Cerpen

NYIBU

Ketika aku masih sibuk menghitung pendapatan tokoku hari ini, tiba-tiba dua orang berwajah cemas datang mengetuk pintu rumahku.
“Kamu harus pulang sekarang Cong!” kata seseorang bersongkok hitam dengan tinggi yang cukup mencolok.
Aku terdiam tak menanggapi.
“Tolonglah, untuk sekali ini saja,” ujar satunya memelas di sela asap tembakau yang dihisapnya.
Aku mengerutkan keningku, kutahu mereka berdua adalah Mat Hadi dan Dul Kosim, tetangga rumahku. Hal apakah yang membuat mereka sampai datang ke sini?
Istriku datang menyediakan dua kopi pahit pada mereka. Mereka sedikit memperhatikannya.
“Istrimu?” tanya Mat Hadi setelah istriku meninggalkan ruang tamu.
Aku mengangguk menjawab pertanyaan mereka. Pertanyaan ini membawaku pada masa silam, tepatnya lima tahun yang lalu. Ketika itu, aku mengutarakan ingin menikah dengan Halimah yang saat ini menjadi istriku. Namun dengan tegas rama menolak permintaanku itu.
“Tapi kenapa Rama? Apa yang membuat Limah tidak pantas menjadi istriku? Ia sholihah, ia juga cantik,” aku mengungkapkan apa yang aku kenal dari Halimah. Selain itu, tentu karena dirinya sangat pengertian dan perhatian padaku.
“Pokoknya tidak!” bentaknya. “Aku tidak akan merestui pernikahanmu!” lanjutnya dengan suara yang mengeras bagai halilintar. Kemudian ia keluar rumah dengan membanting pintu lantas terdengar sesungutan kecilnya.
“Dasar anak tidak mau diuntung!”
Ketika itu ibu ada di sana, ia datang memelukku. Aku tahu, ibu sangat menyetujui hubunganku dengannya. Terlebih, karena ibu sendiri tahu siapa Halimah. Ia sendiri kadang datang kemari untuk sekedar membantu ibu walaupun rama selalu bersikap dingin padanya.
“Sabar ya Nak!” katanya lirih.
Dua orang di hadapanku menyeruput kopi pahitnya, lalu menatapku sembari menanti reaksiku.
“Memang ada apa?” tanyaku kemudian.
“Nyibu. Masa kamu tidak ingat?” ujarnya sembari memastikan bahwa aku tidak lupa budaya kampung kami dalam memperlakukan orang meninggal.
“Ya, aku ingat. Tapi, bukankah tanpa kehadiranku acara itu tetap berjalan bukan? Ketika penguburannya aku tidak datang tak ada masalah, kenapa untuk nyibu aku harus datang?”
Wajah di depanku memucat melihat tanda-tanda aku akan menolak permintaan mereka. Sepertinya ada kisah yang ingin mereka ceritakan. Namun aku tak begitu peduli pada mereka, aku hanya ingin mengingat segala yang telah terjadi antara aku dan rama.
“Rama tidak ada di sini!” ujar ibu begitu cemas di telingaku. Ketika itu tamu sudah banyak yang datang dalam acara pernikahanku dengan Halimah. Aku pikir rama telah merestui hubunganku dengannya. Namun, betapa kecewanya aku. Ia benar-benar tidak hadir dalam pernikahanku! Aku masih ingat betul malam itu. Ia telah merestuiku, walaupun dengan nada kecewa.
“Menikahlah! Kalau perlu kau gantung Ramamu ini!” kemudian ia masuk ke dalam kamar. Aku menatapnya bingung, seperti biasa ibu datang kemudian mengiyakan. Lalu akupun bersiap-siap dengan berbagai hal yang berkaitan dengan acara pernikahan.
Tapi kenapa ia tak datang sekarang? Tamu semakin banyak, namun batang hidungnyapun tak ia tunjukan.
“Bagaimana ini Bu?!” tanyaku begitu khawatir.
“Biar Ibu menyuruh Pamanmu untuk menggantikan Ayahmu,” ujar ibu menenangkan.
