Cerpen

BIBIR GELISAH

Di bibir gelisah itu aku menemukan jawaban. Meski semula tampak tak sempurna, tapi semakin lama semakin nyata. Itulah bibir gelisah. Aku melihat bibirmu bersuara untuk sesuatu yang tak pernah ada. Begitukah engkau menyembunyikan sesuatu yang nyata Sun?
Sun memang bukanlah perempuan biasa, jalan yang dilaluinya dengan pinggul bergoyang selalu menyisakan rindu di dalam hatiku. Lihat saja bagaimana ia menopang makanan di atas kepalanya untuk diberikan kepada bapaknya. Gemulai betul jalannya. Menggiurkan kejantananku. Namun Sun tetaplah Sun, ia berpura-pura tak pernah peduli denganku seperti juga ia berpura-pura tak peduli pada sengat matahari yang membakar kulitnya.
Sudah seminggu aku menetap di Kedungdung, Sampang, tepatnya di salah satu kabupaten di Madura. Aku lihat matahari yang lebih panas dari ibu kota menyengat pepadi. Tenggorokan keringku, kubasahi dengan kopi buatan pamanku, Rifin. Baru saja ditumbuk, terangnya padaku. Tapi ini memang begitu nikmat, terlebih untuk mengingat kenangan yang pernah memenuhi hatiku.
Sun, kenapa kau tak ikut denganku? Tidakkah kau tahu aku selalu rindu padamu? Aku membatin.
Pamanku telah lama tahu ceritaku itu. Karena pamanlah yang memberi tahu nama perempuan itu. Nama perempuan yang selalu kuingat dalam mimpi-mimpiku. Sunah.
“Panggil aku Sun saja,” saat pertama kali aku bertemu dengannya di pematang sawah.
Dan di tiap pertemuan Sun selalu membuatku mabuk kepayang. Senyumnya. Duh, aku selalu ingin di dekatmu Sun. Aku selalu ingin memelukmu. Selalu ingin mencium bibirmu Sun. Tetapi mengapa kau malah tak ikut bersamaku?
“Aku hamil Mas,” ujarmu ketika itu.
“Aku akan mempertanggungjawabkannya Sun…,” aku menjawab sambil membiarkan Sun melelapkan kepalanya di dadaku. Saat itu bulan tampak tak sempurna. Gemintang hanya sedikit di tubuh langit. Aku dapat menghitungnya, meski itu tak kuinginkan. Aku hanya ingin memeluk Sun lebih erat. Tapi kemudian pipi Sun basah. Aku dapat melihat jelas air mata itu jatuh begitu derasnya. Aku tak tega Sun. Jangan kau menangis. Tapi sun terus menangis, dan dalam isaknya ia berkata.
“Bapak tahu, ia akan membunuhmu Mas….”
Sun memelukku begitu erat. Seerat bulan memeluk tubuh Ilalang. Hingga bayang-bayang tubuh kami hilang di antara semak tinggi ilalang.
“Aku tak takut Sun. Biarkan aku mati karenamu Sun,” entah mengapa aku menjawab seperti itu. Mungkinkah cinta membutakan kita? Bahkan untuk nyawa pun tak lagi menjadi berharga. Aku pikir, begitulah adanya.
“Tidak Mas, kau harus pergi,” lanjutnya.
“Mengapa begitu?”
“Aku tak mau Mas mati. Aku mau Mas hidup!”
“Aku akan pergi. Tetapi aku tak sendiri Sun. Aku akan pergi bersamamu.”
“Tidak Mas, aku tidak akan ikut bersamamu,” bibir Sun gelisah. Bibir Sun getar oleh sesuatu yang sebenarnya tak dikehendaki nuraninya.
“Mengapa?”
“Mas tahu jawabannya,” ujarnya menatap sendu kepadaku.
Aku tak bisa berkata apa-apa saat itu. Aku hanya mengingat tentang nasib kami yang sebetulnya tak berpihak. Sejak awal aku tahu, Sun adalah perempuan yang akan dilamar Kiai Somad. Padahal Kiai Somad sudah memiliki lima orang istri. Sun istri keenamnya bila jadi. Tapi aku tak akan membiarkannya. Tapi mengapa Sun tak mau pergi denganku? Mengapa ia lebih memilih hidup tanpa cinta?
“Bapak ingin menjadi orang terhormat Mas. Mas tahu siapa Kiai Somad bukan? Ia Kiai tersohor di daerah kita. Mendapat besan seorang Kiai merupakan kebanggaan bagi siapapun. Termasuk keluargaku Mas,” terang Sun.
“Bukankah Kiai Somad sudah tua Sun? Ia tak pantas untukmu Sun.”
