Cerpen

Mereka yang Menanam Rindu di Hatiku

Air mataku tak henti mengalir, barangkali seperti air yang kini menghempas rerumah menjadi tanah. Deras, deras sekali. Aku menyekanya berkali-kali agar aku dapat melihat dengan jelas. Mencari sosok ibu atau bapak yang barangkali tertimbun di antara tumpukan puing rerumah atau pada lumpur yang kini menebal sampai ke lututku. Tetapi rasanya sia-sia. Aku hanya mendapati lumpur dan lumpur saja.
“Ibu! Bapak!” aku meraung sejadi-jadinya. Menghempas tumpukan puing tempat dulu rumah kami berdiri kokoh. Tapi kini, hanya seperti kapal karam yang tenggelam, teronggok tak ada artinya.  Bagai kata yang kehilangan makna.
Pak RT yang berdiri tak jauh dariku berusaha menenanganku.
“Sabar Nak, Sabar, Istigfar…,” ujarnya sambil mengelus punggungku.
“Ibu di mana Pak RT? Bapak saya juga di mana?” aku mencecarnya dengan pertanyaan. Tetapi Pak RT terus berusaha menenangkanku.
“Kita cari, mudah-mudahan kita menemukannya,” ujar Pak RT sambil membokar beberapa puing yang berserakan.
Aku masih hafal sekali di mana rumahku dulu meski kini hanya menyisakan tanah yang lapang dan rumah yang tak utuh, hanya tersisa tembok saja dan entah ke mana perabot rumahnya juga gentingnya. Di samping rumahku, adalah rumah Pak Marji. Ia telah ditemukan tewas bersama istrinya dan anaknya  yang masih kecil di dalam rumahnya tertumpuk puing rerumah.
Ini memang hari kedua dan aku telah mencari orangtuaku disemua posko yang ada. Tak kutemukan mereka. Wajah keriput bapak dengan mata kecilnya, juga ibu yang selalu mengalirkan cintanya kepadaku. Ah, ke mana mereka? Di mana mereka berada? Aku sungguh khawatir mengingat ibuku terkena strook dan pastilah untuk menyelamatkan diri sungguh sesuatu yang tidak memungkinkan. Untuk berjalan ia sudah tertatih-tatih apalagi untuk menerjang air yang tiba-tiba datang dan menerkam.
Aku tiba-tiba digelayuti rasa bersalah yang luar biasa. Barangkali jika aku tak meninggalkan mereka, mereka masih bersamaku dan mengalirkan senyumnya untukku. Tapi? Ah, aku mungkin Malin Kundang yang durhaka pada orang tuanya. Aku bahkan meninggalkan mereka karena cinta.
Malam itu aku memang berselisih dengan bapak. Bapak melarangku untuk mendekati Narti hanya karena Narti seorang pelacur. Tatapi bagiku Narti tidak serendah itu, karena Narti melakukan itu hanya karena himpitan hidup. Ia tak bisa menghindarkan itu. Karena toh Narti tidak seburuk yang dibayangkan bapak. Narti masih suka shalat, masih memakai pakaian yang santun dan yang membuatku bangga ia bisa membaca Al-Quran. Aku pikir jika aku menikahinya aku akan dapat membawanya ke jalan yang benar. Jalan yang diridhoi Tuhan.
Untuk itulah aku menentang kata-kata bapak. Tapi bapak tetap menentangku.
“Pelacur tetap pelacur. Air yang jernih bila terkena noda kotor akan kotor pula!” tandas bapak.
“Ia ingin bertaubat dan Narti bukan pelacur sembarangan,” jawabku beralasan.
“Pelacur tetap pelacur!” lagi-lagi bapak bersikeras pada pendiriannya.
“Tidak!” tentangku.
Dan Plak. Sebuah tamparan mendarat di mukaku.
“Anak kurang ajar!” bentaknya kemudian.
Aku menatap mata bapak tajam. Aku marah dan geram. Tanpa pikir panjang aku meninggalkan rumah tanpa pamit sebelumnya. Aku ingat betul waktu itu ibu menangis. Barangkali ia tak tega sehingga ia sempat mengejarku tetapi bapak menahannya.
Tapi kini mereka tak ada. Ingin sekali aku meminta maaf pada mereka atas segala kesalahanku. Aku tahu sebenarnya bapak ingin aku anak satu-satunya ini menikah dengan orang yang baik agar masadepanku cerah. Aku yakin bapakku berlaku seperti itu hanya untuk kebaikanku sebagai orang tua yang membimbing anaknya.
