Cerpen

REMBULAN DI ATAS NIL

Dari celah jendela apartemen ini, rembulan di atas nil selalu mengintipku. Hal ini selalu membuatku berimajinasi. Karena dari air itu aku bisa belajar tentang kehidupan.
Sekarang aku berada tepat di depan kamar apartemen. Aku telah mengetuknya berapa kali. Namun tak ada jawaban juga. Aku mencoba mengetuk pintu losmen yang berada tepat di samping kanan losmenku. Losmenku berada di tengah kepadatan lalu lintas kota Mesir. Aku kembali mengetuk, namun lagi lagi tak ada jawaban dari pintu yang berwarna pink itu, ada sebuah tulisan tertulis dengan font yang agak feminim. “The Girl’s Losmen”
Namun, kedatanganku sore ini bukanlah untuk bertemu dua perempuan yang sudah sangat aku kenal. Melainkan untuk pamannya yang belum lama ini datang dari Bandung, Indonesia. Aku sendiri berasal dari sana. Makanya ketika paman Musa, begitu ia biasa disebut meminta bantuanku untuk menginstallkan komputernya dengan format ganda, bahasa Inggris dan Arab. Maklum dua perempuan itu selalu menulis dengan tulisan arab, jadi wajar bila mereka tidak menginstal komputer mereka dengan format berbahasa Inggris.
Aku sempat berbicara sebentar dengan Musa pagi tadi. Wajahnya benar-benar tidak mirip orang Indonesia, namun percakapannya sudah amat kental dengan logat yang lebih terasa sundanya. Hidungnya mancung seperti kebanyakan orang arab. Dan kulitnya yang coklat mengaburkan bahwa ia keturunan Arab.
“Aku dengar kamu seorang penulis cerita detektif, apakah itu benar?” tanyanya dengan nada penuh penasaran.
Reaksi seperti ini sering sekali aku alami. Mungkin orang aneh bila aku dapat memiliki banyak ide tentang cerita-cerita detektif yang cukup rumit untuk menebak ending dari setiap ceritanya. Aku sendiri sempat heran kenapa aku bisa menulis semua itu. Yang aku sadari hanya satu, ide itu mengalir begitu saja seperti aku menjalani kehidupan ini. Aku tidak pernah berpikir apakah cerita detektif yang aku buat mampu membuat orang bingung atau malah bosan. Yang aku rasakan hanya satu. Aku merasa lega setelah aku menuliskan semua yang ada di otakku.
Aku tersenyum menjawab pertanyaan itu. Kemudian ia bercerita tentang ketertarikannya terhadap cerita detektif. Ia paling sering membaca serial Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle. Ia juga menceritakan betapa cerdiknya penulis itu membuat problema dan mengakhirinya dengan sesuatu yang tak terduga.
Di akhir pertemuan kami. Ia memintaku untuk menginstall ulang komputer milik keponakannya. Hurfah dan Masahah, dua perempuan cantik yang selalu menebarkan senyum kepada semua orang. Mereka berdua datang dari sebuah desa di Mesir untuk kemudian tinggal di losmen ini. Hurfah, adalah anak tertua. Saat ini ia bekerja sebagai model di salah satu majalah ternama di Mesir, seperti kebanyakan model ia bertubuh langsing mirip Artika Sari Devi. Sementara Masahah, ia masih kuliah. Ia satu semester denganku, kami sering berangkat bersama ke kampus yang kebetulan memiliki jalur yang sama. Ia adalah satu-satunya orang yang selalu menantikan karya-karya detektifku.
Aku mengetuk kembali pintu itu. Namun tidak pula pintu itu di buka. Hampir saja aku meninggalkan kamar itu, namun kemudian tangan Masahah meraih tanganku dan menarik diriku ke dalam losmennya. Aku terperanjak kaget melihat ia melakukan sesuatu yang tidak pernah aku pikirkan. Kurasakan tangannya dingin, ada bekas luka yang menggaris di telapak tangannya.
“Aw…!” teriaknya setelah aku menekan luka itu. Aku sengaja melakukan itu, aku tidak mau ia terus memegangi tanganku. Walau bagaimanapun dia bukan muhrimku. Aku memiliki keyakinan yang besar dalam hal ini. Rupanya, Masahah tahu bahwa aku tidak menyukai tindakannya.
