Atap Sastra, Catatan, Puisi

Dunia Terjemahan Chairil Anwar; Tentang Datang Dara, Hilang Dara

Sajak Datang Dara, Hilang Dara merupakan sajak terjemahan Chairil Anwar yang begitu mempesona. Memang, berbeda penerjemah yang penyair dalam menerjemahkan sebuah puisi dengan seorang penerjemah biasa. Bisa dilihat kekuatan diksi yang digunakan oleh Chairil dalam menerjemahkan karya Hsu Chih Mo, yang berjudul A Song of The Sea. Berikut sajak terjemahan karya Chairil:

DATANG DARA, HILANG DARA

“Dara, dara yang sendiri
Berani mengembara
Mencari di pantai senja,
Dara, ayo pulang saja, dara!”

“Tidak, aku tidak mau!
Biar angin malam menderu
Menyapu pasir, menyapu gelombang
Dan sejenak pula halus menyisir rambutku
Aku mengembara sampai menemu.”

“Dara, rambutku lepas terurai
Apa yang kaucari.
Di laut dingin di asing pantai
Dara, Pulang! Pulang!”

“Tidak, aku tidak mau!
Biar aku berlagu, laut dingin juga berlagu
Padaku sampai ke kalbu
Turut serta bintang-bintang, turut serta bayu,
Bernyanyi dara dengan kebebasan lugu.”

“Dara, dara, anak berani
Awan hitam mendung mau datang menutup
Nanti semua gelap, kau hilang jalan
Ayo pulang, pulang, pulang.”

“Heeyaa! Lihat aku menari di muka laut
Aku jadi elang sekarang, membelah-belah gelombang
Ketika senja pasang, ketika pantai hilang
Aku melenggang, ke kiri ke kanan
Ke kiri, ke kanan, aku melenggang.”

“Dengarkanlah, laut mau mengamuk
Ayo pulang! Pulang dara,
Lihat, gelombang membuas berkejaran
Ayo pulang! Ayo pulang.”

“Gelombang tak mau menelan aku
Aku sendiri getaran yang jadikan gelombang,
Kedahsyatan air pasang, ketenangan air tenang
Atap kepalaku hilang di bawah busah & lumut.”

“Dara, di mana kau, dara
Mana, mana lagumu?
Mana, mana kekaburan ramping tubuhmu?
Mana, mana daraku berani?

Malam kelam mencat hitam bintang-bintang
Tidak ada sinar, laut tidak ada cahaya
Di pantai, di senja tidak ada dara
Tidak ada dara, tidak ada, tidak –

Adapun sajak di atas, merupakan terjemahan sajak Hsu Chih Mo berikut ini:

A SONG OF THE SEA

I
“Girl, girl alone,
Why do you wander
The twilight shore?
Girl, go home, girl!”

“No, I won’t go!
Let the evening wind blow
On the sands, in the glow.
My hair is combed bay the winds,
As I wander to and fro.”

II
“Girl, with the hair uncombed,
Why do you stay
By the cold silent sea?
Girl, go home girl!”

“No, let me sing,
Let me sing, wild sea who sings to me
Under the starlight, in the cool winds
A girl’s voice singing free”

III
“Girl daring girl
Dark clouds are coming over the sea’s edge
Soon there will be fierce clouds
Girl, go home, go!”

“Look, I am dancing in the air,
I am a seagull dancing among waves,
In the ecening tide, in the sands,
Swiftly hovering, gracefully,
Back and forth, back and forth.”

IV
“Hark, the wild rages of the wild sea!
Girld, go home, go!
Look, the waves are fiarce beasts.
Girl, go home, girl!”

“The wave will not eat me,
I am like the tossing of the wild seal
In the tide’s song, in the wave’s light
I hurry amidst the sea-foam,
Tumbling, tumbling!”

V
“Girl, where are you girl?
Where is your song?
Where is your graceful body?
Where are you, daring one?”

The dark night eats up all the stars
There is no more light on the sea,
No more girl on the beach,
No more girl – no –

Saya berusaha menerjemahkan pula, tentu jauh dari Chairil tapi ini usaha saya untuk menerjemahkan sebuah puisi yang indah itu:

TENTANG NYANYIAN LAUTAN

“Perempuan, perempuan yang sendirian,
Kenapa kau mengembara
Pantai pada senjakala?
Perempuan, pulanglah perempuan!”

“Tak, aku tak akan pergi!
Biarkan angin sore menderu
Pada pasir yang bercahaya.
Rambutku disisir angin teluk,
Saat kumengembara dari barat ke utara.”

“Perempuan, dengan rambut kusut,
Kenapa kau tinggal
Dengan laut sunyi yang dingin?
Perempuan, pulanglah perempuan!”

