah Kebudayaan Timur yang dikeluarkan oleh kantor Pendidikan Kebudayaan. Tahun 1936 Armijn diangkat menjadi redaktur di Balai Pustaka, kemudian di zaman Jepang ia menjabat kepala Bagian Kesusastraan di Pusat Kebudayaan Djakarta. Di samping itu, tahun 1938 ia menjadi sekretaris Kongres Bahasa Indonesia yang pertama, ia juga menjadi penganjur Balai Bahasa Indonesia dan di zaman Jepang ia menjadi anggota komosi istilah. Atas jasanya berbagai jasa dalam bidang seni (sastra), ia kemudian memperoleh Anugerah Seni dari pemerintah pada tahun 1969.
A. Teuw menganggap Armjin Pane sebagai pelopor angkatan 45 namun kemudian dibantah oleh H.B. Jassin dengan alasan karya-karya Armjin Pane cendrung romantis sedang angkatan 45 cendrung bergaya ekspresionistis. Karena memang karya-karya Armijn Pane memperlihatkan adanya pengaruh Noto Soeroto, Rabindranath Tagore, Krisnamurti dan pelajaran Theosofie. Gerakan kesusastraan sesudah tahun 1880 di negeri Belanda tampak juga mempengaruhi karya-karyanya, begitu juga Dosxtojevski, di samping Tolstoy.
Semasa hidupnya ia telah membukukan karyanya baik berupa cerpen, puisi, novel dan drama. Dalam cerpen Djinak-Djinak Merpati (1940) dan Kisah Antara Manusia (1979). Dalam puisi, Gamelan Djiwa (1960) dan Djiwa Berdjiwa (1939). Dalam novel Belenggu (1940). Dalam drama Antara Bumi dan Langit (1951).
Armijn Pane meninggal pada hari Senin, tanggal 16 Februari 1970 pukul 10.00 pagi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, dalam usia 62 tahun. Ia mengalami pendarahan otak dan tidak sadarkan diri selama dua hari. Menurut berita di surat kabar ia diserang Pneumonic Bronchiale. Tempat peristirahatannya yang terakhir adalah pemakaman Karet, Jakarta, berdampingan dengan makam kakaknya, Sanusi Pane, yang meninggal satu tahun sebelumnya.