“Maaf,” ujarnya. Aku tersenyum, seharusnya aku yang meminta maaf kepadanya karena telah membuat lukanya bertambah sakit. Maaf, suara batinku kemudian.
Di dalam aku bisa melihat tubuh ramping milik Hurfah, tinggi yang cukup bagi seorang model, pikirku. Di samping Hurfah kulihat pembantunya, perutnya sedikit tambun dan suaranya terdengar kasar bila berbicara, tidak seperti kebanyakan wanita. Namun, ia orang yang cukup humoris. Aku suka dengan guyonan-guyonannya yang selalu membuat orang terpingkal-pingkal. Ia adalah pembantu Hurfah dan Masahah, namun mereka tidak pernah menganggap Rifah pembantunya itu sebagai pembantu. Mereka lebih memperlakukan Rifah seperti ibu kandungnya. Maklum, mereka berdua telah ditinggal ibunya sejak mereka masih kecil. Ibunya kecelakaan dan meninggal seketika itu juga. Ayahnya menyerahkan perawatan mereka berdua kepada Rifah. Ayah Hurfah dan Masahah selalu sibuk dengan pekerjaannya. Mereka hanya memiliki kesempatan seminggu dua kali untuk bertemu ayahnya, selebihnya mereka hanya melihat ayahnya ketika sarapan dan datang tepat ketika mereka mulai mencoba mengatupkan matanya.
Aku mencoba memandangi mereka semua. Ada hal yang aneh sepertinya, wajah mereka tidak seceria hari-hari biasanya.
“Ada apa?” tanyaku heran.
Kutatap wajah mereka semua. Mereka bertiga hanya saling bertatapan, seakan ragu ingin mengucapkan sesuatu. “Mungkin ada yang bisa aku bantu?” tambahku memecahkan keheningan.
Mereka bertiga menatapku dalam. Aku berharap kata-kata yang kuutarakan tidak menyakiti hati mereka. “Kalau tidak ada, biar aku pulang saja. Sebetulnya aku ingin memberikan ini pada paman kalian. Tapi tampaknya paman kalian tidak ada, biar CD Master ini aku titipkan pada kalian.”
Aku mencoba menjelaskan maksud dan tujuanku datang pada mereka. Namun reaksi mereka tidak berubah. Menatapku dengan tatapan yang dalam. Aku mulai beranjak melangkahkan kakiku menuju pintu utama.
“Tunggu,” ujar Hurfah. “Mungkin kamu bisa membantu kami, bukankah kamu sempat berbicara dengan paman Musa?” lanjutnya kemudian.
“Ya, memang ada apa?” jawabku sambil balik bertanya. Mereka terdiam, suasana seakan kembali membeku. Ada hal yang aneh? Pikirku sekali lagi. Dan itu pasti!
“Paman terbunuh di dalam kamarnya,” jawab Masahah kemudian.
Ah, akhirnya mereka mengaku juga. Namun bagaimana bisa hal ini terjadi? Aku berusaha tidak yakin dengan apa yang mereka utarakan. “Hei, ini bukan cerita yang kau baca dalam karyaku kan?” responku kemudian.
“Tidak, paman benar-benar terbunuh. Sekarang kami berharap padamu, karena kamulah orang yang terakhir bercakap dengannya. Kami mengharap kamu bisa memberikan informasi tentang paman. Barangkali ia memiliki musuh atau orang yang mungkin membencinya di Mesir ini. Pasalnya, pembunuh itu tidak mengambil apa-apa dari rumah ini.”
Aku berpikir keras, sebuah pembunuhan tanpa mengambil barang berharga sedikitpun. Menarik juga. Hal ini menambah minatku terlebih karena paman Musa adalah orang baru di kota ini. Akupun menceritakan apa yang aku bicarakan tadi pagi dengannya. Tak ada satupun yang menyinggung tentang orang yang memusuhinya. Mereka tampak kecewa, karena harapan satu-satunya untuk mengetahui siapa pembunuh orang itu hilang begitu saja. Namun, demi mengobati rasa kekecewaan mereka. Aku menawarkan diriku untuk menolong mereka, bagaimanapun mereka hampir aku anggap sebagai saudaraku sendiri. Aku utarakan aku ingin melihat mayat paman Musa. Mungkin aku bisa menebak pembunuhnya. Ini memang bukan cerita yang aku karang, namun apa salahnya bila aku coba?