Sun hanya diam mendengar kata-kataku. Ia kemudian menatap bulan. Malam ini seharusnya malam yang menyenangkan. Malam di mana angin membuat diriku semakin merangkul Sun. Tetapi kami hanya terus menangis.
“Bagaimana dengan janinmu Sun?”
“Aku akan mengaku ini anak Kiai Somad. Itu pula yang diinginkan keluarga. Tak ada seorangpun yang mau mengampuni pezina seperti kita.”
Aku memandang langit. Anak-anak cahaya berkelap-kelip di langit. Di hatiku seperti ada sesak yang terus memburu. Dan sepertinya aku mulai tak kuasa membendung air mata.
“Mas harus segera pergi.” Sun berujar kemudian meninggalku begitu saja. Aku masih mengingat bibir gelisahnya. Aku yakin setiap getarnya merupakan elakan yang tak tertahankan di hatinya.
Pamanku mengajakku masuk ke dalam rumah, membuyarkan seluruh kenanganku.
“Tak enak kepada keluarga Sun. Kau telah banyak menyakiti mereka. Termasuk Sunmu itu. Untung saja Sun keguguran. Tak bisa kubayangkan bila anak itu berlari-larian di lingkungan pesantren sambil diciumi oleh Kiai Somad,” ujar paman menegurku. 
Kata-kata pamanku menggelitik diriku. Aku berderai tawa. Entah mengapa aku merasa menang untuk sementara waktu. Setidaknya kesucian Sun tak direngguh oleh lelaki tua bangka itu. Aku telah begitu membencinya karena kekalahanku terhadap cinta. Tetapi pada sisi lain, sebetulnya aku tetap menghormatinya karena Kiai Somadlah yang mengajariku huruf arab dan kearifan pepadi, semakin berisi semakin tunduk pada ilahi.
Ah, sebenarnya alangkah indah dahulu. Saat aku dan Sun berlarian kecil menuju langgar untuk mengaji. Letaknya yang jauh dari rumah kami, membuat kami datang lebih awal dan sedikit berlari. Hampir setengah jam kami tempuh dengan berjalan kaki. Sekali waktu kami berhenti untuk membuka sandal kami. Karena kami harus melewati sungai yang sedikit dangkal namun lumpurnya membuat kaki kami terperosok hingga lewat mata kaki. Saat itu Sun mulai mengangkat roknya hingga sepaha. Dan mataku bersembunyi melihat putihnya kulit Sun.
Ah, beginikah nafsu itu Sun? Meski kau sebetulnya tahu mataku mengintip, tetapi kau tak pernah memarahiku. Terkadang kau malah membiarkan mataku itu melihatnya. Apakah itu karena cinta? Ah entahlah, yang jelas kau tak pernah membiarkan tubuhmu saat itu dilihat siapapun kecuali padaku.
Dan apa yang kuduga selama ini memang benar Sun. Kau pura-pura jatuh saat berjalan lalu memelukku. Saat malam yang gelap dan sepi, saat kita hanya berdua di bawah bulan yang terangnya sempurna. Kau peluk aku, dan bahkan kau cium pipiku.
Aku mengerti saat itu. Akupun mengungkapkan segala gundahku selama ini. Segala prihal yang selalu kuimpikan tentangmu Sun. Saat itu kau berbisik untuk selalu setia padaku. 
Hingga sampai pada malam di mana bulan menikam hati kita. Aku membaringkanmu pada bilah-bilah ilalang kemudian mencumbumu di sana. Beginikah jahatnya malam terhadap siapapun yang sedang berdua dan jatuh cinta? Kita begitusaja khilaf padahal Kiai Somad belum lama berbicara tentang neraka di telinga kita, tentang rajam bagi para pezina.
Aku membaringkan tubuhku di atas kasur. Terasa pahit sebetulnya mengenang hal itu. Tetapi aku tak pernah bisa menghapusnya. Ah, andai bapak dan ibu ada. Sebelum Kiai Somad datang meminang. Akulah yang lebih dahulu memberi tanda pada ikatan cinta kita. Tapi menyalahkan orang yang tak pernah peduli padaku, bukankah itu hal yang sia-sia?
Hingga kini bapak tak pernah lagi berkirim kabar. Entah di mana bapak sekarang. Bapak pergi setelah menceraikan ibu. Ibu pula tak pernah kembali dari Malaysia. Perpecahan yang selalu membumbungkan amarah di rumah membuatku tak nyaman dahulu. Namun keberadaanmu di hatiku Sun, selalu membuatku tenang. Tetapi kenapa kau kini tak menemuiku lagi? Apakah kau telah begitu nyaman dengan Kiai Somad? Atau mungkin kau takut aku mati?
