Cerpen

PELAJARAN PPKN

Pagi itu, seorang bocah perempuan, berambut ikal, berkulit sawo matang. Sedang duduk termenung di taman sekolah, di antara bunga-bunga yang bermekaran. Di atasnya kupu-kupu sedang asyik bertebangan. Dan di antara cericit burung yang terdengar merdu dari balik ranting pepohonan.
Tapi suasana itu tak dirasakan Mikyal. Hatinya begitu keruh, keringat dingin membasahi keningnya yang lebar.
Ia masih ingat betul atas apa yang dikatakan oleh gurunya bahwa pagi ini gurunya itu akan mengadakan ujian bulanan yang telah mereka sepakati. Kali ini materi yang akan diujikan adalah pelajaran PPKN. Pelajaran yang amat dibenci oleh Mikyal, pelajaran yang sulit ia mengerti walau sekedar untuk ia pahami, palajaran yang paling memuakkan. Pelajaran yang menurut taman-temannya adalah pelajaran yang paling mudah untuk dicerna, apalagi untuk sekedar menjawab soal-soalnya, tapi hal ini ia rasa tidak untuknya.
Bel masuk terdengar beberapa kali berdentang, jantung hatinya dengan seketika berdegup kencang. Sementara keringat dingin mulai mengalir kembali, bahkan kini aliran itu kian deras ia rasakan. Dan hatinya pun mulai bergejolak, tak kalah dahsyat dengan peluh yang membanjiri keningnya yang mulai merambat ke tubuhnya. Keadaan hatinya itu tidak dapat ia lukiskan walau hanya dengan kata-kata.
Di dalam kelas pagi itu seperti biasa. Teman sebaya Mikyal tetap bermain angklung, bahkan masih ada yang bermain cinta monyet dengan selembar surat yang melayang berbentuk seperti pesawat. Mereka seakan-akan tak menggubris ulangan yang akan mereka hadapi. Apakah mereka sudah pintar semua? Ujar Mikyal membatin. Atau malah mereka lupa? Yang jelas kedua jawaban itu tidak akan mengubah keadaan hatinya saat ini.
Kembali ia rasakan keadaan menjadi begitu galau, ketika dilihatnya guru PPKN itu mulai masuk ke dalam ruangan dengan salam dan senyumnya yang khas, kacamata yang menempel di matanya seakan-akan ia ingin dianggap sebagai seorang yang keintelektualannya tak tertandingi, Mikyal dapat membaca itu ketika ia hampir setiap kali melakukan gerak-gerik sambil memegang kaca matanya yang tak ber-min juga tak ber-plus itu.
Keringat semakin deras ia rasa, hampir setiap keringat dingin yang menetes selalu ia usap dengan cepat, agar tak menimbulkan keanehan, tapi ternyata karena ulahnya itu malah membuat teman yang duduk di sampingnya menangkap keanehan yang ada padanya.
“Mikyal kamu kenapa?” Tanya temannya yang berlagak antusias.
“Ah, tidak apa,” jawab Mikyal sekenanya.
“Kamu sakit perut?” tanyanya lagi.
“Ah, tidak.”
“Kamu ingin buang air besar?”
“Ah, tidak.”
“Kamu sakit panas?”
“Ah, tidak.”
“Kamu ingin muntah?”
“Ah, tidak.”
“Kamu sakit magh?”
“Ah, tidak.”
“Atau, kamu belum makan?”
“Ah, tidak juga.”
“Lantas kamu kenapa?” tanyanya penasaran.
Sebelum Mikyal menjawab dan memang ia tak berminat untuk menjawab pertanyaan tersebut. Mata pak guru dari balik kaca matanya menatap Mikyal tajam. Seluruh penjuru kelas ikut menatapnya, Mikyal hanya tertunduk begitu juga temannya. Percakapan mereka terputus.
Udara di kelas dirasakannya panas tidak dari biasanya. Menjadikan keringat dinginnya itu bak sungai setelah hujan reda. Mengalir deras begitu saja.
