Catatan, Esai

Agar Televisi Menjadi Malaikat Bagi Anak-anak

“Wahai Pak Guru, jangan kami disalahkan apalagi dicerca
Bila kami tak mampu mengembangkan kosa kata
Selama ini ‘kan kami diajar menghafal dan menghafal saja
Mana ada dididik mengembangkan logika
Mana ada diajar beragumentasi dengan pendapat berbeda
Dan mengenai masalah membaca karya sastra
Pak Guru sudah tahu lama sekali
Mata kami rabun novel, rabun cerpen, rabun drama dan rabun puisi
Tapi mata kami ‘kan nyalang bila menonton televisi,”
(Pelajaran Tata Bahasa dan Mengarang, Taufiq Ismail 1997)

Bait-bait puisi tersebut merupakan kegelisahan mendalam Pak Taufiq Ismail. Hal itu dibuktikan dengan penelitian AC Nielssen tentang waktu menonton yang dihabiskan anak-anak. Bagi anak berumur 2-5 tahun dalam sepekan mampu menghabiskan waktu di depan TV hingga 25 jam, kemudian untuk anak berumur 6-11 tahun dalam sepekan menghabiskan 22 jam dan untuk anak berumur 12 tahun ke atas bisa menghabiskan waktu sampai 23 jam. Hal itu memang sangat mengkhawatirkan. Anak-anak sudah terbiasa dengan televisi, kehidupan mereka tidak pernah lepas dengan yang namanya televisi.
Selain itu, kita juga dihadapkan pada kondisi pendidikan yang buruk. Terbukti pada tahun 2004 lalu, menurut data yang dihimpun oleh Depdiknas bahwa angka buta huruf di Indonesia jumlahnya mencapai 15,5 juta. Indonesia berada di urutan 111, setingkat lebih tinggi dari Vietnam dan masih di bawah Filipina, Malaysia dan Thailand. Bagaimana mau membaca novel, drama, cerpen atau puisi kalau untuk membaca ini ibu Budi atau Budi pergi ke pasar masih dieja?
Belum lagi kita dihidangkan oleh sajian televisi yang acap kali menayangkan tayangan yang kurang sehat dan tidak (kalau saya boleh meminjam istilah Hernowo) bergizi. Tiap harinya anak dihadapkan acara-acara kekerasan, pacaran, gosip, hantu dan sebagainya. Sehingga membuat anak menjadi beringas bahkan menjadi penakut.

Tawuran (Per)adab(an) Bangsa
Saya sempat berpikir tawuran itu peradaban bangsa atau merupakan adab bangsa? Selama ini saya melihat televisi yang secara ekslusif menayangkan adegan tawuran atau menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Adegan yang bukan lagi fiktif atau skematik, tapi kejadian nyata yang sering dicontohkan oleh kakak-kakak mahasiswa ketika berdemo. Begitupun dengan anggota DPR yang acap kali bertengkar hanya karena berbeda pendapat. Apakah tawuran peradaban bangsa? Atau malah adab bangsa? Saya semakin bingung ketika saya membaca sejarah Madura, saya masih ingat betul istilah Etembang pote mata bango’an pote tolang  yang berarti lebih baik mati dari pada menanggung malu.
Nah, apakah salah bila teman-teman saya ketika saya di kelas akhir semasa Sekolah Dasar dulu bertengkar atau melempar batu kepada teman sekolah lain? Apakah salah bila saya dan teman-teman bertengkar antar sekolah hanya karena seorang teman wanita diganggu?
Televisi sempat mambuat saya ragu, karena entah kenapa acara-acara televisi sering sekali menampilkan acara yang berbau kekerasan. Tidak sinetron, tidak pula film-film layar lebar. Saya pikir tawuran sudah menjadi peradaban baru bagi bangsa ini. Bukan lagi adab, tapi peradaban! Bukan lagi sebatas orang Madura dengan celuritnya, akan tetapi anak-anak sekolah dengan mistarnya! Benda yang tebuat dari besi yang biasa dijadikan penggaris tidak lagi menggaris di atas kertas, melainkan di atas punggung atau kepala temannya.

Cinta Sekolah, Sekolah Cinta
Oh Ibu dan Ayah selamat pagi, kuingin belajar sampaikan nanti…
Saya masih ingat sekali, lagu ini sering didendangkan oleh teman-teman saya sambil berjalan menuju sekolah. Tanpa merasakan beban ekonomi keluarga untuk membiayai sekolah, kami belajar dengan semangatnya. Betapa menyenangkan saat-saat seperti itu. Suatu saat yang amat saya rindukan.
Namun kini, sekolah bukan hanya sebuah media untuk mengetahui apa itu eksakta? Akan tetapi sekolah sudah menjadi ajang untuk mengetahui cinta. Setidaknya hal itulah yang digambarkan televisi kita. Tayangan-tayangan yang bersettingkan sekolah bukan mengangkat gambar-gambar anak yang sedang belajar, berdiskusi atau membaca puisi. akan tetapi lebih banyak mengangkat gambar siswa-siswi yang berpacaran atau dua orang lelaki yang bertengkar karena wanita.
Inikah wajah sekolah kita? Saya begitu sedih ketika membaca koran Jawa Pos pada bulan Januari lalu. Sebuah sekolah di Cianjur, Jawa Barat. Siswa-siswinya tertangkap basah melakukan tindakan mesum di kelasnya. Bayangkan?
Kemudian diceritakan pula oleh Jawa Pos pada 14 Maret 2006. Sebut saja Putri, ia dicabuli oleh 4 teman siswanya. Kejadian itu terjadi di sebuah sekolah yang letaknya di Trenggalek. Sementara guru yang melihatnya hanya menegur “Hayo, kalian masih kecil, jangan main begituan!”
Menyedihkan sekali…