B.    Sinopsis
1.    Sinopsis Nyonya Bovary (Madame Bovary)
Charles merupakan seorang dokter yang terlahir dari anak seorang dokter pada zaman perang di Perancis bernama Charles Denis Bartholome dan ibunya bernama Bovary. Ibunya ini kemudian menjodohkan Bovary dengan seorang janda berumur empatpuluhan tahun yang kaya namun begitu mengatur Charles bernama Nyonya Dubuc.
Karena hal itulah, Charles sering disebut lelaki yang merana hingga pada akhirnya ia diundang oleh Bapak Rouault yang menderia sakit di kakinya. Di sanalah Charles bertemu dengan Emma, anak perempuan yang tak suka bertani tidak seperti ayahnya yang sakit itu.
Sejak pertama, Charles memiliki perasaan yang aneh karena ia tetap berkunjung meski Bapak Rouault telah sembuh. Charles selalu terpanggil untuk datang  ke rumahnya di Les Bertaux.  Karena keseringan inilah kemudian istrinya cemburu dan melarangnya untuk pergi ke sana.
Namun tak lama kemudian, Nyonya Dubuc meninggal setelah muntah darah. Charles merasa begitu kehilangan Dubuc dan membuatnya menjadi murung. Hal itu kemudian yang membuat Bapak Rouault merasa iba dan menghibur dirinya dengan mengajaknya berlibur di Les Bertaux karena Emma terkadang menanyai dokter itu. Selama liburan itulah kemudian Charles jatuh hati dengan Emma, kesedihannya tergantikan dengan datangnya Emma yang kemudian diangkatnya menjadi istri.
Charles membawa Emma tinggal di Tostes menemani dirinya untuk bertugas sebagai seorang dokter. Sebagai dokter, Charles termasuk dokter yang disegani sehingga ia termasuk dokter yang terpandang dan kedudukan sosialnya pun terpandang.
Oleh karena itulah kemudian ia mendapatkan undangan oleh Markis D’andevilliers di Vaubyessar yang serupa istana. Dalam undangan itu, Emma terkagum-kagum dengan gaya hidup orang kaya dan terpandang. Ia mengandai-andai Charles demikian. Terlebih saat ia mulai berdansa dengan seorang Vicomte yang selalu membuatnya teringat-ingat dengan gemerlap hidup yang kaya itu.
Hal itu membuat Emma menjadi begitu murung. Terlebih, pikiran Emma selalu terbayang pada Vicomte yang tinggal di Paris dan selalu mengangankan tinggal di kota itu. Kemurungan itu dibaca lain oleh Charles, ia menganggap istrinya itu bosan dengan lingkunganya tersebut sehingga ia mengambil keputusan untuk pindah ke Yonville saat Emma mulai hamil dan kemudian bertetangga dengan seorang apoteker bernama Homais yang begitu ramah tamah padanya karena ada maunya.
Di sinilah kemudian Emma bertemu dengan Leon, seorang yang memiliki kebiasaan membaca roman romantik maupun puisi yang merupakan kebiasaan Emma. Dari sinilah rasa simpatik itu datang. Leon sendiri merasa hatinya mulai mencintai Emma namun ia malu mengungkapkannya karena Emma merupakan suami seorang dokter yang disegani. Emma yang menunggu-nunggu keberanian Leon menjadi kesal dan mulai melupakan hasratnya untuk bersama Leon. Leon sendiri kemudian memutuskan untuk pergi ke Paris. Di sela itu, putri Emma telah lahir dan diberi nama Berthe.
Nyonya Bovary atau Emma masih merasa kecewa terhadap Charles dan selalu membandingkannya dengan Leon yang romantis dengan puisi-puisi yang selalu dibisiki ditelinga Nyonya Bovary. Charles dianggap tidak mampu memenuhi kebutuhan biologis Nyonya Bovary yang ingin selalu dimanja dan tak mampu memenuhi keinginannya sehingga Nyonya Bovary merasa Tuan Bovary bukanlah cintanya.
Kebimbangan  inilah yang ditangkap oleh seorang yang terbuai dengan kecantikan Nyonya Bovary dan berniat merebut hatinya. Tiada lain dialah Rodolphe, seorang lelaki mata keranjang yang pandai merayu perempuan. Rodolphe kemudian berhasil meluluhkan pendirian Bovary untuk selingkuh.
Oleh surat cinta dan rayuan yang membuai-buai Nyonya Bovary, akhirnya cinta itu tumbuh untuk Rodolphe. Di lain sisi, kegagalan suaminya menyembuhkan Hippolyte dari sakit pekoknya yang membuat kaki itu harus diamputasi menambah kebencian Nyonya Bovary karena tentu membuat namanya menjadi buruk.
Pada akhirnya ia merencanakan kepergiannya bersama Rodolphe dengan memesan berbagai perlengkapan yang dibutuhkan dengan berhutang pada Lheureux. Namun pada waktu yang telah ditentukan Rodolphe malah mengirimnya surat bahwa ia tak akan menganggu keluarganya.
Karena keputusan Rodolphe itu, Nyonya Bovary tak sadarkan diri sehingga harus mengalami perawatan seiring itu berbagai tagihan datang dan harus dilunasi. Hingga akhirnya, Emma membaik setelah menghabiskan banyak obat yang telah diberikan oleh Homais.
Dalam sebuah kesempatan di Roeun, Tuan dan Nyonya Bovary bertemu dengan Leon. Leon yang kini lebih berani menyatakan cintanya secara terang-terangan setelah menemukan kesempatan untuk berduaan. Mulanya Nyonya Bovary menolaknya karena merasa sudah cukup tua. Namun rayuan Leon akhirnya membuatnya luluh juga.
Dengan berbagai alasan yang mengelabui Tuan Bovary, Nyonya Bovary selalu melakukan pertemuan untuk berzinah dengan Leon di sebuah hotel di Reoun. Emma memiliki alasan untuk pergi ke sana dengan menyatakan bahwa ia mengikuti kursus musik. Karena segala keperluan itu, Nyonya Bovary membutuhkan uang banyak dan akhirnya meminjam kepada Cheureux.
Karena terbelit banyak hutang dan Nyonya Bovary tak mampu membayarnya, akhirnya rumah dan seisinya disita. Hal ini dirahasiakan oleh Nyonya Bovary dari Charles. Emma bukan tinggal diam, ia mencari pertolongan untuk dapat meminjam uang sebanyak tiga ribu france. Namun tak seorangpun yang mampu menolongnya termasuk Leon dan Rodolphe.
Akhirnya Emma tersiksa dan meminum racun kemudian meninggal dunia. Charles yang ditinggal Emma begitu sedih. Tak lama kemudian Charles yang selama ini tak tahu bila Nyonya Buvary selingkuh, akhirnya mengetahui perselingkuhan istrinya itu terhadap Leon dan Rodolphe. Pada akhirnya Charles meninggal setelah tanpa sengaja disentuh Berthe langsung tersungkur.