Dan hari bersejarah dalam hidupku pun tak dihadiri rama. Semua orang bertanya-tanya. Namun aku akan selalu menjadikannya rahasia.
“Tolonglah! Untuk kali ini saja,” Dul Kosim berusaha merayuku.
“Memang kenapa?” tanyaku melihat mereka begitu memaksakan.
Mereka berdua berpandangan, seraya saling menyakinkan bahwa apa yang kelak dikatakan memiliki dua kemungkinan. Percaya atau tidak.
“Ibumu melihat arwah Ramamu sering mundar-mandir di kebun belakang rumah,” ujar Mat Hadi, terdengar seperti berbisik.
“Ibu melihat arwah Rama! Bagaimana bisa?”
Mereka berdua menggeleng, “Itulah yang kami takutkan, kami tidak tahu masalahnya,” lagi-lagi suara Mat Hadi terdengar begitu haru.
Aku begitu bingung, antara pecaya atau tidak. Tapi, sepertinya aku harus benar-benar pulang ke rumah. Aku juga sudah begitu rindu pada ibu. Aku dan Halimahpun bersiap-siap, anakku Rudi kubangunkan. Malam itu juga kami pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan aku masih memikirkan apa yang terjadi pada rama, kenapa arwahnya bergentayangan?
***
Aku menggendong anakku ketika aku turun dari mobil yang kutumpangi, istriku berjalan di belakangku. Orang-orang sudah ramai ketika kami memasuki pelataran rumahku. Tembok berwarna putih, jendela biru masih terlihat seperti dulu.
Di beranda itu, aku masih mengingat rama sering duduk di sana sambil mengisap tembakau plintirannya. Ia selalu menyisipkan tembakau hasil panennya untuk kemudian ia hisap.
Sebelum kehadiran Halimah dalam hidupku, hubunganku dengan rama sangatlah baik, tidak sering kami bergurau dengan keramahan-keramahan yang kami miliki. Kadang ladang luas tembakau, kami rawat bersama.
Namun, ketika rama mengatahui bahwa aku dan Halimah menjalin hubungan asmara, ia mulai bersikap dingin padaku. Entah apa yang membuat dirinya berubah. Apakah aku salah untuk menyayangi orang yang kucintai?
Ah, rama! Kenapa kau melahirkan tanya pada anakmu ini? Kau tak pernah menjelaskan kenapa kau tidak suka Halimah, padahal sebagai perempuan, ia setidaknya telah memenuhi syarat sebagai perempuan yang sholihah. Ibadahnya yang rajin, tutur katanya yang halus, juga perangainya yang menurutku begitu luhur. Namun kenapa kau tak menerimanya rama?
Ketika aku masuk ke dalam rumah, banyak ibu-ibu sedang mempersiapkan Lemas, sejenis makanan terbuat dari nasi yang dikukus kemudian dibungkus dengan janur, sebagai perekat janur tersebut tujuh buah jarum ditusuk rapi disela-selanya.
Aku bertemu ibu, ia tampak begitu mengharap kedatangan kami, itu terlihat dari sinar matanya. Aku memelukya begitu erat kemudian menyalaminya dengan kerinduan yang luar biasa, istrikupun begitu. Setelah itu, kami bersalaman dengan beberapa orang yang ada di sana, istriku melibatkan dirinya dalam pembuatan nasi kepel untuk acara nanti malam.
Aku sendiri mengikuti ibu masuk ke dalam kamar, aku begitu penasaran kenapa arwah ayah bisa bergentayangan. Aku melihat kamar itu, masih seperti dulu. Sempat terbayang dalam pikiranku, bagaimana rama menghembuskan nafas terakhirnya tanpa kehadiranku. Aku sedikit menyesal atas perilakuku selama ini terhadapnya. Harusnya aku tahu diri, walau bagaimanapun ia adalah ramaku. Orang yang selama ini telah merawatku.
“Bu, ada apa dengan Rama?” aku menanyakannya dengan begitu hati-hati. Ia menatap diriku. Cukup lama, beberapa saat aku merasakan angin dari timur masuk melalui celah jendela kamar itu.