Aku tahu Sun. Kau tak pernah sudi melihatku mati. Tatapan mata celurit yang diacungkan ayahmu padaku dulu, memang seperti mendekatkan ajal di leherku. Tetapi apakah hidup akan lebih baik dari kematian? Entahlah Sun. Meski saat ini aku dapat menikmati bulan. Tetapi diriku terasa mati karena bulan hanya kunikmati sendiri. Tidak dengan rumpun ilalang, tidak pula denganmu Sun.
Saat aku pergi jauh darimu Sun. Kaulah yang hadir dalam mimpi-mimpiku Sun. Walau Kiai Somadlah yang berhak atas tubuhmu. Tetapi aku memiliki hatimu Sun. Aku tahu Sun, saat Kiai Somad melamarmu. Kau hanya menangis terus. Aku tahu kau ingin menolak, tetapi kau tak kuasa menahan kehendak keluarga. Bahkan saat kau mengandung anakku pun, mereka tak peduli. Bagi mereka, Kiai Somad menjadi penolong martabat keluarga. Tetapi sebetulnya itu musibah besar bagi cinta kita Sun.
Keluargamu pun mengusirku dan dengan tegas melarangku untuk tidak menemuimu lagi Sun. Sun, bukankah rasa sakit hati itu tidak kalah perih dari mati?
***
Entah dari mana Sun datang. Ia tiba-tiba saja ada sejak aku terbangun dan duduk di tepi kasur. Aku merasa heran.
“Kau tidak sedang bermimpi Mas,” Sun berujar. Suaranya terdengar pelan.
Aku ingin menggapai tangan Sun. Tetapi Sun malah menarik tangannya. Akupun urung melakukannya.
“Kau tidak berhak lagi Mas. Aku telah menjadi milik orang lain,” lanjutnya.
“Tetapi aku masih cinta Sun.” Aku menatap mata Sun berusaha mencari cinta yang barangkali tersimpan di dalamnya.
“Cinta selalu membuat kita buta Mas,” ujar Sun sambil memalingkan wajahnya. Matanya kini mulai sembab. Seperti mendung, sebentar lagi mungkin hujan turun dari mata Sun.
“Tetapi bukankah kau masih cinta kepadaku Sun?”
“Aku tidak akan mengulangi kesalahanku lagi. Aku tak buta karena cinta Mas.”
Sun kembali mengelak. Aku terhenyak pada kata kesalahan. Apakah cinta salah? Di manakah nilai benar dan salah? Orang yang mengkhianati kata hati atau orang yang saat ini lebih merasa beruntung bila mati.
“Kesalahan?” tanyaku kemudian heran.
“Ya Mas, aku milik orang lain. Aku tidak berhak mencintai seorang pun kecuali suamiku. Cintaku hanya untuk suamiku.”
Aku biarkan sunyi merayap kamarku. Sun mulai tak tahan pada kesunyian. Ia sembunyikan kesedihan. Matanya menanam anak hujan.
“Aku tahu Sun, kau masih cinta padaku.”
“Aku berkata jujur. Aku tahu Mas masih berharap padaku. Tetapi aku tak akan membuat kesalahan lagi.”
Kali ini Sun tak tahan. Bibirnya mulai gelisah sedang mendung di matanya akhirnya pecah melahirkan anak-anak hujan di pipinya.
“Kau pasti masih cinta padaku Sun…” ujarku terus menekan Sun. Aku ingin kepastian meski itu akan menambah merah sedih di matanya.
Sun tak lagi bicara. Dan kesedihanlah yang kemudian merayapi sisa-sisa sepi. Sedang aku terdiam. Aku tak sanggup berkata-kata lagi. Aku mulai menyesali kata-kata yang keluar dari mulutku tadi. Ingin rasanya kupukat kembali, lalu kusimpan dalam hati bersama ribuan perih.
“Sun benci! Sun tak cinta pada Mas!”
Lagi-lagi Sun mulai memberikan bibir gelisahnya kepadaku bersama deras air matanya yang luruh. Sun kemudian keluar kamar dan aku mengejarnya di belakang.
“Sun…”
Saat kata-kataku keluar. Aku nyaris terhenyak. Karena Sunku memeluk Kiai Somad begitu erat. Isaknya ia lelapkan ke dalam tubuh subur Kiai Somad. Aku hanya terpaku membisu saat Sun mengajak Kiai Somad untuk segera meninggalkan rumah. Jejak-jejaknya seperti menyanyat hatiku yang terluka. Semakin jauh, semakin luka hatiku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s