2.    Sinopsis Belenggu
Sukartono yang sering disebut sebagai Tono merupakan seorang dokter yang baik hati, rajin dan gigih menolong siapapun yang membutuhkan bantuannya. Ia telah menikah dengan Kartini (Tini), namun pernikahan itu dirasa sia-sia oleh Tono, sebab Tono merasa Tini tidak seperti kebanyakan perempuan lainnya yang biasa merawat suaminya. Tini memang seorangan yang modernis, hari-harinya dihabiskan di luar rumah, entah ke pesta maupun bertemu dengan rekan-rekannya.
Hal ini membuat Tono merasa kesepian hingga pada akhirnya ia mendatangi seorang pasien yang bernama Nyonya Eni. Seketika ketika memandang perempuan itu, Tono terkenang masa lalunya, seperti pernah bertemu namun tak pula ia mengingatnya. Hingga akhirnya ketika kunjungannya yang kedua ia baru tahu bahwa Nyonya Eni hanyalah nama samaran saja yang sebenarnya Rohayah (Yah).
Dari sini, Tono tahu bahwa Yah, adalah masalalunya. Ketika di Bandung sempat saling mencintai dan saling bertetangga. Namun karena jalan hidup yang berbeda, akhirnya memisahkan mereka.
Ketika bertemu lagi, Yah memperlakukan Tono layaknya seorang suami. Melayaninya sedemikian rupa sehingga Tono merasa nyaman dan menemukan sosok istri yang semestinya seperti ini bukan seperti Tini. Maka Tono pun mulai mendua, meski Tono tahu Yah tidak lain adalah perempuan penghibur. Tapi karena cinta yang begitu besar yang dimiliki Yah, Yah meninggalkan dunia itu dan Tono mencintai Yah dengan tulus.
Segala kesukaan Tono selalu diperhatikan Yah, termasuk lagu keroncong yang dinyanyikan Siti Hayati. Menurut Tono, syair-syairnya seakan ditujukan kepada dirinya. Persis sekali. Hingga timbul kecurigaan bahwa Yah merupakan Siti Hayati. Awalnya Yah tak mengakui, hingga pada akhirnya ketahuan juga saat Tono menjadi juri keroncong dia melihat sosok Siti Hayati adalah Yah.
Tono merasa dibodohi dan dibohongi, ia sempat marah pada Yah, tapi setelah tahu hal itu semata-mata karena cintanya pada Tono, akhirnya Tono memaklumi.
Sementara itu, hubungan gelap itu ternyata telah diketahui pihak keluarga Tini di Solo yang kemudian mengutus paman Tini yang bernama Mangunsucipto yang berusaha mendamaikan keluarga itu agar tetap mempertahankannya.
Namun Tini menolak untuk mempertahankan keluarga, terlebih ketika ia telah bertemu dengan sosok Yah yang Tini merasa dialah yang lebih baik untuk Tono sebagai istri karena keprigelannya dalam merawat Tono. Tini sendiri lebih ingin untuk bergabung dalam kegiatan perempuan yang kemudian meninggalkan Tono ke Surabaya.
Meski Tono sempat mecegah Tini dengan berbagai alasan penilaian orang pada mereka, namun Tini bersikeras untuk meninggalkan Tono dan tinggal di Surabaya. Akhirnya Tono tak kuasa menahannya, dan kembali kepada Yah, namun saat ingin bertemu dengan Yah. Yah pun meninggalkan Tono. Tono merasa sedih, karena tiada lagi tempat untuk memadu kasih.

