resensi

BUKAN CUKA CAMPUR GULA

Judul                           : Aku Bisa Nulis Cerpen #1
Penulis                        : Joni Ariadinata
Penerbit                     : Gema Insani Press
Tahun Terbit            : Jakarta, April 2006
Tebal Halaman        : 206 Halaman
Presensi                     : Syarif Hidayatullah

Imajinasi lebih penting dari pengetahuan
[Albert Einstain]

Dalam beberapa hal imajinasi menjadi sangat penting, sesuai dengan kutipan awal dari tulisan ini. Selain itu menurut seorang pakar kreatifitas, Michael Michalko imajinasi adalah segala sesuatu yang telah dialami. Namun, karena semakin mendalamnya nilai imajinasi itu sehingga mereka merasa telah kehilangan imajinasi. Padahal, apa yang mereka konsep untuk hari esok adalah hasil imajinasi.
Imajinasi adalah nilai tertinggi dalam proses kognitif, begitu tulis KH.Moh. Idris Jauhari dalam bukunya Ilmu Jiwa Perkembangan. Namun, sering sekali orang menafsirkan imajinasi sebagai sesuatu yang hina. Disadiri atau tidak hal ini cukup mendarah daging dalam masyarakat kita. Salah satu bukti kongkritnya adalah banyaknya petuah yang telah menjadi adat atau tradisi yang melarang untuk berkhayal –berkhayal di sini dimasukkan sebagai proses pencapaian imajinasi.
Untuk menepis semua itu. Ada “ramuan” khusus agar imajinasi itu menjadi sesuatu yang berguna. Joni Ariadinata menghadirkan hal itu dalam bukunya Aku Bisa Nulis Cerpen. Judul yang cukup provokatif ini menyajikan berbagai hal tentang cara menulis cerpen, ada cara bagaimana membuat diskripsi dengan baik, ada pula bagaimana membuat tokoh menjadi hidup. Semua itu dijelaskan dengan baik oleh Joni Ariadinata, seorang pengasuh rubrik Bengkel Cerpen Nida.
Sebetulnya tidak ada hal yang jelas dari abad berapa cerpen mulai ditulis. Namun beberapa pakar mengatakan cerpen sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu, tepatnya lahir di  Mesir, kemudian berkembang di Timur Tengah, terus menyebar  ke Yunani dan Romawi, dan semakin berkembang di Eropa.
Di Eropa sendiri terdapat berbagai macam trobosan mengenai cara membuat cerpen berikut penyajiannya yang berbeda-beda. Hal ini bisa dilihat dari karya-karya milik Edgar Alan Poe yang menyajikan cerita gothik bernuansa detektif. Ialah orang yang pertama kali memperkenalkan cerpen detektif ini, hingga akhirnya ia dikenal sebagai Bapak Cerita Detektif Dunia. Di Prancis, ada Honore Del Baldac, Prosper Marime, Guy De Mausapant yang memperkenalkan cerita dengan memberikan kejutan diakhir cerita (Suprise Ending). Sementara di Jerman ada E.T.A Hoffman yang disebut-sebut sebagai Bapak Cerita Gothik yang berbau kisah-kisah misteri. Hal ini karena Hofman sering sekali membuat cerita-cerita horor.
Di Indonesia sendiri, perkembangan cerita pendek tidak kalah pesatnya. Awalnya, cerita yang ditulis hanya berbentuk cerita-cerita lucu yang mengundang tawa, cerita-cerita ini ditulis oleh M. Kasim dan Suman HS. Akan tetapi, walaupun M. Kasim dan Suman HS tidak menghasilkan cerita yang berbau sastra, mereka masih dianggap sebagai Bapak Cerpen Indonesia.
Dan Sekarang, lewat buku yang memiliki tebal 206 halaman ini. Joni berusaha memperkenalkan cerpen serta hal-hal yang mendukungnya agar terlihat sempurna, baik itu membangun plot, latar, setting dan sebagainya.
Dengan  bahasa yang cukup enak dinikmati, Joni membahas beberapa kesalahan yang sering sekali dialami oleh penulis pemula berikut trik untuk menghindari kesalahan tersebut. Ditulis dengan bahasa surat, Joni seakan berharap bahwa semua yang membaca buku itu menjadi alamat  tujuan dari surat yang ia tujukan secara terbuka. Ada sekitar 10 surat terbuka yang sebetulnya bernama dan begitu tertuju. Namun, Joni seakan membungkus itu semua untuk mereka yang membaca buku ini.
Selain membahas kelemahan-kelemahan cerpen ia juga sedikit menjelaskan kelebihan sebuah cerpen. Tidak hanya itu, ia juga memberikan beberapa wawasan diantaranya wawasan bahasa, imajinasi dan sikap.  Hal ini akan dapat ditemui di halaman 29-42.
Dalam buku ini terkadang Joni mengeritik pada cerpen yang dijadikan contoh dengan amat ciamik. Lewat bahasa surat ia mulai memberikan materi secara halus, seperti pada halaman 95,  “Menuliskan latar dalam cerita pendek, membutuhkan yang dalam dan cermat tentang peristiwa yang hendak diceritakan…” tulis Joni. Namun kemudian ia mulai mengeritik dengan kata-kata; “Kelalaian sedikit saja dalam penulisan latar akan melahirkan kejanggalan-kejanggalan yang mempengaruhi mutu karya tulis…”. Namun tidak jarang ia memuji, seperti surat yang ditujukan kepada Deden. Dear Deden…Bahasa cerpenmu cantik. Kamu amat memperhitungkan irama –seperti puisi. Ada bahasa yang mengalun teduh, ada yang menjerit lirih. Apakah kamu kamu orang yang lembut?…
Didukung dengan latar belakangnya yang memang sudah merasakan asam dan  manisnya cerpen. Bayangkan selama beberapa tahun Joni telah bekerja menjadi redaktur di majalah Horison dan Annida yang secara langsung bersentuhan dengan dunia cerpen. Joni sendiri lewat cerpennya yang berjudul “Lampor” meraih penghargaan cerpenis terbaik versi Kompas pada tahun 1994. Hal ini membuat Joni semakin eksis dalam bidang yang kini digelutinya.
Terlebih dari itu, Joni juga memiliki andil yang cukup besar dalam meningkatkan apresiasi sastra, hal ini terbukti dari sumbangsihnya terhadap dunia sastra dengan memperkenalkan sastra ke sekolah-sekolah yang tersebar di nusantara pada tahun 2002 lalu bersama Taufik Ismail dan beberapa rekannya di majalah Horison.
Akan tetapi ada beberapa hal yang membuat buku ini terasa kurang lengkap. Di antaranya adalah tidak adanya pengertian cerpen itu sendiri –walau bagai manapun ini adalah buku panduan yang setidaknya menyinggung tentang definisi cerpen serta apa saja yang bisa dikatakan cerpen. Semoga Joni melengkapi hal ini di edisi kedua mendatang.
Namun, walau bagaimanapun sesuai dengan pengantar di awal tulisan ini. Buku ini akan memandu para calon penulis maupun mereka yang telah lama menulis cerpen namun masih belum maksimal.  Buku ini memandu mereka untuk menulis cerpen dijalur yang tepat agar memiliki komposisi yang menarik dan enak dinikmati.
Layaknya sebuah makanan, buku ini menyajikan ‘bumbu’  yang akan membuat cerpen Anda menjadi hidangan ‘lezat’. Bukan cuka campur gula, melainkan gula campur susu yang senantiasa  dikerumuni semut. Selamat menikmati!