Aku melihat paman Musa terbunuh dengan tiga tusukan tepat di dada. Tusukan terakhir pisau itu lebih dalam dan tidak dicabut kembali oleh sang pembunuh. Dari bentuk pisau itu aku bisa menebak pisau itu adalah pisau dapur. Mata paman Musa tampak terbelalak. Kepalanya jatuh tepat di samping keyboard. Di depannya sebuah komputer masih menyala. Di layar komputer hanya tersisa sebuah file dokumen Ms. Word yang masih berisi sebaris kata berbahasa arab. Aku mulai mengeja, namun aku gagal. Kalimat ini tidak pernah aku temukan sebelumnya di dalam kitab atau percakapan arab baik bahasa resmi maupun pasarannya. Aku memandang kedua kakak beradik itu, mereka ikut menggeleng. Aku mencoba mengeja lagi. Hasilnya tetap nihil. Huruf arab, atau hijaiyah itu berurut tidak membentuk kalimat. Mungkin ini isyarat, pikirku. Aku kembali memperhatikan kata perkata. Qof, Haa –abjad setelah Waw-, Ba, Sya dan terakhir Alif. Aku mencoba mengeja lagi, tetap tidak bisa.
“Siapa yang pertama kali menemukan Paman Musa?” tanyaku kini mulai penasaran. Aku yakin huruf-huruf hijaiyah ini memiliki arti sendiri.
“Rifah yang pertama kali berteriak, kami lantas datang menghampiri. Begitu kami datang, wajah Rifah begitu shok, begitupun dengan kami. Kami bingung. Tapi, kami yakin ini bukan pembunuhan biasa. Pasti ada yang dendam sebelumnya pada Paman Musa,” terang Hurfah. Wajahnya tampak lelah, aku tahu ia bekerja cukup keras untuk menghidupi keluarganya di desa, belum lagi biaya Masahah kuliah.
Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan. Pasti ada petunjuk, ujarku dalam hati.
“Apakah paman pernah membicarakan bahwa ia punya musuh?” tanya Masahah padaku. Aku sedikit tidak menggubris pertanyaan itu. Telah aku jelaskan sebelumnya, bahwa kami tidak menyinggung sama sekali masalah ini.
Kini perhatianku tertuju pada jendela yang kacanya pecah. Kedua gadis itu serta Rifah menyangka bahwa pencuri itu lewat jendela. Pembunuh itu memecahkan kaca, kemudian membuka kuncinya melalui jendela yang telah hancur itu. Aku mencoba memperhatikannya. Ada yang aneh dengan pecahan kaca ini. Pecahan kaca itu tidak jatuh ke dalam ruangan melainkan jatuh ke luar ruangan. Tidak salah dugaanku. Ternyata pembunuhnya ada di antara tiga orang yang amat aku kenal ini. Tiba-tiba aku teringat dengan luka kecil di tangan Masahah ketika ia menarikku.
Aku tidak mau berspeskulasi terlebih dahulu sebelum semuanya jelas. Aku hanya mencoba menjelaskan pada mereka bahwa pembunuhnya ada di sini, di antara mereka yang ada di dalam ruangan ini. Bukan di luar! Aku menjelaskan tentang teori percahan kaca. Mereka faham dan sadar bahwa tidak salah lagi pembunuh paman Musa adalah salah satu di antara mereka. Namun siapa? Siapa yang berani membunuh?
“Ini tidak mungkin!” bentak Masahah sambil pergi menuju ruang tamu. Di ruang tamu ia tersedu. “Tidak mungkin bila pembunuh itu salah satu di antara kami,” lanjutnya lagi sambil tersedu-sedu. Air matanya menetes deras di pipinya.
Namun anehnya, Hurfah malah memandang sinis adiknya itu. “Jangan membual kau! Kau pasti pembunuhnya! Kau tidak bisa mengelaknya. Setelah terbuka kedokmu, sekarang kau menangis penuh iba.”
