Tak Berkategori

HA-HA-HA

Demikianlah, setiap kata-kataku selalu melahirkan tawa bagi siapa saja yang mendengarkannya. Bahkan maksud seriusku pun selalu terdengar lucu. Entahlah, ini memang bakatku sejak kecil. Ayah dan ibu yang bertengkar dulu, selalu saja tertawa renyah dengan apa yang kuungkapkan. Padahal saat itu aku ungkapkan dengan menangis. Namun, entahlah kenapa ayah dan ibu malah tertawa.
Menurut teman-temanku ketika aku sekolah, aku memanglah lucu. Bahkan tanpa bersuara pun aku akan tetap membawa mereka tertawa.
“Tingkahmu itu lucu Ajib,” ujarnya padaku. Awalnya memang aku begitu risih dengan sikap orang-orang kepadaku. Seakan-akan aku tak dihargai. Namun, ketika aku berpikir ulang. Ternyata aku dapat memberikan kesegaran hidup kepada siapa saja. Temanku yang diputus cintanya, langsung tertawa. Temanku yang nilainya buruk, langsung tertawa. Temanku yang ayahnya meninggal, langsung tertawa. Temanku yang banyak masalah, entah mengapa, pun dapat tertawa. Inikah keajaiban yang Tuhan berikan padaku?
Aku pun jadi terbiasa pada mereka yang menertawaiku. Mereka pikir aku gila, tapi aku pun demikian, berpikir mereka gila. Ah, apakah mengupil itu salah? Apakah menggaruk-garuk kapala salah? Apakah mengorek kuping salah? Apakah tersenyum salah? Apakah cadel salah? Apakah kebelet buang air kecil salah? Kenapa mereka selalu menertawaiku untuk perkara yang aku pikir wajar? Merekalah yang gila bukan?
Tapi beginilah nasib seseorang bernama Ajib, seseorang yang memiliki mata pelo dengan hidung pesek, gigi ompong di tengah dan tidak tumbuh-tumbuh, rambut sedikit kriting, yang selalu malas untuk disisir. Jangan pernah tertawa di hadapannya, kalau tidak mau dianggap gila olehnya. Ah, aku mulai membatin lagi.
“Jangan mengeluh, hidup itu perlu disyukuri. Pasti ada hikmah dari semua ini. Buktinya, kau selalu membuatku bahagia sayangku,” ujar Manda, istriku itu. Ya, akupun selalu berpikir demikian. Terima kasih cintaku. Kau adalah satu-satunya orang yang tertawa, tetapi tak pernah menyakiti hatiku.
Tapi kali ini, aku benar-benar kesal pada mereka yang menertawaiku. Di sini, di perusahaan ini. Mereka tak ada yang percaya bahwa aku melihat sendiri ada yang berusaha menghancurkan perusahaan ini dengan menggelapkan uang perusahaan. Mereka hanya tertawa dan tertawa mendengar penjelasanku.
“Aku selius, ada olang yang ingin menggelapkan uang kantol,” ujarku. Sedikit memaksa mengungkapkan huruf r dengan l. Tetapi tetap saja hasilnya nihil.
Rekanku malah menyela dan menyebut alat kelamin laki-laki. Tawapun membahana.
“Ha-ha-ha…”
“Benal, aku tidak bohong. Aku selius!” aku berusaha menyakinkan mereka meski aku tak yakin mereka mendengarkanku.
“Ha-ha-ha,” mereka kembali menertawaiku.
“Jangan menyesal nanti, bila apa yang kuungkapkan ini benal adanya!” aku mulai bersungut marah dan tanpa sadar aku memulai kebiasaan burukku saat marah, mengupil.
“Ha-ha-ha…” kali ini mereka tertawa lebih keras. Orang yang kumaksud pun malah tertawa tidak kalah kerasnya. Namun disela tawanya, ia sempat melirikku tajam. Dan ia tertawa lagi. Mencabik hatiku.
Aku pergi berlalu dari kantor. Aku yakin apa yang kudengar tadi siang tidaklah salah. Joni berniat menggelapkan uang besar-besaran. Mungkin saja, bila ia benar-benar menjalankan niatnya itu. Kantor ini tinggal menghitung jari saja untuk menunggu kebangkrutannya.
Joni mencegatku di lapangan parkir. Ia berbisik di telingaku.
“Jangan macam-macam! Kau tahu, apapun akan aku lakukan, termasuk menyingkirkanmu!”
Tak jelas kata menyingkirkan di sini. Namun aku tak peduli. Meski ia akan membunuhku, meski aku akan dikeluarkan dari kantorku. Aku tak peduli.
“Katakan yang benar, mesti itu pahit,” aku ingat betul kata kakekku itu. Ya, aku harus mengatakan sesungguhnya meski nyawa taruhannya. Tapi apakah itu tidak begitu pahit?
Hari-hari selanjutnya akupun mulai menilik, menguntit. Berusaha mengumpulkan bukti. Biarlah mereka menertawaiku. Aku yakin aku benar. Dan bukankah kebenaran harus diungkapkan?
Akhirnya aku menemukan data yang kumaksud dan aku langsung memberi laporan. Walaupun pada awalnya bos tertawa mendengar laporanku, tapi setelah ia melihat berkas-berkas yang kukumpulkan. Tawanya hilang. Dan kini malah balik melototiku. Aku tak tahu kenapa bos malah marah kepadaku.