Judul                              : Aku Bisa Nulis Cerpen #1

Penulis                           : Joni Ariadinata

Penerbit                         : Gema Insani Press

Tahun Terbit                  : Jakarta, April 2006

Tebal Halaman               : 206 Halaman

Presensi                          : Syarif Hidayatullah

Imajinasi lebih penting dari pengetahuan

[Albert Einstain]

Dalam beberapa hal imajinasi menjadi sangat penting, sesuai dengan kutipan awal dari tulisan ini. Selain itu menurut seorang pakar kreatifitas, Michael Michalko imajinasi adalah segala sesuatu yang telah dialami. Namun, karena semakin mendalamnya nilai imajinasi itu sehingga mereka merasa telah kehilangan imajinasi. Padahal, apa yang mereka konsep untuk hari esok adalah hasil imajinasi.

Imajinasi adalah nilai tertinggi dalam proses kognitif, begitu tulis KH.Moh. Idris Jauhari dalam bukunya Ilmu Jiwa Perkembangan. Namun, sering sekali orang menafsirkan imajinasi sebagai sesuatu yang hina. Disadiri atau tidak hal ini cukup mendarah daging dalam masyarakat kita. Salah satu bukti kongkritnya adalah banyaknya petuah yang telah menjadi adat atau tradisi yang melarang untuk berkhayal –berkhayal di sini dimasukkan sebagai proses pencapaian imajinasi.

Untuk menepis semua itu. Ada “ramuan” khusus agar imajinasi itu menjadi sesuatu yang berguna. Joni Ariadinata menghadirkan hal itu dalam bukunya Aku Bisa Nulis Cerpen. Judul yang cukup provokatif ini menyajikan berbagai hal tentang cara menulis cerpen, ada cara bagaimana membuat diskripsi dengan baik, ada pula bagaimana membuat tokoh menjadi hidup. Semua itu dijelaskan dengan baik oleh Joni Ariadinata, seorang pengasuh rubrik Bengkel Cerpen Nida.

Sebetulnya tidak ada hal yang jelas dari abad berapa cerpen mulai ditulis. Namun beberapa pakar mengatakan cerpen sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu, tepatnya lahir di  Mesir, kemudian berkembang di Timur Tengah, terus menyebar  ke Yunani dan Romawi, dan semakin berkembang di Eropa.