TV, Telanjangi UU RI
Dari dua contoh di atas, jelaslah bahwa televisi tidak sepenuhnya memberikan informasi bergizi, bahkan pada saatnya televisi bisa jadi beracun. Televisi terlalu banyak mengajarkan anak-anak kekerasan selain juga kebaikan.
Setelah melihat tayangan televisi akhir-akhir ini. Saya semakin jengah, karena televisi tidak saja mengeksploitasikan perempuan akan tetapi anak-anak pula. Sebuah fenomena ketika saya melihat seorang anak kecil melantunkan lagu “Cicak Rowo” yang sebetulnya adalah lagu orang dewasa dan tentu maknanya “dewasa” pula.
Tayangan-tayangan berbau kekerasan acap kali disajikan tidak hanya berbentuk cerita bersambung atau sinetron. Akan tetapi tayangan-tayangan tersebut disajikan dengan gaya berita. Tanpa ampun, kamera menyorot wajah seorang korban yang berdarah dengan Close Up. Tidakkah ini pantas dilihat anak-anak?
Belum habis permasalahan tersebut kita sudah dihadapkan pada film-film hasil dalam negri yang berbau vulgar. Film tersebut memang bercerita tentang pertaubatan seorang wanita dari jalan sesat menuju jalan lurus. Namun, cerita tersebut lebih banyak menampilkan keburukan wanita tersebut seperti adegan di diskotik dan tempat-tempat dugem lainnya. Sedangkan adegan pertaubatannya hanya sebentar, hanya adegan menangis saja. Apakah semudah itu bertaubat?
Entahlah, yang jelas acara tersebut benar-benar telah menelanjangi UU yang telah disahkan oleh pemerintah. Pemerintah lewat undang-undangnya pasal 32 ayat 5 menegaskan agar segala yang ditayangkan di televisi tidak boleh bersifat fitnah, menghasut, menyesatkan dan berbohong. Selain itu, isi siaran juga dilarang menonjolkan unsur kekerasan, cabul, perjudian serta penyalah gunaan narkoba.
Apakah televisi kita sudah memenuhi standar ini?

Bukan Antrhax Tapi Malaikat
Saya tidak setuju bila televisi dimatikan hanya karena televisi mengandung racun. Karena secara tidak langsung kita sudah menutup jendela informasi. Televisi adalah alat. Baik tidaknya televisi tergantung siapa yang memanfaatkan atau memakainya. Seperti halnya pisau, bila pisau itu dipakai untuk memotong ayam untuk dimasak, maka itu akan sangat bermanfaat. Akan tetapi bila pisau digunakan untuk membunuh, maka pisau bisa amat sangat membahayakan.
Untuk itu, kita harus sadar sepenuhnya bahwa semua yang diciptakan Tuhan berpasang-pasangan. Ada yang jelek tentu ada yang cantik, ada yang pendek tentu ada yang panjang, ada yang kurus tentu ada yang gemuk. Begitupun dengan kebaikan. Setiap ada kebaikan tentu ada keburukan. Hal itulah yang sepantasnya kita sikapi pada televisi.
Dari berbagai kasus di atas. Saya yakin, bahwa televisi dapat dengan mudah mempengaruhi anak. Anak dapat dengan mudah belajar dan mengingat apa yang dilihat dan didengarnya dari televisi. Saya pernah mambaca makalah di koran Jawa Pos edisi 6 September 1995 lalu. Makalah tersebut berjudul, “Bukan Salah Amrin Membolos”. Betapa marahnya seorang guru ketika ditanya anak didiknya dan ia tidak tahu. Padahal apa yang ditanyakannya adalah sebuah rasa yang timbul dari kiingintahuannya setelah menonton televisi yang menyajikan ilmu pengetahuan dan teknologi baru.
Bagaimana dengan acara Discovery? Tentu sangat membantu bertambahnya ilmu pengetahuan anak tentang hewan. Atau kuis seperti Digital LG? Wah, yang ini tentu lebih luas lagi pengetahuan anak. Anak-anak tentu akan bertambah gizinya sehinga mereka kenyang akan ilmu. Mereka tidak akan mengalami penyakit busung ilmu. Tidak dalam kenyataan, tidak pula dalam mimpi.
Sebetulnya tidak susah untuk membuat acara-acara yang bergizi seperti itu, tinggal bagaimana dan siapa yang mau melakukan. Di akhir tulisan ini saya kembali mengutip beberapa baris dari bait puisi Taufiq Ismail; Tidak ada pilihan lain. Kita harus maju terus. Karena berhenti atau mundur berarti hancur…
Puisi ini setidaknya mewakili hati bangsa. Kita harus menjadikan televisi bukan penyakit mematikan seperti Antrhax atau Flu Burung. Tapi kita harus jadikan televisi menjadi malaikat bagi anak-anak. Karena bila kita diam atau malah ikut terkena virus, maka jangan heran bila nanti anak-anak menjadi robot baru yang disetir oleh televisi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s