Dan kini aku sungguh menyesal telah meninggalkan mereka. Banyak kisah yang kudengar dari tetangga-tetanggaku yang selamat bahwa air luapan Situ Gintung begitu deras dan tinggi. Sehingga sulit sekali untuk menyelamatkan diri. Aku tak dapat membayangkan bagaimana bapak dan ibu berusaha menyelamatkan diri mereka. Ah, aku benar-benar merasa bersalah.
Air mataku mengucur kembali dan aku tak kuasa mencegahnya meski aku seorang lelaki. Aku tak mengira Situ Gintung yang tenang itu dengan cepat meluluh lantakkan seluruh bangunan yang diterjangnya juga ratusan nyawa yang kini bahkan masih hilang entah ke mana. Termasuk mereka yang aku cinta, ibu dan bapak.
Aku lelah dan aku kembali mencari ke posko-posko pengungsian. Mayat-mayat yang ditemukan digeletakan. Aku mencari wajah ibu bapak di antara mayat itu barangkali mereka telah ditemukan. Tapi sia-sia. Aku mencari dan mananyai pada para tetanggaku barangkali mereka melihat orangtuaku tinggal di posko. Hal ini pun sia-sia.
Aku duduk tersungkur di pojok ruangan. Ada anak kecil menangis dan meraung mencari ibunya. Tapi bapak anak itu menenangkannya dan menimang-nimangnya bahkan sambil bercucuran air mata. Aku tak tega melihatnya.
Di kejauhan ada petugas datang diikuti kerumunan orang. Aku ikut mengerubungi petugas itu. Ternyata temuan mayat baru lagi. Hatiku bergetar. Tak kuasa menahan tangis bila sosok mayat itu adalah ayaku atau ibuku. Tapi, betapa terkejutnya aku. Ternyata mayat itu adalah mayat ibu dari anak yang tadi menangis mencari ibunya. Meski aku bukan saudaranya, aku tak kuasa menahan air mata. Menyesakan haru yang begitu mendalam.
Ah, bagaimana bila mayat itu adalah ibu atau bapakku? Aku sungguh tak kuasa menahan haru yang mencengkram perasaanku.
Aku mengingat kembali kedua orang tuaku. Ah, mereka sangat mencintaiku mengapa aku meninggalkan mereka. Aku masih ingat bagaimana pada suatu malam aku meraung-raung karena lapar yang tak tertahankan sedang kami hanya memiliki satu porsi nasi dengan satu tempe sebagai lauknya. Saat itu bapak dan ibu menyerahkan nasi dan tempe itu kepadaku meski aku tahu mereka sama laparnya denganku.
Kenangan itu seperti pisau yang menyayat hatiku. Dan kembali air mata tak kuasa kutahan dan terus berjatuhan.
***
“Mardi! Mardi!”
Aku mencari orang yang memanggilku. Ternyata Pak RT yang berlari dari kejauhan sambil terus menerus meneriakkan namaku.
“Ada apa?” tanyaku.
“Orang tuamu…,” ujarnya masih tersengal-sengal sehingga kata-katanya terpotong.
“Ada apa? Ada apa dengan orang tuaku?” tanyaku cemas dan haru sekaligus panik.
“Mereka ada di posko, mereka selamat!” ujar Pak RT menyakinkanku.
“Selamat? Aku sudah mencarinya tapi tak ada,” ujarku tak percaya.
“Benar, mereka selamat. Mereka tak ada di rumah saat kejadian. Mereka pulang kampung ke Jawa dan sekarang mereka bahkan bingung mencarimu. Mereka bahkan mengkhawatirkanmu,” terang Pak RT.
Aku sungguh bahagia mendengarnya. Aku segera berlari menuju posko tempat mereka berada dan begitu bahagia saat melihat mereka yang kemudian memelukku sambil mengalirkan air mata dan mengucap syukur berkali-kali atas nikmat yang diberikan-Nya.
Aku menatap mereka lama sekali seperti telah berwindu-windu tak bertemu. Bapak dan ibu yang kini mengalirkan air mata ke dalam diriku. Aku mencium mereka berkali-kali, mereka yang menanam rindu di hatiku.

wismasastra, 2009

Iklan

1 thought on “Mereka yang Menanam Rindu di Hatiku”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s