Di Eropa sendiri terdapat berbagai macam trobosan mengenai cara membuat cerpen berikut penyajiannya yang berbeda-beda. Hal ini bisa dilihat dari karya-karya milik Edgar Alan Poe yang menyajikan cerita gothik bernuansa detektif. Ialah orang yang pertama kali memperkenalkan cerpen detektif ini, hingga akhirnya ia dikenal sebagai Bapak Cerita Detektif Dunia. Di Prancis, ada Honore Del Baldac, Prosper Marime, Guy De Mausapant yang memperkenalkan cerita dengan memberikan kejutan diakhir cerita (Suprise Ending). Sementara di Jerman ada E.T.A Hoffman yang disebut-sebut sebagai Bapak Cerita Gothik yang berbau kisah-kisah misteri. Hal ini karena Hofman sering sekali membuat cerita-cerita horor.

Di Indonesia sendiri, perkembangan cerita pendek tidak kalah pesatnya. Awalnya, cerita yang ditulis hanya berbentuk cerita-cerita lucu yang mengundang tawa, cerita-cerita ini ditulis oleh M. Kasim dan Suman HS. Akan tetapi, walaupun M. Kasim dan Suman HS tidak menghasilkan cerita yang berbau sastra, mereka masih dianggap sebagai Bapak Cerpen Indonesia.

Dan Sekarang, lewat buku yang memiliki tebal 206 halaman ini. Joni berusaha memperkenalkan cerpen serta hal-hal yang mendukungnya agar terlihat sempurna, baik itu membangun plot, latar, setting dan sebagainya.

Dengan  bahasa yang cukup enak dinikmati, Joni membahas beberapa kesalahan yang sering sekali dialami oleh penulis pemula berikut trik untuk menghindari kesalahan tersebut. Ditulis dengan bahasa surat, Joni seakan berharap bahwa semua yang membaca buku itu menjadi alamat  tujuan dari surat yang ia tujukan secara terbuka. Ada sekitar 10 surat terbuka yang sebetulnya bernama dan begitu tertuju. Namun, Joni seakan membungkus itu semua untuk mereka yang membaca buku ini.

Selain membahas kelemahan-kelemahan cerpen ia juga sedikit menjelaskan kelebihan sebuah cerpen. Tidak hanya itu, ia juga memberikan beberapa wawasan diantaranya wawasan bahasa, imajinasi dan sikap. Hal ini akan dapat ditemui di halaman 29-42.

Dalam buku ini terkadang Joni mengeritik pada cerpen yang dijadikan contoh dengan amat ciamik. Lewat bahasa surat ia mulai memberikan materi secara halus, seperti pada halaman 95,  “Menuliskan latar dalam cerita pendek, membutuhkan yang dalam dan cermat tentang peristiwa yang hendak diceritakan…” tulis Joni. Namun kemudian ia mulai mengeritik dengan kata-kata; “Kelalaian sedikit saja dalam penulisan latar akan melahirkan kejanggalan-kejanggalan yang mempengaruhi mutu karya tulis…”. Namun tidak jarang ia memuji, seperti surat yang ditujukan kepada Deden. Dear Deden…Bahasa cerpenmu cantik. Kamu amat memperhitungkan irama –seperti puisi. Ada bahasa yang mengalun teduh, ada yang menjerit lirih. Apakah kamu kamu orang yang lembut?…

Didukung dengan latar belakangnya yang memang sudah merasakan asam dan manisnya cerpen. Bayangkan selama beberapa tahun Joni telah bekerja menjadi redaktur di majalah Horison dan Annida yang secara langsung bersentuhan dengan dunia cerpen. Joni sendiri lewat cerpennya yang berjudul “Lampor” meraih penghargaan cerpenis terbaik versi Kompas pada tahun 1994. Hal ini membuat Joni semakin eksis dalam bidang yang kini digelutinya.

Terlebih dari itu, Joni juga memiliki andil yang cukup besar dalam meningkatkan apresiasi sastra, hal ini terbukti dari sumbangsihnya terhadap dunia sastra dengan memperkenalkan sastra ke sekolah-sekolah yang tersebar di nusantara pada tahun 2002 lalu bersama Taufik Ismail dan beberapa rekannya di majalah Horison.

Akan tetapi ada beberapa hal yang membuat buku ini terasa kurang lengkap. Di antaranya adalah tidak adanya pengertian cerpen itu sendiri –walau bagai manapun ini adalah buku panduan yang setidaknya menyinggung tentang definisi cerpen serta apa saja yang bisa dikatakan cerpen. Semoga Joni melengkapi hal ini di edisi kedua mendatang.

Namun, walau bagaimanapun sesuai dengan pengantar di awal tulisan ini. Buku ini akan memandu para calon penulis maupun mereka yang telah lama menulis cerpen namun masih belum maksimal. Buku ini memandu mereka untuk menulis cerpen dijalur yang tepat agar memiliki komposisi yang menarik dan enak dinikmati.

Layaknya sebuah makanan, buku ini menyajikan ‘bumbu’ yang akan membuat cerpen Anda menjadi hidangan ‘lezat’. Bukan cuka campur gula, melainkan gula campur susu yang senantiasa  dikerumuni semut. Selamat menikmati!

Iklan

1 thought on “BUKAN CUKA CAMPUR GULA”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s