Catatan, Esai

Memupuk Budaya Baca Calon Pemimpin Bangsa

Ketika saya membaca ketentuan lomba ini yang membahas soal sub tema, saya tergelitik untuk membahas soal budaya baca. Barangkali karena saya teringat dengan acara Bina Bahasa di salah satu televisi yang mendatangkan pembicara seorang penyair kenamaan, Taufiq Ismail.
Dalam acara itu, Taufiq mengatakan bahwa hendaknya remaja mengisi waktu luangnya dengan membaca buku. Taufiq memberi contoh apa yang kita alami sehari-hari, misal saja ketika kita mengantri membeli karcis atau sedang dalam perjalanan di bis.
Nah, untuk mengetahui sejauh mana budaya baca kita, ada baiknya kita membalik kalimat pernyataan pada contoh tersebut dengan kalimat pertanyaan. Seperti, berapa banyak orang membaca buku ketika membeli karcis? Berapa banyak orang membaca buku ketika dalam perjalanan di bis? Saya pikir ini nihil. Bilapun ada, tentu jumlahnya sangatlah sedikit.
Sampai di sini, kita mungkin dapat menyimpulkan bahwa budaya baca kita –calon pemimpin bangsa, sangatlah rendah. Tapi tidaklah tepat bila kemudian apa yang saya paparkan di atas menjadi dasar dari penilaian tersebut. Karena bisa saja, kita tidak membaca dengan cara seperti itu. Barangkali kita membaca pada saat lain dengan kondisi yang lebih memungkinkan. Namun, benarkah itu? Membacakah kita ketika di rumah? Membacakah kita ketika di kampus atau di sekolah?
Sejauh ini, belum ada penelitian yang mendasar soal kecendrungan berapa banyak buku yang dibaca tiap tahun, tiap bulan atau bahkan tiap hari oleh masyarakat Indonesia umumnya. Hanya saja bila kita merujuk pada tulisan-tulisan Taufiq Ismail yang membandingkan pengajaran sastra di sekolah-sekolah di Indonesia dengan di negara lain.  Maka kita baru menyadari, bahwa selama ini pengajaran sastra di Indonesia adalah nol buku. Ini cukup menjadi bukti bahwa memang sebetulnya kita minim soal membaca. Taufiq Ismail lebih senang menyebutnya rabun sastra.
Hal ini, merupakan implikasi dari sistem pendidikan kita yang tidak menuntut siswa untuk membaca. Bila SMA di Malaysia siswa membaca 6 judul, SMA di Singapura 6 judul, SMA di Thailand Selatan 5 judul,  SMA di Brunei Darussalam 7 judul, SMA di Jepang 15 judul, SMA di Kanada 13 judul, SMA di Amerika Serikat 32 judul, maka di Indonesia kita akan sangat miris, karena kita 0 (nol) judul.  Padahal buku-buku sastra, dapat dijadikan alat untuk menumbuhkan rasa nasionalisme pada peserta didik. Bukankah puisi-puisi Charil Anwar mampu membangunkan semangat juang? Namun, nyatanya ini tidak disadari oleh pemerintah.
Kesadaran pemerintah terhadap pentingnya membaca memanglah sangat minim. Hal ini terbukti dari lemahnya perhatian pemerintah terhadap pendidikan. Meskipun hal tersebut kini telah meningkat dan mulai menjadi perhatian dengan program sekolah gratis dan anggaran pendidikan yang ditingkatkan.
Namun, lambatnya kesadaran akan pentingnya pendidikan itu bukan tidak berpengaruh. Selama ini sekolah yang dijadikan landasan sebagai proses pembentukan mental dan prilaku tidak dapat melakukan segala sesuatu dengan optimal guna menumbuhkan budaya baca pada peserta didik. Kita dapat melihat dari ada tidaknya perpustakaan sekolah pada setiap sekolah di tiap jenjang pendidikan. Kalaupun ada, kita lihat lagi bagaimana kondisi perpustakaan tersebut.
Mungkin kita akan miris ketika melihat perpustakaan sekolah menempati ruang kecil, tidak terawat, dipenuhi buku-buku lama, terkesan kumuh dan mirip seperti sebuah gudang (atau sebetulnya memang gudang?). Lebih banyak lagi, sekolah-sekolah menempatkan perpustakaan sekolah menyatu dengan kantor sekolah. Padahal, idealnya perpustakaan selain memiliki koleksi buku yang menunjang, juga memiliki ruangan yang nyaman yang memanjakan pembaca.
Pada tahun 2007 saja, data dari Depdiknas mengungkapkan bahwa di Indonesia hanya ada 27,6 % sekolah dasar yang memiliki perpustakaan sekolah.  Melihat jumlah ini, tentu kita sangat prihatin.
Selain itu, sebetulnya keberadaan perpustakaan sekolah sangat penting, karena perpustakaan sekolah bukan hanya untuk menumbuhkan minat baca siswa saja. Akan tetapi, lebih dari itu  merupakan alat untuk menunjang pendidikan dan kurikulum.
Melihat keadaan seperti ini, masihkah kita berharap soal budaya baca calon pemimpin bangsa?