“Nah, hari ini kalian akan ujian. Bapak yakin kalian pasti sudah mempersiapkannya terlebih dahulu. Dan ingat tak ada yang boleh mencontek, gunakanlah hati kalian untuk belajar jujur,” ujar pak guru sambil menatap seluruh muridnya yang tampak duduk manis di hadapannya.
Sambil menyelusuri anak didiknya ia membagikan kertas soal tersebut, sampai akhirnya mendapati anak yang tampak murung dan tidak seperti biasanya. Mikyal yang merasa diperhatikan, mencoba untuk menyembunyikan kegusaran yang ada di hatinya itu. Tapi ternyata usahanya itu percuma, pak guru malah menghampirinya dengan wajah penuh tanda tanya.
“Mikyal tidak apa-apa Pak, Mikyal sehat kok Pak,” ujar Mikyal gagap melihat pak guru terus beranjak menghampirinya.
“Yang benar?” tanyanya penasaran.
“Benar kok Pak,” terang Mikyal berusaha menyakinkannya.
Mikyal kembali merasa lega setelah pak guru meninggalkannya tanpa pertanyaan lebih lanjut.
Kembali ruangan menjadi senyap, semua murid tekun menghadapi soal-soal yang diberikan pak guru. Hening, hingga pulpen yang jatuh terdengar menggema. Sementara Mikyal hanya melihat soal itu dengan kecemasan dan kecemasan.
Sebenarnya Mikyal bisa kalau hanya mendapatkan nilai sembilan. Apa susahnya? Hanya menghafalkan definisi-definisi, pancasila, pasal-pasal, undang-undang, dan lain sebagainya. Tapi bukan itu yang ia harapkan dari pelajaran PPKN. Ia hanya butuh aplikasi dari PPKN itu sendiri, ia tak butuh teori, teori hanya seperti minum susu di pagi hari dengan roti yang di sambut gula murni.
Mikyal begitu amat kecewa ketika sepulang sekolah bapak-bapak, dan para pemuda sedang asyik main gaplek sambil merendam KETAKWAAN mereka dalam botol alkohol.
Mikyal tak pernah faham dan mengerti kenapa mereka suka sekali merusak tubuh mereka? Bahkan ketika ia bertanya pada ayahnya. Ayahnya yang juga seorang pemabuk hanya menjawab.
“Ini urusan orang dewasa, kau urusilah pekerjaan rumahmu. Ingat! Jangan sampai kamu memalukan ayahmu ini,” ujar ayahnya setiap kali Mikyal bertanya kenapa ayahnya suka bermabuk-mabukan. Bahkan, dalam hatinya ia protes. Kenapa ayah harus malu terhadapnya, sedang dirinya yang mabuk tak menjadi persoalan?
Mikyal menghapus sedikit peluh yang  ada di kening dan lehernya. Suasana kelas V SD Buana itu masih tenang. Murid-murid itu tengah asyik mengisi soal-soal yang diberikan. Pak guru sedang mondar-mandir dari kanan ke kiri, dari depan ke balakang, dan dari tengah ke pinggir. Kemudian duduk kembali ke meja guru yang berada di pojok kelas sebelah kanan. Sementara kertas Mikyal masih kosong melompong.
Kembali Mikyal teringat bagaimana suatu hari ia melihat ibu-ibu dengan teman arisannya, baru pulang dari shoping, menggadaikan HERMAT-CERMAT dengan barang-barang tak berguna. Kosmetik-kosmetik, pakaian dari Itali, jam dari Swiss, emas berlian dan lain sebagainya. Padahal ia tahu. Di lemari-lemari mereka masih banyak tersimpan pakaian yang bermerek Itali, Jerman dan lain sebagainya. Padahal ia tahu, betapa banyak tetanga-tetangganya yang hanya bisa melonggo. Padahal ia tahu, betapa banyak tetangga-tetangganya yang tak punya pakaian. Padahal ia tahu, betapa banyak tetanga-tetangganya yang masih hidup untuk makan saja susahnya minta ampun. Padahal ia tahu, betapa banyak tetangga-tetangganya yang masih mengemis dengan air mata dan ladang keringat. Ia tidak tega melihat itu semua. Tapi, ia tak dapat melakukan apa-apa, kecuali hanya untuk meratapinya.
