Atap Sastra, Catatan

KEMBALI KE HAKIKAT (Puisi Sebagai Substansi)

Puisi merupakan suatu karya seni yang jenius. Dikatakan jenius karena puisi merupakan gabungan kata yang sangat unik, memiliki banyak interpretasi dengan berbagai unsur simbolik maupun unsur konotatif. Sehingga dapat dikatakan puisi itu adalah kata itu sendiri. Wajar bila kemudian sang Presiden Penyair, Sutarji mengatakan dalam kredonya membebaskan kata dari beban makna.
Apakah ada kecendrungan hal ini juga terjadi pada karya sastra lain? Mungkin sebaiknya pertanyaan ini kita simpan terlebih dahulu. Hal ini dilakukan untuk lebih memfokuskan makalah ini pada salah satu karya sastra, yaitu puisi.
Dalam penulisan puisi, pembentukan makna dari unsur simbolik maupun konotatif sehingga menghasilkan interpretasi yang sesuai dengan substansi puisi itu sendiri harusnya dilakukan dengan mencari motif penyair. Kata akan bermakna bila ia dilahirkan dari motif. Karena motif ini akan membentuk urutan kata menjadi kalimat-kalimat bermakna atau mungkin bila tidak membentuk fonem-fonem simbolik seperti pada kasus puisi-puisi Sutarji, sebagai contoh ‘Q’.
Dalam sebuah makalah, Taufiq Ismail melandaskan puisi harus disertai dengan niat (purpose). Niat merupkan sinonim dari motif itu sendiri. Puisi sebaiknya diniatkan dari ketulusan hati, kerendahan jiwa, serta niat baik. Sehingga puisi yang dihasilkan akan menjadi puisi yang membawa kepada kebaikan.
Ruh seperti inilah yang mungkin tidak semua puisi miliki. Ketika kata-kata kehilangan ruh, maka apa jadinya puisi? Seperti juga manusia, tanpa ruh, ia akan kaku dan tak memberikan makna bagi hidupnya.
Dalam teologi Islam, proses terbentuknya manusia begitu jelas dipaparkan dalam Al-Quran. Pada salah satu fasenya terdapat bagaimana Tuhan meniupkan ruh ke dalam jiwa manusia. Ini bisa jadi kita interpretasikan sebagai sebuah proses baiat tentang tujuan manusia diciptakan, mengingat Al-Quran bukanlah kitab yang memiliki sifat yang dinamis dan simbolis. Dalam ayat lain, Tuhan berkata bahwa manusia dan jin diciptakan untuk beribadah. Maka substansi manusia di sini menjadi manusia yang beribadah. Namun demikian, masih banyak orang menerjemahkan hidupnya dengan hal yang lain.
Demikianlah puisi, ada baiknya sebelum puisi itu diciptakan adakalanya kita tiupkan ruh –dalam hal ini niat atau motif- sehingga kata-kata yang tersulam dalam puisi itu menjadi kata-kata yang bermakna. Kalaupun kelak kata-kata tersebut mestilah menjadi interpretasi berbeda pada pembaca.
Untuk itu, sebaiknya puisi dalam membentuk sebuah makna ataupun interpretasi dikembalikan kepada penyair. Penyair sebagai ‘tuhan kecil’ yang mencipta puisi.
Dalam mengungkapkan sebuah makna atau substansi puisi, penyair biasa melakukannya dengan tersirat. Dalam hal ini, kita dapat melihat puisi-puisi ‘terang’ yang memiliki unsur perlambangan dan pengkiasan yang minim. Karya-karya tersebut kita dapati pada sebagian besar puisi-puisi Taufiq Ismail dan Rendra yang cendrung balada.
Pengungkapan makna yang berbeda, mungkin akan kita dapatkan bila kita bertatap muka langsung dengan penyair ‘face to face’ sehingga tercipta diskusi kecil semacam pengadilan terhadap puisi tersebut. Hal ini mungkin yang sulit kita dapatkan.
Sebagai sebuah karya seni, puisi memang tergantung pada siapa yang membaca. Sebagaimana sebuah pisau, juga tergantung pada siapa yang memegang. Puisi akan kehilangan makna sesungguhnya, bila diinterpretasikan lain otak namun bisa juga memiliki makna yang sama dengan kehendak penyairnya. Demikian pula pisau, ia akan menjadi senjata pembunuh atau mungkin hanya sebagai pemotong wortol untuk bahan sop.
Demikianlah puisi lahir sebagai sebuah fenomena. Adakalanya puisi bermakna ‘A’ di mata kita, ada kalanya juga ‘B’. Namun, untuk mendapatkan hakikat puisi itu, sebaiknya kita kembali kepada penyair, sang pemegang motif, sang peniup ‘ruh’ pada puisi.
***
Dalam puisi-puisi saya, motif atau niat merupakan unsur dasar atau peletak. Proses peniupan ruh pada puisi merupakan hal terpenting dalam puisi-puisi saya. Hal ini tentu berkaitan erat dengan latar belakang saya sebagai seorang santri. Islam mengajarkan konsep niat dalam melakukan segala hal. Innamal a’malu binniyyati, setiap perbuatan berdasarkan pada niatnya.
Konsep niat menjadi sangat relevan dengan kehidupan kita sehari-hari. Apapun yang kita lakukan memang semua memiliki niat atau motif. Sekalipun kadang kita berusaha menyembunyikannya. Niat memang terlihat absurd, seabsurd puisi itu sendiri.
Menjadikan puisi sebagai penyalur ekpresi merupakan tujuan semua, demikianlah puisi-puisi saya lahir dari hati yang mendung oleh ekspresi yang kemudian turun sebagai hujan puisi. Begitu deras, dan mengalir begitu saja ke dalam layar monitor komputer saya atau mungkin dalam buku kecil saya. Membanjiri kertas dengan kata-kata yang kadang penuh dengan luka, rindu atau bahkan kenangan yang tak mampu diwujudkan.
Demikianla kata-kata berbicara sebagai puisi. Seperti juga tangan, kaki, hati, mulut, otak dan lain sebagainya berbicara sebagai manusia. Memiliki simbol-simbol tersendiri untuk mengungkapka makna.

Wisma Sastra, 13/02/2008

Iklan

3 thoughts on “KEMBALI KE HAKIKAT (Puisi Sebagai Substansi)”

  1. klu menulis cerita rakyat tentang oheo,itu hrus jelas sumbernya,dan perlu ditahu,bahwa oheo ini adalah cerita rakyat sulawesi tenggara,tepatnya di konawe utara,dan cerita,sekaligus nenek moyang orang tolaki,dan bukan cerita dari sulawesi tengah,klu perlu hrus dilengkapi buku2 sejarah yang menceritakan keberadaan oheon ini.untuk lebih jelasnx baca bukunya pak Prof,DR.(almh)Rauf tarimana,tentang kebudayaan tolaki

    1. cerita oheo ini saya ambil dari referensi di internet dan yang berkembang memang demikian. ada baiknya di-share cerita oheo yang sebenarnya seperti apa. sehingga penafsiran tentang cerita ini jauh lebih utuh untuk kedepannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s