Atap Sastra, Catatan

DARI SASTRA WANGI, AYAT-AYAT CINTA HINGGA LASKAR PELANGI

Sastra Wangi
Karya sastra tidak lepas dari perkembangan kultur sosial yang ada dalam masyarakat. Sastra mencatatnya dalam bentuk prosa maupun puisi. Pertanyaan sekarang adalah apakah masyarakat saat ini telah benar-benar vulgar? Ketika sastra mencatat kehidupan dengan kevulgaran yang bagi mereka itu merupakan realita?
Demikianlah, sastra wangi yang kemudian muncul di dekade angkatan 2000 ini. tercatat penulis-penulis perempuan banyak yang mengumbar tentang seksualitas yang bagi Taufiq Ismail sudah kelewat batas.
Mencermati nama-nama pengarang yang terlibat di dalamnya, kita tahu dari karya-karya Djenar Maesa Ayu lewat kumpulan cerpennya Jangan Main-main dengan Kelaminmu dan novelnya Nayla, Ayu Utami lewat Saman dan Larungnya yang belakangan dari karya tersebut ia mendapat penghargaan dan sejumlah nama lainnya seperti Dinar Rahayu dalam novelnya Ode untuk Leopold von Sacher Masoch, Ana Maryam dalam novelnya Swastika, Ratih Kumala dalam novelnya Tabularasa dan Maya Wulan dalam novelnya Swastika. Karya-karya tersebut terkesan mengumbar persoalan seks dari segala sudut pandang dan alasan yang membuntutinya.
Sebetulnya dari kalangan lelaki, karya-karya berbau seksualitas pun salah satunya Binhat Nurrahmat. Dalam kumpulan puisinya juga esai-esainya ia seakan-akan membela apa yang disebutnya dengan sastra kelamin. ironis memang, mengingat Binhat merupakan alumnus sebuah pesantren.
Munculnya sastra yang berbau seks ini menuai berbagai pro dan kontra, khususnya dari kalangan sastrawan. Saut Sitomurang dan Wowok Hestiawan lewat jurnal Boemi Poetranya jelas menentang sastra yang berbau seks tersebut. Terlebih lagi, sastra seperti ini didukung sepenuhnya oleh TUK (Teater Utan Kayu) yang sekarang berubah nama menjadi KUK (Komunitas Utan Kayu) yang menurut keyakinan mereka merupakan antek imprealis atau sekutu Amerika. Sastra seperti itu, tidak lain akan merusak moral negeri ini.
Menepik semua itu, sebetulnya dalam dekade angkatan 2000 ini. khususnya pengarang perempuan tidak semuanya Pro terhadap sastra yang berbau seks tersebut. Invasi tersebut segera dihadang oleh pengarang-pengarang FLP (Forum Lingkar Pena) khususnya oleh adik-kakak yang ayu dan suka memakai jilbab itu, Asma Nadia dan Helvy Tiana Rosa. Lewat karya-karyanya, nuansa religius dibangun sedemikian rupa sederhana dan terkesan sebagai novel sastra pop. Hal ini berhasil, setidaknya konsumen karya-karya tersebut ikut booming seiring dengan novel teenlit yang juga laris di pasaran.
Selain unsur religuisitas yang berkembang, sastra lokal juga sebetulnya ikut mencuat, hanya saja seakan tertutup dengan kehebohan sastra berbau seks tersebut. Karya-karya Wa Ode Wulan Ratna dalam cerpennya La Runduma bercerita tentang kontradiksi budaya dengan jaman modern. Pengarang lain, Oka Rusmini dalam Tarian Bumi dan Kenanga, Abidah el Khalieqy dalam  Geni Jora. Keduanya membahas tentang kultur budaya lokal masing-masing. Oka di Bali dan Abidah di Jawa.

Ayat-ayat Cinta
Fenomena Ayat-ayat Cinta (AAC) merupakan fenomena luar biasa dari minimnya minat baca bangsa ini. novel ini laris di mana-mana dan dikonsumsi oleh berbagai kalangan. Dari menengah ke bawah maupun menengah ke atas. Intinya, AAC diterima masyarakat seluruhnya.
Dari fenomena inilah yang kemudian kita bisa membanding lonjakan drastis dari polemik yang ada, yaitu sastra berbau seks tersebut kemudian berbalik arah delapan puluh derajat menjadi sangat religius dan sepenuhnya ini diterima masyarakat.
Masyarakat di tengah situasi krisis yang melanda, baik moral maupun material. Memang benar-benar mencitakan apa yang ditulis oleh Habiburrahman El-Shirazy ini. Memang terkesan mustahil, terlebih pada tokoh utama dalam novel ini Fahri.
Namun, esensi moral dalam novel ini benar-benar mengena dan menohok hati masyarakat pembaca sendiri. Hingga tidak jarang dari mereka yang menangis. Persoalan yang dibahas tidak rumit dan namun sangat riskan. Persoalan cinta yang menempatkannya sebagai persolalan hakiki, cinta bukan lagi persoalan hubungan manusia dengan manusia itu sendiri melainkan pula dengan Tuhan yang menciptakannya -belakangan novel-novel sejenis lahir dari penulis berbeda. Dan inilah kemudian yang membuat novel ini lebih dan berarti bagi masyarakat itu sendiri. Sebetulnya masyarakat kita haus akan nilai-nilai rohani. Persoalannya bagaimana kita membukusnya, itulah keberhasilan Habib menulis AAC ini.

Laskar Pelangi
Saya baru membaca di awal tahun ini, setelah tugas dari dosen saya. Mencermati novel best seller ini tentu sangat menarik. Dalam novel ini, nilai-nilai moralitas kita sebagai manusia dipertanyakan. Tentu saja penggambaran tentang pulau Belitong serta sekolah kecil Muhammadiyah yang di dalamnya ada guru bernama Bu Mus yang mendedikasikan dirinya seutuhnya untuk pendidikan. Belum lagi perjuangan para muridnya yang harus melewati sungai yang tak jarang didapati buaya yang mencegatnya. Semua yang ada di novel ini bermuara pada pendidikan. Pentingnya pendidikan. Hingga kita sadar bahwa pendidikan mestinya dipertahankan dan diperjuangkan.
Kehebatan novel ini terletak pada diskripsi yang memukau tentang segala hal yang ada di novel tersebut. Benar-benar menarik, membuat orang dapat mencitrakan apa yang ditulis oleh Andrea Hirata ini. Lebih menarik lagi, karena Andrea merupakan orang baru dalam dunia sastra itu sendiri.
Dalam tiga dekade di atas, perbedaan mendasar adalah pada tema yang digarap penulis di dalamnya dan semuanya memiliki peran penting di ranah sastra Indonesia dan merupakan fenomena!

Iklan

1 thought on “DARI SASTRA WANGI, AYAT-AYAT CINTA HINGGA LASKAR PELANGI”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s