Cerpen

TENTANG CINTA

Bila aku mengenal cinta, maka aku ingat Rara. Bila aku mengenal dosa, pun sama; Rara. Ya, Rara telah mengajariku banyak hal soal cinta. Tentang air mata yang jatuh dari kedua mataku, tentang senyumnya yang selalu mengalirkan rindu.
Aku tak mengelak bila citna tak lebih dari pintu dosa. Tapi aku lebih percaya bila cintalah kunci surga. Tuhan telah membisiki kita tentang itu. Kita harus menanam kasih sayang di manapun kita berada. Hanya saja kita selalu lupa akan hal yang dilarangnya, tepat sekali seperti Adam dan Hawa.
Maka cintaku pada Rara pun tak lepas dari itu. Memang pertama kali cinta kami cinta platonik. Suci dan murni sekali, selalui ada jarak di antara kami agar tak menyulut birahi.
Tapi manusia bukanlah batu karang yang kokoh. Hati kami, tubuh kami leleh pula oleh rindu. Maka kami mulai mengenal kecupan. Mulanya kening, pipi, lalu sampailah pada bibir.
Aku tak sanggup mengenyahkan meski aku tahu Tuhan mengintip kami. Aku pun ingat pada wejengan kyaiku. Beliau melarangku untuk berpcaran. Menurutnya, hal itu hanya mengundang setan. Tapi apalah kuasa manusia sepertiku ini?
Aku sering membatin pada diriku sendiri. Ini salah! Ini salah! Tapi rayuan syetan telah bersepakat dengan ragaku. Maka pudarlah nuranikubak terhempas gelombang laut yang ganas.
Sebenarnya aku tersiksa hidup seperti ini. Hanya ada satu pintu yang mestinya kami ketuk. Tidak lain adalah menikah. Tapi sugnguh ada tembok besar yang menghalangi kami. Rara telah dijodohi oleh orang tuanya sejak kecil. Bahkan Rara tak tahu hingga pada suatu malam aku datang ke rumahnya untuk mengokohkan hubungan kami.
“Maaf Dik. Rara sudah ada yang punya,” ujar ayahnya.
“Apa?” Aku terkejut, begitupun dengan Rara.
“Mengapa ayah tak memberi tahu sebelumnya?” Tanya Rara diiringi isak histeris. Malam itu malam yang amat menyedihkan bagi kami.
Selama berhari-hari aku sakit. Aku mengurung diriku di dalam kamar. Semua kenangan indah silih berganti berulang-ulang berputar dalam otakku. Tapi aku hanya dapat meratapi kemalanganku.
Orang tuaku membujukku untuk melupakan Rara. Mereka berusaha keras agar aku kembali seperti semula. Tetapi semakin keras usaha mereka, semakin dalam aku tenggelam dalam kesedihan.
Hingga suatu malam ada seseorang yang datang kepadaku. Tubuhnya bersih dengan pakaian putih. Mukanya bercahaya. Aku tenang dibuatnya. Hatiku yang gundah seperti hilang begitu saja. Ia membisikiku ayat Al-Quran seperti berusaha mengingatkanku pada Tuhan.
Entah mengapa tiba-tiba aku menangis. Aku merasa tak memiliki apa-apa. Aku gundah dan orang bercahaya itu membuatku hilang makna. Aku seperti seorang bayi yang baru dilahirkan. Pada titik inilah aku seperti baru mengenal Tuhanku, Allah yang memberiku napas untuk hidup, mata untuk melihat. Aku merasa sungguh tak berarti. Tak bersyukur. Tak pernah merasakan cinta yang diberikan-Nya padahal cinta Allah lebih besar dari segala manusia. Bila Allah memberi mata, maka apa yang dapat diberikan manusia? Bajukah, celanakah? Ah, sungguh tak sebanding oleh pemberian-Nya.
Maka aku mengenal Tuhan. Ya, cinta-Nya. Sungguh platonik!

Iklan

10 thoughts on “TENTANG CINTA”

  1. Malem2 begini lagi cari pencerahan..eh akhirnya sampe juga kesini..hihihihi
    mantaplah. tapi ngomong2 ini kisah nyata apa hanya fiktif belakan yah..???hehehe

  2. memang novel singkat ini menarik untuk dibaca dan mengharukan sekali jadi magnanya yang penting bukan tebalnya maka cocoklah disebut ini cerita pendek atau cerpen tidak mudah untuk mengambil solusi maka harus dibaca ber ulang ulang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s