C.    Analisis Intrinsik
1.    Analisis Unsur Intrinsik Novel Nyonya Bovary (Madame Bovary)
Dalam novel Nyonya Bovary (Madame Bovary) temanya adalah tentang perselingkuhan. Dalam hal ini seorang perempuan bernama Emma (Nyonya Buvary) selingkuh secara berturut-turut antara Rodolphe dan Leon tanpa sepengetahuan suaminya yang seorang dokter yang menurut Emma tak mampu memenuhi kebutuhan biologisnya, yakni Charles (Tuan Bovary)
Berkali-kali cerita ini mengutip cerita sejarah perancis dengan tokoh-tokoh patriotik lainnya sehingga harus penceritaan harus mundur begitu jauh. Hal ini juga terjadi saat menceritakan tokoh Emma yang menceritakan masa kecilnya dengan ibunya yang saat kecil telah meninggal dunia. Namun, cerita ini pada umumnya terus maju mengantarkan tokoh Charles sejak kecil hingga akhir hayatnya dan mengalami perselingkuhan dari istrinya, Emma.
Setting tempat berpindah-pindah dari tempat tinggal Charles di Tostes, tempat tinggal Emma dan ayahnya di Les Bertaux, tempat pesta saat pertama kali Emma merasa kagum terhadap vicomte ketika berdansa bersama disebuah istana di Vaubyessar dan membuatnya ingin ke Paris, kemudian kepindahan Nyonya dan Tuan Bovary ke Yonville, tempat yang pada akhirnya mempertemukan Emma dengan Leon, juga mempertemukannya dengan Rodolphe yang kemudian membuatnya mabuk kepayang. Kemudian setting berubah ke Roeun yang kemudian menjadi tempat aman bagi Emma untuk berselingkuh dengan Leon.
Untuk penokohan, masing-masing memiliki karakter kuat. Charles, seorang dokter yang baik. Emma yang selalu tak puas dengan hidupnya bersama Charles. Ibu Bovary yang keras dan hemat. Leon yang penyair. Rodolphe, seorang lelaki mudah menaklukan hati perempuan dengan rayuan mematikan.

2.    Analisis Unsur Intrinsik Novel Belenggu
Tema novel ini mengangkat soal cinta segitiga antara Tono, Tini dan Yah. Meski sebetulnya dalam novel ini ditekankan pula tentang emansipasi wanita lewat tokoh Tini yang memberontak untuk menjadi istri yang selalu tunduk pada suami, yakni Tono.
Alur atau plot yang digunakan dalam novel Belenggu ini adalah alur campuran. Cerita ini sesekali maju, sesekali mengenang kebelakang kemudian maju lagi.
Setting waktu dalam cerita ini, tak jelas tahun berapa. Bisa jadi pada tahun pertama kali novel ini dicetak yakni pada tahun 1938 dengan latar tempat yang berpindah-pindah dari Bandung, Batavia, Solo.
Secara umum penokohan dalam novel ini cukup kuat. Utamanya saat menggambarkan Tono yang cendrung pendiam dan darmawan sebagai dokter yang tak semata-mata mencari uang, juga saat menggambarkan kengkuhan Tini pada pendiriannya akan perempuan yang modern dan telatennya Yah dalam merawat Tono.

