Catatan

IBADAH AKHLAK DALAM BERPUASA

Pendahuluan
Anjuran untuk menjalankan ibadah puasa telah jelas termaktub dalam Al-Quran sebagai mana dalam surat Al-Baqorah ayat 183 yang berbunyi:
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
Dengan demikian jelaslah bahwa anjuran menunaikan ibadah puasa merupakan sesuatu yang mutlak bagi orang-orang beriman agar dapat bertakwa.
Adapun puasa berasal dari bahasa arab al-shoum dalam bentuk jamak as-shiyam. Secara etimologi berarti menahan diri dari sesuatu baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan. Misalnya dalam perkataan orang menjaga perkataannya dari berbohong atau menghasud sedangkan dalam berbutannya menjaga dari rasa haus dan lapar.
Sedangkan secara terminologi puasa berarti menahan diri dari segala yang membatalkan, sejak terbit fajar sampai tenggelam matahari dengan niat karena Allah SWT. Untuk hal-hal yang membatalkan akan dijelaskan pada penjelasan-penjelasan berikutnya.

Cara Penetapan Waktu Puasa (Rhamadan)
Dalam penentuan puasa ini, ada dua pendapat. Yakni yang memakai ru’yat adapula yang memakai hisab. Cara yang pertama ini menetapkan puasa dengan melihat hilal untuk menentukan awal dan akhir puasa yang dilakukan dengan mata telanjang. Prosesnya dilakukan pada sore tanggal 29 sya’ban. Bila pada tanggal itu hilal telah kelihatan maka dipastikan bulan sya’ban telah habis dan keesokan harinya sudah mulai puasa. Bila tidak, maka akan digenapkan.  
Sedangkan cara yang kedua yakni hisab. Cara ini menggunakan perhitungan dengan mempelajari peredaran bulan yang mengelilingi bumi. Sistem hisab menggunakan perhitungan berdasarkan ilmu ukur segitiga bola yang dilandaskan pada ilmu astronomi. Bila menurut perhitungan hisab, hilal berada di atas ufuk, maka jatuhlah awal bulan.
Bila menimbang kepraktisannya, maka cara hisab lebih praktis karena tidak membutuhkan cara ru’yat sedangkan ru’yat membutuhkan cara hisab dan lagi, penentuannya pun dapat dilakukan jauh-jauh hari tidak seperti ru’yat.

Rukun Puasa  
Dalam puasa memiliki dua rukun. Pertama, niat dan yang kedua adalah menahan diri dari segala yang membatalkan puasa dari fajar hingga tenggelamnya matahari. Untuk niat, hendaknya kita meniatkan puasa untuk ibadah semata. Pentingnya niat ini pun disinggung oleh Rasul yang bersabda setiap perbuatan itu hanyalah dengan niat, dan niat manusia akan beroleh apa yang diniatkannya (H. R. Muslim). Untuk itu, pentingnya meluruskan niat dalam ibadah puasa merupakan hal yang urgen.

Hal yang Dilarang dan yang Membatalkan Puasa
Perempuan yang sedang haid dilarang berpuasa. Sedangkan orang yang dalam perjalan atau musafir dan sakit diperbolehkan untuk membatalkan puasanya. Akan tetapi mereka semua wajib mengqadlonya seletah ramadhan berakhir. Adapun batas watunya hingga akhir bulan sya’ban.
Adapun yang membatalkan puasa adalah makan, minum, muntah dengan sengaja, mengeluarkan haid atau nifas, mengeluarkan mani dan melakukan senggama di siang hari. Makan dan minum di siang hari tidak membatalkan puasa jika hal itu dilakukan secara tidak sengaja.
Orang hamil, pikun, menyusui dan sakit yang tak sembuh-sembuh dibolehkan hanya untuk membayar fidyah saja.  

Beberapa Anjuran Dalam Berpuasa

Pertama, yakni melakukan Qiyamur Ramadhan yakni dengan menjalankan shalat malam. Hal ini biasa disebut dengan shalat Tarawih. Adapun waktunya dari habis isya sampai menjelang subuh. Qiyamur Ramadhan dapat dilakukan secara berjamaah maupun sendiri-sendiri.
Kedua, mentakhirkan saur. Artinya dalam bersaur kita melakukan santap saur mejelang subuh. Adapun sahur merupakan barkah sesuai dengan sunah Nabi, dari Anas Ra. Bahwasanya Nabi SAW bersabda: makan sahurlah kamu karena dalam sahur itu ada barkah. (H. R. Al-jama’ah)
Ketiga, menyegerakan iftor atau buka puasa. Dalam hal ini sebaiknya memakan makanan yang manis-manis seperti kurma. Kemudian yang keempat, berdoa setelah berbuka puasa. Kelima, perbanyak tadarrus. Keenam, perbanyak i’tikaf dan terakhir yang ketujuh adalah memperbanyak sedekah.

Puasa-puasa Lain yang Disunahkan  
Selain puasa yang diwajibkan, ada pula puasa yang sifatnya mustahab atau disunahkan. Adapun puasa-puasa yang lazim dilakukan adalah puasa pada bulan syawal selama delapan hari berturut-turut, hari senin dan kamis, puasa nabi daud dan puasa pada hari arafah menjelang idul adha.

Waktu-waktu yang Dilarang Berpuasa
Dalam berpuasa, ada hari-hari dimana kita dilarang untuk melakukan ibadah puasa. Yakni pada aidain atau dua hari raya. Hari raya itu meliputi, hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Ibadah Puasa Secara Essetoris
Dengan berpuasa, mengajarkan kita untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang tidak mampu. Oleh kerena itu dalam berpuasa diutamakan bagi kita untuk memperbanyak shadaqoh.
Selain itu, puasa juga menyehatkan badan. Dalam berebagai penelitian menegaskan hal tersebut, bahwa dengan berpuasa tubuh akan menjadi lebih sehat.
Puasa melatih kita untuk menahan diri. Dalam berpuasa kita tidak makan dan minum. Hal ini memlatih kesabaran kita. Sabar menungguh hingga tenggelamnya matahari. Selain itu, kita juga menjaga diri dari penyakit hati yang bersifat dengki, iri, marah, memfitnah dan lain sebagainya.

Penutup
Setelah mengetahui seluk beluk mengenai puasa. Kita hendaknya meningkatkan kualitas puasa kita, dengan lebih baik berpuasa, baik dalam meluruskan niat maupun dalam menahan diri dari lapar, haus maupun sifat hati lainnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s