“Kau tampaknya lelah, lebih baik kau istirahat terlebih dahulu, nanti malam kita akan tahlilan bukan?” ujarnya begitu ramah. Ia tetap seperti dulu, begitu mengerti diriku. Perjalanan Surabaya-Sampang memang terbilang cukup jauh, aku butuh empat jam untuk sampai ke sini, terlebih bila kapal feri menuju Madura begitu padat. Untunglah aku mengambil perjalanan malam hari, hingga sampai di sini tepat ketika matahari baru muncul dari bukit-bukit gersang dekat rumahku.
***
Aku masih mempersiapkan komkoman ketika tamu sudah berdatangan. Seorang kyai memimpin acara tahlilan malam itu, aku membaca surat yasin begitu khusuk. Beberapa hidangan yang sudah disiapkan semenjak pagi akhirnya dikeluarkan di puncak acara. Aku mundar-mandir menyalurkan makanan itu bersama beberapa kawan lamaku.
Setelah itu, sesegara mungkin aku mempersiapkan sandal, bantal, baju, pakaian, payung dan berbagai aksesoris kehidupan lainnya untuk kemudian disedekahkan bagi tamu yang hadir, setelah itu merekapun pulang.
Beberapa tamu lainnya diminta untuk tetap tinggal di rumah, kami berniat mengadakan khataman Al-Quran sebagai puncak acara malam ini. Mataku mulai mengucur air mata ketika surat Al-Ahqaaf mulai dibaca. Aku merasa baktiku tak ada apa-apanya terhadap rama. Ibu yang melihatku menangis, memelukku.
“Kau tidak salah Nak, Rama sudah memaafkanmu,” kata-katanya seakan berusaha menenanganku.
“Seharusnya Ramalah yang meminta maaf padamu,” lanjutnya kemudian. Aku mengerutkan keningku. Ibu tampak paham, kemudian ia pun mulai menjelaskan.
“Rama ingin kau memaafkannya, karena selama ini ia telah berlaku salah padamu. Sebenarnya, itu semua karena ia kecewa padamu. Ia sudah terlanjur berjanji pada teman lamanya untuk menikahkanmu dengan anaknya.”
“Kenapa Rama tidak cerita?” tanyaku masih dalam sesengukan
“Itulah Ramamu…”
Aku masih terus mengaji hingga doa khatam Al-Quran dilantunkan, aku melakukan itu dengan sungguh-sungguh. Aku hanya berharap arwah rama tenang, sebab menurut beberapa temanku, biasanya arwah yang bergentayangan disebabkan arwahnya tidak tenang. Ah, entah itu benar atau tidak, yang aku ingin lakukan saat ini adalah melakukan apa yang dapat aku lakukan untuk rama. Itu saja, kalaupun itu benar, aku sangat bahagia. Aku harus cepat istirahat, karena besok pagi aku harus mengganti nisan rama dengan nisan yang telah diukir cukup indah di atas pualam.
Esoknya, ketika adzan magrib telah dikumandangkan. Ibu berteriak-teriak histeris dari dalam kamarnya. Aku dan istriku segera menuju ke sana, ia menunjuk-nunjuk ke arah jendela yang terbuka, aku dan istriku tak melihat apa-apa. Namun ibu terus berteriak menyebut nama rama.
Sudahkah aku ikhlas memaafkannya? Entahlah, kurasa hatiku masih petir….

Sampang, 18/12/2006

Keterangan:
Nyibu: Budaya Madura untuk memperingati hari keseribu kematian seseorang.
Rama: Panggilan untuk ayah
Nasi Kepel : nasi ini dibentuk bulat-bulat sebanyak lima buah kemudian ditumpuk rapi dan disetiap nasi tersebut ada sebuah cabe mengkhiasinya
Komkoman : Komkoman terdiri dari bunga tujuh rupa, biasanya orang Madura menyebutnya dengan bunga pasar. Aroma komkoman ini begitu khas, semacam kemenyan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s