“Tidak, beri aku kesempatan bernyanyi,
Beri aku kesempatan bernyanyi, laut liar pun bernyanyi kepadaku
Di bawah cahaya bintang, di angin yang dingin
Suara perempuan menyanyi dengan bebasnya”

“Perempuan yang berani
Awan kelam datang bersemayam di lautan
Segera akan ada awan mengancam
Perempuan, pulanglah, pergilah!”

“Lihatlah, aku  sedang menari di udara,
Aku adalah camar menari di bibir ombak,
Di senja yang pasang, di pantai berpasir,
dengan cepat menunggu dekat, dengan penuh rahmat,
berputar-putar, menari-nari.”

“Dengarlah, amukan liar dari  laut liar!
Perempuan, pulanglah, pergilah!
Lihatlah, ombak serupa binatang buas.
Perempuan, pulanglah perempuan!”

“Gelombang tidak akan menelanku,
Aku seperti gelombang dalam laut yang buas!
Dalam nyanyian pasang, dalam cahaya gelombang
Aku berputar-putar di tengah lautan
Terguling-guling!”

“Perempuan, di mana kamu perempuan?
Di mana nyanyianmu?
Di mana badan gemulaimu?
Di mana kamu, perempuan pembarani itu?”

Malam yang gelap menerkam semua bintang-bintang
Tak ada cahaya di lautan,
Tak ada perempuan di pantai,
Tidak ada lagi anak perempuan  –sungguh tidak-

Iklan

17 thoughts on “Dunia Terjemahan Chairil Anwar; Tentang Datang Dara, Hilang Dara”

  1. Wktu SMP ak nemuin puisi ini diPerpus wilayah dikotaku Pekanbaru. Aku salin ke Buku kumpulan catatan puisi. Aku suka bgt puisi tsb, baik yg trjmhan maupun yg English. Sering kubca dgn 2 versi suara (krn mnrutku tuh puisi menggambarkan perckapan antara 2 org). Wktu mrantau ke Bekasi stlh tmat kuliah bku kmpulan puisi ikut kubawa tp sayang kemudian hilang. Aku cba nyari lg diperpus namun ga ada/ ga ktmu, mgk krn selang wktunya dah trlalu lama, lebih sepuluh thn. Alhmdulillah, skrg ak nemuin pusi favoritku dsini. Trm ksh yg takl terhingga.

  2. waduh, maksih ya mas udah dapat sedikit pencerahan tentang ilmu sastra ni, saya juga suka sekali, slx saat ini saya jg sedang kuliah jurusan bahasa dan sastra indonesia, semoga ini bs bermanfaat dan menjadi pedoman buat saya untuk menjadi seorang guru bahsa indonesia kelak. salammmmmmmmmm

  3. wah sobat…terima kasih infonya…kadang ketika diketahui bahwa beberapa karya dari sang pelopor 45 ini ternyata disadur dari para sastrawan asing yang terkenal, orang-orang memang banyak yang mencap si ‘binatang jalang’ ini sebagai plagiator…hahaha…kontradiksi ini memang banyak diperdebatkan, bahkan pernah didiskusikan dikampusku…tapi, meski memang kita tak bisa menyakal kebiasaan si chairil ini untuk menyadur tanpa menyebut penyair aslinya, sehingga dirinya dicap seorang plagiator…kita tetap harus mengakui bahwa beliau adalah sang sastrawan pelopor tentang gaya baru didunia kesastraan, dan merupakan salah satu penyair besar…
    sekali lagi terima kasih

  4. oh tambahan…memang disayangkan jika ternyata karya yang satu ini bukanlah karya asli dari chairi anwar. tetapi kehebatan yang ditampakkan dalam karya saduran ini adalah kemampuan chairil dalam pemilihan kata/diksi ketika mengubahnya ke bahasa indonesia,

    maaf sebelumnya, sekedar mengkeritik…seandainya chairil mengartikan karya ini seperti yang mas lakukan…maka nilai estetika nya akan berkurang…itu saja…terimakasih

  5. mas boleh tau gak perbandingan terjemahan kayra chairil dengan aslinya?? kebetulan saia dapet tugas mencari perbandingan tsb… tolaong dibantu ya mas^_^ minta pendapatnya??!
    tks.

    1. di atas, di jelaskan karya terjemahan chairil beserta aslinya. tinggal anda analisis saja. saya tidak memiliki file yang demikian sebabnya. oleh karena itu, jika tugas anda selesai, dilengkapi pula dengan karya anda, makalah ini. terima kasih.

  6. mksh pak atas ilmu’a…..
    tp saya dpt tgs mncri persamaan puisi” chairil anwar dgn hendrik marsman….
    bisa d bntu gk pak ???? 😉

  7. Assalamualaikum.
    wah kak, puisi-puisi yang menarik sekali.
    oh iya kak, puisi ini diterjemahkan Chairil di tahun berapa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s