D.    Perbandingan Novel Nyonya Bovary (Madame Bovary) dengan Belenggu
Ada dua hal yang sebetulnya ada semacam gejala peminjaman yang dilakukan novel Belenggu karangan Armjin Pane terhadap novel Nyonya Bovary karangan Gutave Flaubert. Pertama, kesamaan tema dan yang kedua adalah latar belakang tokoh pria (Charles dan Tono).
Untuk tema, memang antara novel Flaubert dengan Armijn Pane ada kemiripan. Keduanya merupakan novel yang membahas soal perselingkuhan. Bila dalam Nyonya Bovary perselingkuhan itu dilakukan oleh tokoh perempuan, dalam hal ini Emma, maka dalam Belenggu perselingkuhan itu dilakukan oleh pihak lelaki bernama Tono.
Hanya saja, perbedaan mendasar dalam cerita ini adalah perselingkuhan Emma lebih rumit (berselingkuh dengan dua orang lelaki, Leon dan Rodolphe) dari sekedar perselingkuhan Tono. Maka tentu, hal ini pun memiliki dampak yang berbeda. Bila dalam Madam Bovary kedua tokoh, baik Emma dan Charles pada akhirnya meninggal. Hal ini tidak terjadi pada Belenggu, tokoh tersebut hanya bercerai.
Namun, bila kita menilik tentang alasan mengapa tokoh tersebut berselingkuh? Maka jawabannya akan sama. Tak merasakan cinta saat berkeluarga. Cinta itu malah ditemukan pada sosok lain yang justru bukan istri atau suami mereka. Bila dalam Belenggu, Tono mencintai Yah karena Yah bagian dari masa lalunya. Sedangkan dalam Nyonya Bovary, Emma menikmati kemesraan yang dipadunya dengan Rodolphe dan Leon.
Untuk tokoh Charles dan Tono. Keduanya merupakan sosok dokter yang baik. Dalam hal inilah kesamaan yang merekatkan bahwa ada semacam peminjaman yang dilakukan Armjin Pane. Namun, karena kedua tokoh ini memiliki peran berbeda. Dalam Nyonya Bovary, Charles menjadi korban perselingkuhan istrinya, sedangkan dalam Belenggu, malah Tono yang menjadi pelaku dari perselingkuhan itu.
Dalamnya tokoh dokter dalam Belenggu, tentu tak terlepas dari latar belakang Armjin Pane yang sempat mengecap pendidikan kedokteran sebelum akhirnya lebih memilih jalur sastranya. Maka, bisa dikatakan karya Belenggu bukanlah suatu pinjaman dari Madam Bovary, akan tetapi sebetulnya cerminan dari pengarang itu sendiri. Gustave Flaubert pun tak asing dengan dunia kedokteran, karena memang ayahnya adalah seorang dokter dan orang tua ibunya pun dokter pula. Jadi sebetulnya, latar belakang penulislah yang membentuk mengapa kedua penulis ini cendrung memilih tokoh seorang dokter untuk menyampaikan gagasannya.
Untuk tokoh-tokoh pendukung, setting dan alur. Penulis masing-masing memiliki gaya sendiri untuk mengungkapkan gagasan dan pemikiran. Sehingga dalam hal ini, nyaris tak ditemukan proses penjiplakan atau lainnya. Misal saja, masalah yang timbul dalam Nyonya Bovary berbeda, yakni terbelit hutang sedang pada Belenggu, hal ini bahkan tak ditemui.

E.    Kesimpulan
Setelah mencermati novel Nyonya Bovary yang merupakan terjemahan dari Madame Bovary karya Gustave Flaubert dengan karya novelis tanah air berjudul Belenggu karangan Armijn Pane maka dapat disimpulkan bahwa ada semacam kemiripan meski sebetulnya berbeda dalam tema dan tokoh dokter dalam kedua novel tersebut.
Sedangkan pada alur, setting dan tokoh-tokoh pendukung, tidak ada kesamaan yang signifikan. Para penulis mengungkapkan gagasan masing-masing dengan berbeda berdasarkan latar belakang kultur penulis asal.

Iklan

6 thoughts on “PERBANDINGAN NOVEL MADAME BOVARY KARYA GUSTAVE FLAUBERT DAN BELENGGU KARYA ARMIJN PANE”

  1. pa syarifff makasih bagt yahh..
    lia dapet tugas itu lochh..
    hehehe sering sering aja deh tugas kita sama,,,
    makasih bapaa… hehehe…

  2. seharusnya halaman,judul,penerjemah,tahun terbit juga ditulis. namun berkat anda saya bisa mengerjakan tugas sastra perbandingan

  3. Syarif, esaimu bagus! Sejak lama saya ingin membandingkan kedua novel itu (Belanggu dan Madame Bovary), tapi belum juga dilakukan, hingga keinginan itu kini menguap entah ke mana! Membaca esaimu, keinginan itu benar-benar karam! Sekali lagi, selamat atas esaimu! Jika ada kekurangan, esaimu bisa lebih mendalam jika fokus pada perbandingan. Jangan lupa, rujukan sebaiknya tidak kau lalaikan
    salam
    Maman S mahayana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s