Puisi

SETELAH BULAN KETIGA DAN HATI SEBESAR NYIRU

Setelah bulan ketiga dan hati sebesar nyiru. pada ular itu puti kesumba menanam air mata. tersebab kematian kini sedekat cahaya bulan. menusuk tubuhnya dengan gigil subuh yang enggan berbagi pada mentari. kemudian dipahatnya gelisah pada tebing-tebing di jantung sungai. sedang mata belati bapaknya belum lagi menyilet garis nasib, sebagaimana rebung itu membuat bibirnya menjadi begitu melati dan suaranya menjadi senar pepadi. Dan hujan runtuh dari mata bulan yang separuh. puti takluk pada ketakutan-ketakutan yang kini membagun koridor hitam di tubuhnya. seperti malam yang sepenuhnya malaikat pembunuh. dan ia merpati yang sayapnya tertusuk duri. Setelah bulan ketiga dan hati sebesar nyiru. sebuah sampan dan bapak yang selalu dinantikan menghapus taman hati puti yang penuh dengan kegelisahan. dan ular yang gagal, jadi santapan janji yang tinggal memungut ajal.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s