“Kau pikir kau pintar Jib? Kau hanya seorang badut. Tak usah kau memikirkan hal-hal seperti ini. Kau hanya membuat orang tertawa, bukan membuat orang masuk penjara.”
Selanjutnya kata-kata bosku benar-benar menyakiti hatiku. Aku tahu kemudian bos adalah termasuk bagian dari skenario penghancuran perusahaan ini. Memang perusahaan ini adalah anak cabang. Semua dipercayakan pada orang lain. Kini, bos itu mengkhianati pemilik perusahaan. Dasar kutu busuk!
“Bila kau macam-macam lagi. Kau akan aku…,” ujarnya terputus. Tapi isyarat tangan yang menggorok lehernya begitu jelas maksudnya kutangkap.
Aku memutuskan keluar dari perusahaan, aku pikir kata-kata bos benar. Aku seharusnya memang menjadi seorang badut. Tapi entah mengapa aku malah memilih menjadi politikus.
Mungkin aku begitu tergelitik pada rapat mereka yang sering adu mulut, adu mental dan terakhir sedikit kasar, adu jotos. Aku akan membuat mereka tertawa, perubahan tidak selamanya diawali dengan darah bukan? Kecuali mungkin bila kita dijajah.
Akhirnya aku mulai jadi bagian politik, sejak rapat pertamaku. Tak sedikit yang tertawa.
“Intlupsi!” ujarku.
“Ha-ha-ha…,” mereka tertawa. Pimpinan sidang pun ikut tersenyum.
“Undang-undang polno glafi halusnya cepat-cepat disahkan…,” lanjutku sambil mengungkapkan alasanku panjang lebar.
Pernyataanku hanya ditanggapi dengan tawa, dan akhirnya rapat diakhiri dengan tawa. Tidak ada adu jotos bukan?
Begitulah rapat berjalan dengan tawa, sampai pada suatu saat aku mulai membenci pimpinan rapat. Karena aku kembali menemukan sesuatu yang ganjil. Uang sogokan. Aku mendadak tak lagi menganggapnya berwibawa. Dan ia pun demikian. Rasanya ia mulai was-was dengan keberadaanku. Akupun mulai disingkirkannya dengan berbagai cara. Puncaknya, tawa yang biasa ada di sidang. Akhirnya mengusirku dari rapat.
“Saudara Ajib dianggap mengganggu ruang rapat. Rapat jadi tidak kondusif,” ujarnya pada wartawan saat kubaca headline sebuah surat kabar pagi harinya. Aku tersungut. Naluriku mengatakan, aku harus membongkar semua kebusukannya. Aku tahu. Yang benar, haruslah diperjuangkan.
Tertawa dan tertawa, itulah yang kemudian aku dengar tanggapan dari semua rekan-rekanku.
“Dia itu disogok! Pelcaya padaku! Aku belkata benal,” aku menyakinkan.
Namun seperti yang telah kubayangkan mereka hanya menanggapinya dengan tawa. Aku kesal, dan aku mulai mengeluarkan kebiasaan burukku, mengupil.
“Dasal!” sungutku kesal meninggalkan mereka.
“Ha-ha-ha…,” jawab mereka dengan tawa yang membahana. Kali ini terdengar seperti sebuah belati yang menusuk hatiku. Sakit. Sakit sekali.
Sore harinya, menjelang shalat ashar. Aku mendengar percakapan kecil dari sudut kantor, tak jauh dari tempatku berdiri.
“Dia pikir di sini tak pernah ada yang disogok? Ah, dasar badut! Kenapa badut seperti itu bisa menjadi politikus?”
“Tapi, bukannya kita juga badut?” ujar yang lain.
“Ha-ha-ha…,” mereka tertawa.
“Tapi bukan badut yang bodoh!” lanjut yang lain.
“Ha-ha-ha…,” mereka tertawa kembali.
Saat seperti itu, ingin rasanya memiliki sebuah senjata. Dan akan aku bidikkan tepat di kepala mereka. Tapi, bukannya aku hanya badut bodoh? Mana mungkin bisa mengokang senjata? Ha-ha-ha… aku mulai tertawa pahit dalam hati.
Tapi beginilah yang akan dilakukan badut bodoh itu. Aku hantam muka mereka dengan tanganku. Meski dua-tiga pukulanku mengenai mereka. Tapi kemudian merekalah yang malah menghantam diriku dan membuatku tak sadarkan diri.
Aku baru sadar ketika aku telah berada dalam rumah sakit. Seorang polisi terus mengawalku. Aku memintanya membacakan sebuah surat kabar. Karena sekitar mataku masih memar. Aku mendengar samar kata-kata polisi itu. Tapi yang jelas, polisi itu berkata bahwa aku dipenjara karena melawan saat dituduh menerima uang sogok.
Ah, pahit rasanya. Mereka memang badut yang pintar. Memiliki banyak topeng untuk mengelabui siapa saja. Aku pikir mereka akan menertawaiku. Meski aku tak mengupil, meski aku tak menggaruk-garuk kepala, meski aku tak megorek kuping, meski aku tak tersenyum, meski tak mendengar suara cadelku, meski tanpa diriku di antara mereka. Aku yakin mereka akan tetap tertawa. Karena memang mereka gila!

Untuk Zainal “keler” Abidin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s