Tak lama kemudian, ia melihat seorang anak datang kepada ibunya meminta uang untuk membayar SPP, padahal yang ia tahu uang-uang itu digunakannya untuk membeli togel, menyewa VCD porno dan menginjak-injak KEJUJURAN di depan matanya. Anak itu tak sadar, betapa susah uang rupiah dicarinya.
Dirasakan hawa kelas itu kian panas, membuat keringat di tubuhnya kian membanjir dengan derasnya. Beberapa ventilasi di kelas itu tak mampu menyedot hawa panas yang ada. Cericit burung kembali terdengar dari balik ranting pohon yang begitu riang. Sangat riang. Tapi keriangan tersebut tak dapat dirasakan sepenuhnya oleh Mikyal.
Hatinya yang begitu kecewa dengan pelajaran PPKN, kembali bertambah kecewa setelah mendengar di berita-berita, di siaran-siaran TV menyiarkan perseteruan yang terjadi di beberapa kota dan provinsi, seperti, Ambon, Aceh, Maluku. Semua itu mencekik habis PERSATUAN DAN KESATUAN. Bahkan Mikyal lebih bersedih lagi ketika bom demi bom mulai mengguncang RASA CINTA TANAH AIR di negri ini. Bom yang meledak di Bali, bukan jalan yang islami, tapi itu lebih tepat jalan syetani. Memang ia tidak tahu menahu masalah ini, tapi ia begitu sedih ketika melihat anak-anak, teman-temannya, saudara-saudaranya kehilangan orang tua. Begitu juga bom yang meledak di JW Marriot, dan Kedubes Australia. Apakah perbuatan itu masih dibilang islami? Tanya hatinya membatin.
Tak terasa air mata jatuh meniti di pipinya. Ia segera mengusapnya dengan jari-jari mungilnya. Hatinya begitu sedih ketika mengingat itu semua. Sedih, sangat sedih, dan begitu mengharu biru. Ia tak bisa membayangkan jika salah satu bom itu meledak di sekolah ini.
Mikyal merasakan perutnya mulai keroncongan, ia sedang puasa. Puasa yang diadakan satu tahun sekali di bulan yang disucikan Tuhan, di mana semua amal ibadah dilipatgandakan olehnya.
Tapi, Mikyal begitu kecewa ketika melihat di berita-berita masih banyak ruang-ruang maksiat terbuka begitu saja, dengan menjajakan alkohol plus perempuan bahenol. Kemudian diberitakan pula para PSK masih banyak bergentayangan, di jalan-jalan protokol menjajakan tubuh dan tak mengindahkan HORMAT MENGHORMATI. Sungguh tak tahu diri, sergah Mikyal dalam hati. Masih terasa perut yang merintih.
Ah… Ini yang belum ia mengerti dari pelajaran PPKN. Ini pulalah yang membuat hatinya berdesir lirih, selirih tembang lalang di goncang malam.
Jam di dinding menunjukan pukul 08:15. sekitar lima belas menit lagi waktu telah selesai. Mikyal melihat kertas ulangan yang masih kosong.
Sebuah suara tiba-tiba membayang dalam ingatannya, suara itu adalah suara ayahnya…

###

Pak guru masuk dengan kaca mata yang masih berselimut embun, diwajahnya tersirat kebanggaan yang amat mendalam.
“Bapak bangga pada kalian semua,” ujarnya penuh dengan nada kepuasan yang luar biasa.
Anak-anak terlihat tertawa kecil. Entah apa maksudnya? Begitu juga pak guru tersenyum bangga, aku jadi kasihan padanya. Setidaknya Mikyal tahu apa yang ditertawakan olehnya, juga oleh teman-temannya saat itu. Tertawa yang ada setelah mereka menggadaikan KEJUJURAN mereka di hadapan kata-kata.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s