Atap Sastra, Catatan, Cerpen

DUNIA SENO, DUNIA SENJA

Saya membaca cerpen Sepotong Senja untuk Pacarku karya Seno Gumira Ajidarma ketika saya masih duduk di kelas tiga Tsanawiyah di pesantren saya. Ketika itu saya membeli buku kumpulan cerpennya dengan judul cerpen tersebut, tepat ketika uang kiriman saya baru saya terima sehingga bisa saya sisihkan.
Saat pertama kali saya membacanya, saya begitu terpesona dengan gaya bahasa yang begitu ekspresif. Kata-kata yang jarang sekali saya temukan pada kebanyakan cerpen. Keterpesonaan saya itu sampai-sampai mempengaruhi karya-karya saya saat itu, setidaknya pada pilihan obyek ceritanya yakni senja.
Saya benar-benar terkagum pada senja yang ‘dibuat’ oleh Seno dengan kata-kata yang runut dan estetis. Ada rasa yang lain, semacam sentuhan yang berbeda, halus dan begitu lembut namun begitu memengaruhi. Maka, cerita tentang senja itu membuat saya menjadi pengagum senja. Saat itu, hampir setiap sore saya duduk di emperan masjid melihat matahari senja turun sambil mengingat kalimat yang dibuat oleh Seno.
Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala.
Kadang-kadang bila saya sedang ke pantai yang kebetulan dekat dengan pesantren, saat senja mulai turun, ingin saya berlama-lama tapi tentu itu mustahil karena ada peraturan yang melarangnya sehingga sehabis dari pantai, saya selalu kesal mengapa tak bisa menyaksikan matahari tenggelam sebagaimana dalam potongan cerpen Seno berikut ini.
Aku berjalan ke tepi pantai. Tenggelam dalam guyuran alam yang perawan. Nyiur tentu saja, matahari dan dasar lautan yang bening dengan lidah ombak yang medesis-desis.
Memang cerpen ini seperti yang ditulis Nirwan Dewanto dalam pengantar Cerpen Pilihan Kompas 2003 adalah cerpen surealistik. Artinya, imajinasi pengarang benar-benar berperan besar dalam pembentukan cerpen ini karena benar-benar jauh dari realita. Namun, Seno memiliki cara sendiri untuk mendekatkan cerita yang absurd ini dengan realita. Yakni, saat menceritakan tokoh aku yang dikejar-kejar polisi saat ketahuan memotong senja.
Kemudian Nirwan Dewanto memuji Seno yang menjadikan bahasa bukan sekedar alat untuk melukiskan pengalaman para tokohnya, namun juga merangsang kita untuk turut menciptakan pengalaman itu.
Memang saat membaca cerpen Seno ini, imajinasi saya berkembang mengikuti kata demi kata yang merangkai cerita. Mengikuti tokoh yang memotong senja yang kemudian lari dari kejaran polusi lantas menemukan senja di gorong-gorong dan lalu memotong kembali di gorong-gorong itu untuk kemudian ditempel kembali untuk menutupi bolongan senja yang asli. Sedang senja yang asli dikirimkan kepada kekasihnya, Alina.
Saya terpesona, bukan hanya pada kata-kata tetapi pula pada kesurealitisan yang menjadi dasar Sepotong Senja untuk Pacarku. Cerpen seperti ini nyaris tak ditemukan pada cerpen karya, Jujur Prananto, Kuntowijoyo, Danarto, atau bahkan AA Navis. Pilihan kata Seno adalah pilihan kata yang khas sehingga sampai saat ini saya belum menemukan penulis lain yang menggunakan kata-kata semacam Seno untuk merangkai cerita pendek.
Kekhasan inilah yang kemudian menempatkan Sepotong Senja untuk Pacarku karya Seno Gumira Ajidarma sebagai cerpen terbaik pilihan saya. Selain tentu, eksplorasi yang dilakukan oleh Seno dengan menyajikan cerpen surealistik yang bahkan dalam cerpen pilihan Kompas menjadi cerpen yang ‘aneh’ sendiri. Seno seakan membuat dunianya sendiri, membuat dunia senja untuk dinikmati oleh pembaca yang salah satunya adalah saya.

Wismasastra, 2009

Iklan

4 thoughts on “DUNIA SENO, DUNIA SENJA”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s