Masahah yang masih berlinang air mata memandang kakaknya dengan wajah tidak percaya. “Sepicik itukah pikiran Kakak? Apakah Kakak tidak percaya lagi kepada Masahah? Apakah Masahah tega membunuh paman sendiri?”
“Tentu saja. Lihat tanganmu yang terluka, aku yakin kau terluka ketika kau berusaha menusukkan pisau itu ke tubuh paman!”
Masahah semakin tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dalam sekian detik kakaknya itu sudah berubah. Air mata Masahah semakin deras. “Seharusnya Masahah yang curiga pada kakak. Masahah tahu apa yang dilakukan paman terhadap kakak selama ini.”
“Apa yang kamu tahu? Apa? Jangan coba mengalihkan pembicaraan!”
“Hampir setiap malam Paman selalu mengajak Kakak tidur bukan? Siapa yang tidak tahu? Namun Kakak selalu mengelak. Kakak terjebak hutang dengan paman dan sekarang sudah jatuh tempo, sementara Kakak tidak mampu melunasinya. Bukan begitu?”
“Oh, sejak kapan kau tahu tentang ini? Sejak kapan kau mulai menguntit setiap gerak-gerikku?” mata Hurfah merah. Mungkin ia berang, ia cukup yakin menyembunyikan rahasia itu dari adiknya.
“Paman Musa sendiri yang bilang,” kini jelaslah bahwa itu bukan kesalahan adiknya.
“Memang, tapi buat apa aku membunuhnya?”
Hening sejenak. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku merasa bersalah telah mengutarakan bahwa pembunuhnya ada di antara mereka. Namun mata Masahah menatap Hurfah begitu menyelidik. Aku bertambah bingung, siapakah di antara keduanya yang telah membunuh. Semuanya punya indikasi yang kuat. Aku bingung!
“Sudah, mungkin Hasyim keliru. Lebih baik kalian duduk saja dulu. Aku akan buatkan teh untuk kalian,” ujar Rifah menenangkan keadaannya. Ia kemudian beranjak ke dapur. Aku duduk di hadapan kedua kakak beradik yang nampaknya masih bermusuhan. Aku bersyukur Rifah bisa mengambil posisi sehingga setidaknya menenangkan keadaan yang sudah menegang sedari tadi.
“Hasyim apakah kau yakin bila pembunuhnya ada di antara kami?” tanya Rifah sambil menyodorkan secangkir teh kepadaku. Aku sedikit menggeleng dan ups, cangkir itu terjatuh dan pecah. Aku segera meminta maaf pada Rifah. Namun ia hanya diam dan ia berusaha menawarkan lagi secangkir teh untukku. Aku menggeleng.
Tidak salah lagi, aku tidak mungkin keliru. Pembunuh itu masih di sini!
Aku meminta sepotong kertas dan ballpoin pada Hurfah. Aku yakin jawaban itu ada pada potongan arab yang tidak bisa tereja di komputer yang masih menyala. Aku mencoba mengcoret-coret, mencoba mengabungkan potongan-potongan yang mungkin tertinggal di antara percakapan kami. Berkali-kali aku gagal. Namun aku terus berusaha. Dan tidak salah lagi kata itu menunjukkan nama pembunuh itu. Sudah kuduga dari awal, bahwa dialah pembunuhnya!
Di hadapanku kini, Hurfah, Masahah dan pembantunya, Rifah. Aku sengaja mengumpulkan mereka di ruang tamu. Mungkin mereka akan terkejut mendengar siapa pembunuhnya. Namun walau bagaimana pun pahitnya kenyataan ini, ini harus diterima.
Aku menatap wajah mereka yang penuh tanda tanya. “Pembunuhnya ada di sini,” aku memulai argumentasiku. “Dan kini aku punya cukup bukti untuk mengatakan bahwa pembunuh itu adalah…,” aku mencoba memberi jeda. Namun semuanya hanya diliputi kesunyian. Tidak ada yang lebih sunyi selain ketika itu. Aku mengharap mereka mampu menebak siapa pembunuh itu. “Rifah, kaukan yang telah membunuhnya?”