Hal ini sungguh berbanding terbalik dengan kesadaran negara lain akan pentingnya perpustakaan sebagai surga bagi para pembaca. Perpustakaan bahkan memiliki andil besar dalam memajukan bidang edukasi maupun bidang intelektual suatu negara. Negara-negara Eropa sekelas Amerika, Inggris atau negara-negara Asia seperti Jepang telah membuktikan hal ini. Mereka menerjemahkan buku-buku untuk kepentingan bangsanya. Tidak heran bila kemudian mereka menjadi negara maju seperti saat ini.
Begitupun dengan Islam. Kejayaan Islam pada abad X di bawah binaan Khalifah Hakam II, tidak lepas dari peranan perpustakaan yang ada saat itu. 40.000 buku hasil terjemahan berbagai manuscript memenuhi rak-rak perpustakaan ketika itu yang tersebar di penjuru kota.
Untuk itu, sudah sepatutnya pemerintah memperhatikan keberadaan perpustakaan bila ingin maju . Utamanya memperbaiki perpustakaan sekolah di sekolah-sekolah hingga sampai ke pelosok desa. Bukankah kita percaya, bahwa buku itu jendela dunia?
Mengapa hal ini dianggap penting, tidak lain karena membaca itu perlu dibiasakan, dibudayakan. Untuk membudayakan hal tersebut, tentu sekolah mempunyai peran andil yang besar di tiap jenjangnya. Hal ini selalu ditekankan oleh Stephen Covey dalam upaya menumbuhkan minat baca, we first make our habbits, then our habbits make us (kita yang membentuk kebiasaan, bukan kebiaasaan yang membentuk kita).
Ketika membaca telah menjadi budaya, maka seperti yang diutarakan Stephen Covey membaca akan terasa ringan bila sudah menjadi kebiasaan atau budaya.  Untuk itu, perpustakaan yang layak, mutlak dibutuhkan oleh sekolah dalam upaya menumbuhkan budaya membaca itu.
Sebetulnya untuk menumbuhkan budaya baca tidaklah sulit. Karena membaca merupakan kebutuhan manusia. Bila makan dan minum adalah makanan jasmani manusia, maka membaca buku adalah makanan rohani manusia. Untuk makan dan minum kita tak pernah lupa, akan tetapi pada membaca? Mungkin kita sering lupa (atau bahkan sebetulnya kita tidak membutuhkannya?). Padahal, menurut Hernowo mestinya kedua hal tersebut harus seimbang.
Selain itu, Glenn Dolman berpendapat, bahwa belajar membaca itu sama mudahnya dengan belajar berbicara. Malah sebenarnya lebih mudah karena kemampuan melihat telah terbentuk sebelum kemampuan bicara . Untuk itu, sebetulnya tidak ada alasan lagi bagi pemerintah untuk memperkaya wawasan siswa dengan menumbuhkan budaya baca lewat perpustakaan.
Untuk itu, menyediakan perpustakaan sekolah yang memiliki fasilitas baik merupakan kebutuhan yang tidak dapat dielakkan. Baik pelayanan yang berupa tempat yang nyaman, ataupun koleksi buku yang bergizi –meminjam istilah Hernowo- dan sesuai dengan perkembangan zaman.
Perpustakaan sekolah harus mampu menyediakan buku-buku bermutu, tidak hanya melulu buku pelajaran karena murid akan bosan. Akan tetapi, ada baiknya bila perpustakaan sekolah dapat memenuhi rak-raknya dengan koleksi buku lain yang mampu menambah pengetahuan baik itu bersifat fiksi maupun non fiksi. Hanya saja, perpustakaan sekolah harus benar-benar mempertimbangkan koleksinya itu, jangan sampai mengandung sesuatu yang tidak baik yang akan berdampak buruk nantinya. Karena buku tidak selamanya bergizi dan layak untuk dibaca. Hal inilah yang dilansir Ali Syariati,  jika buku mengandung racun, jika buku dipalsukan, akan timbul bahaya kerusakan yang sangat besar.
Setelah sekolah menyediakan perpustakaan yang refresentatif. Maka tugas selanjutnya adalah orang tua yang mendukung anaknya. Barangkali dengan membelikan buku-buku bermutu bila perlu. Atau paling tidak, memotivasi anaknya untuk terus membaca dan menepiskan paradigma buruk tentang membaca yang biasa menghantui pembaca pemula, seperti cepat rabun, cepat botak dan lain sebagainya.
Orang tua harus mampu menepiskan hal-hal tersebut dan menyakinkan anaknya akan pentingnya membaca. Karena menurut Hernowo, sebetulnya paradigma negatif seperti itulah yang menjadi salah satu faktor menghambat seseorang untuk membaca.
Selain itu, orang tua harus memberikan contoh kepada anak-anaknya dengan turut serta membaca. Tidak hanya menyuruh saja, akan tetapi ada semacam suri teladan sehingga anak mau membaca. Karena menurut Dale Johnson dalam risetnya yang berjudul Sex Differences In Reading Accross Cultures  menyatakan bahwa mengapa anak tidak membaca, karena mereka tidak melihat ayahnya  membaca.
Untuk itu, perlu ada semacam kerjasama antara sekolah dan keluarga untuk membangun budaya membaca ini. Baik sekolah maupun keluarga harus sama-sama sadar bahwa peran mereka sangat penting dalam perkembangan peserta didik.
Dengan adanya fasilitas yang memadai dan kesadaran tersebut, barulah kita dapat berharap banyak pada budaya baca calon pemimpin bangsa. Sebagai pemuda, apakah Anda setuju?
Depok, 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s