Puisi

PARAGRAF-PARAGRAF DARI KOTA

1.
Aku mendetik bersama waktu yang dinginnya rubuh
sedang subuh kubangun dengan air mataku
sajadah-sajadah masih sepi keningnya
kukecup dan aku semakin gelisah

Bulan seperti celurit
cahayanya mencabik lubuk hatiku
kukenang angka-angka
aku semakin malu
sedang dosaku mengalir begitu saja
lewat air mata, air mataku yang luka

2.
Mencari nasib, lembaran hidup begitu rumit
kota bagaikan serigala
aku anak kecil tak bermahkota
berlari-lari di bibir kematian
untuk hidup seperti doa-doa
yang dieja bapak di kaki dhuha

Aku jadi gerimis di antara gedung-gedung
dan orang-orang yang lupa pada Tuhan
ah, beginikah kita yang diberi kesempatan
untuk merajut benang-benang ke surga
sedang di persimpangan jalan
lampu merah seperti tangan Tuhan
memberi kehidupan, memberi harapan
dan sebagian lagi duka yang tak terhapuskan

3.
Jadi orang miskin adalah pertaruhan
seperti bebatu di pipi pantai
di pahat terus tubuhnya oleh tangan kematian
hingga hancur akhirnya jelma keping tak berangkai

Aku mengumpulkan keping-keping tubuhku
dosa-dosa kutusuk jangtungnya dengan alifku
aku ingin jadi purnama
setidaknya di mata-Mu, Tuhanku
aku yang hina tetapi rindu
sekalipun kau jadikanku debu-Mu
akupun mau

Wisma Sastra, 15/02/2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s