Mereka berpandangan aneh ke arah Rifah. Namun Rifah hanya tertunduk. Berusaha menyembunyikan wajahnya.
“Aku telah curiga sejak melihat jendela yang pecah. Jendela itu dipecahkan dengan tangan kosong dan itu hanya sanggup dilakukan oleh seorang lelaki…” kini aku memulai argumentasiku.
“Maksudmu?” tanya Hurfah heran. “Bukankah tidak ada seorang priapun yang ada di sini dan bukankah Rifah adalah seorang perempuan?” lanjutnya.
“Rifah adalah lelaki,” kali ini aku yakin tak ada yang percaya tentang hal ini. “Ia mengubah dirinya menjadi perempuan karena ia menganggap bahwa kalianlah anaknya. Kedua anaknya mati ketika berumur 12 tahun karena kecelakaan ketika pulang sekolah. Dan ia cukup shok dengan itu semua. Kebetulan kalian hadir dan kalian begitu mirip dengan anaknya. Kemudian ia memutuskan untuk menjadi seorang perempuan dan menjadi pelayan kalian. Karena ia merasa dengan menjadi perempuan ia akan lebih dekat dengan kalian. Bukan begitu Rifah?”
“Benarkah Rifah?” tanya Masahah memastikan.
Rifah tidak menjawab.
“Aku membacanya dari buku harian yang ditulis Rifah. Kebetulan buku itu tejatuh di tangga ketika ia ingin beranjak ke pasar beberapa hari yang lalu. Maaf aku tidak sengaja membacanya,” ujarku pada Rifah.
“Kedua, ia berusaha memasukkan entah apa ke dalam gelasku sebelum ia berikan padaku. Gelas itu sengaja aku jatuhkan. Aku melihatnya memasukkan bungkus sesuatu ke dalam pakaiannya.”
Masahah segera menggeledah pakaian Rifah. Ternyata itu hanya obat tidur. Namun bila dosisnya tinggi bisa membuat orang tidur selamanya. Aku bergidik ngeri, aku tak bisa membayangkan bila aku mati dengan obat tidur.
“Ketiga, dan inilah yang membuatku yakin. Dokumen terakhir komputer itu bertuliskan nama Rifah. Nama pembunuh Musa. Musa mencoba memberi isyarat sebelum ia meninggal. Namun di nafas terakhirnya ia tidak bisa berpikir panjang selain menulis nama pembunuh itu walaupun ejaannya yang keluar adalah huruf hijaiyah dan tentu ejaannya itu tidak bisa dibaca dalam ejaan hijaiyah,” aku mencoba menjelaskan semuanya panjang lebar, kuberharap mereka mengerti apa yang aku maksudkan.
“Namun, apabila kita mengubah deretan huruf pada keyboard komputer menjadi deretan huruf latin maka yang keluar adalah nama rifah. Qof berarti huruf R, Haa berarti huruf I, Ba berarti huruf F, Sya berarti huruf A dan Alif berarti huruf H.”
Sejenak aku membiarkan mereka mencerna semua yang telah kuucapkan. Agak sulit memang semua ini untuk diterima dengan akal sehat.
“Kenapa kau tega melakukan itu?” tanya Hurfah pada Rifah.
“Aku sayang padamu. Aku tidak bisa melihat kau disakiti orang. Bila kau diperlakukan seperti apa yang dilakukan Musa padamu, aku merasa aku seperti melihat anakku yang disakiti orang lain,” jawab Rifah diselingi sesekali dengan isak tangis.
Mereka menangis tersedu, Masahah tidak mengira kasih sayang Rifah begitu mendalam. Rifah sendiri menyesal telah melakukan pembunuhan itu. Aku mohon diri ketika mereka masih menangis tersedu-sedu. Kepalaku terlalu sakit untuk membiarkan cerita ini bertahan di otakku. Aku harus menuliskan ini, dan mungkin inilah yang menjadi alasan kenapa aku selalu memiliki ide untuk menulis cerita detektif.
Aku memandang rembulan di atas Nil. Ia masih terus mengalir dan bernyanyi, dari situlah aku berimajinasi.

Kamis, 20 Juli 2006
Untuk-Mu,
aku tak habis mengeja teka-teki-MuRE

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s