Cerpen

RUH YANG MENUJU LANGIT

Kau tahu bagaimana ruh menuju langit Ra? Lihatlah ke pusat ledakan, dari sana akan lahir ruh-ruh yang terbang menuju langit, menuju surga. Ah, sebentar lagi mungkin kita akan berterbangan seperti mereka…
***
Kau sering bertanya Ra, ke mana ayah-ibumu pergi, ke mana kakak-adikmu pergi. Lihatlah ke pusat asap yang mengepul di sana, setelah sebuah pesawat meluncurkan roketnya lalu menimpa sebuah rumah. Lihatlah lebih dekat, lebih jeli lagi. Lihatlah bagaimana rumah itu hancur berkeping-keping, bangunannya roboh, hancur dan luluh lantak. Lihat pula ke sudut bangunan itu, seorang anak menangis dan lainnya menjadi arang, menjadi mayat-mayat yang gosong.
Kau masih beruntung Ra, karena kau masih memilikiku, bagian kecil dari masa lalumu. Sebuah boneka kecil yang kau bawa berlari-lari di antara puing-puing bangunan. Sebuah boneka panda yang begitu lusuh dengan mata sebelah kanan telah hilang dan warna putih yang telah menghitam.
Yakinlah kau masih beruntung Ra, meski aku hanya boneka, aku akan menemanimu ke mana pun kau berlari dan bersembunyi. Yakinlah itu Ra, karena di luar sana, banyak temanmu yang bahkan tak memiliki apa-apa dari masa lalunya. Tidak keluarga, tidak pula boneka sepertiku. Tak ada yang dapat diajak bicara untuk sekedar membagi air mata seperti kau membagi air mata denganku. Tak ada Ra.
Bahkan kau tahu Ra, tidak sedikit dari mereka tak memiliki tangan manis sepertimu yang selalu membelaiku dengan kasih sayang. Tidak memiliki kaki lincah yang dapat berlari kencang saat puluhan tentara menembakan peluru membabi buta dan yang lebih miris lagi, temanmu tak dapat melihat wajah nakalmu yang selalu menggoda. Mereka telah kehilangan itu semua.
Aku yakin kau takut dengan semua ini, aku yakin kau pun tak mengerti pada apa yang sedang terjadi. Tapi kau tak pernah putus asa. Kau selalu datang ke masjid dan berdoa. Dalam doa-doamu, kau tak pernah lupa selipkan nama orang-orang yang kau cintai; ibumu, bapakmu dan ah… aku selalu tak tega bila melihat air mata yang jatuh kemudian menetes di sajadahmu.
Kau selalu mengingat ibumu yang mengajarkan memakai jilbab yang baik atau bapakmu yang suka mengajakmu pergi ke pasar untuk menjual sayur mayur. Kau selalu mengingat semua kelok jalan yang kau lalui saat pergi ke pasar agar tak tersesat karena kau harus pulang sendiri. Saat itu kau selalu senang melewati jalan-jalan itu. Kau begitu suka memandang toko yang menjual permen warna-warni atau toko mainan yang menawarkan boneka yang begitu lucu, tapi kau selalu bangga memilikiku dan tak berniat untuk menggantiku dengan yang lain.
Tapi kini, jalan itu seakan begitu mencekam. Toko permen dan mainan telah hancur lebur oleh rudal kini hanya menyisakan reruntuhan. Tak ada warna-warna indah permen yang selalu kau pandangi, tidak pula boneka lucu.
Kini kau bahkan tak berani melewatinya sendiri, sebab dari tiap balik reruntuhan seperti ada mata senjata siap mengarahkan pelurunya hingga membuat jantungmu naik turun berdetak cepat. Tanpa kau tahu, bisa saja dari balik tembok itu sebuah peluru meluncur dan menerbangkan nyawamu begitu saja.
Kau tentu ingat peristiwa itu, saat kau berlari-lari menghindari serangan yang terjadi. Tiba-tiba orang di depanmu tergeletak jatuh dengan dada penuh darah tertembus peluru. Kau berteriak keras, histeris dan itu membuatmu berlari begitu kencang.
Darah orang itulah yang mengingatkanmu pula pada keluargamu yang hancur bekeping menjadi bongkahan-bongkahan daging. Rudal yang menghantam rumahmu saat kau pergi ke pasar membuatmu menangis begitu kerasnya ketika kau baru saja tiba. Menyayat perasaan semua orang yang menatapmu. Saat itu, kau memelukku begitu erat seakan kau tak ingin berpisah denganku karena kau telah kehilangan seluruh keluargamu.
Sepanjang malam kau menangis, tetapi kau selalu ingat pada kata-kata ibumu.
“Rabeah, bila kau sedih, ambillah air wudhu dan shalatlah dua rakaat.”
Kau pun mengikutinya, dan sesegera mungkin wajahmu terlihat bercahaya. Ah, kau seperti malaikat, pikirku.
Kau memang anak yang belum dewasa, masih berumur lima belas tahun, tapi kepahitan hidup terus-menerus menusuk ke dalam hatimu. Tiap detik waktu, raungan pesawat, getar rudal, suara senapan dan ledakan lainnya terus masuk mengalir ke dalam hatimu.
Kau tampak kecewa dengan semua ini. Kenapa harus terjadi perang?
Kau tak pernah tahu jawaban itu. Tetapi tentu kau ingat bagaimana Hasan, teman kecilmu itu dulu selalu mengajakmu bermain perang-perangan. Apakah perang ini seperti sebuah permainan? Tanyamu suatu waktu padaku.
Entahlah, kau tak pernah mendapatkan jawaban itu. Kau hanya mengenang peremainan Hasan. Hasan selalu menjadikan kayu sebagai senjatanya. Kemudian Hasan pun bereperan sebagai tentara pembela Palestina sedang si gembrot Fadilah berperan sebagai tentara Israel. Sedang kau? Kau tak pernah mau menjadi apapun. Kau hanya ingin menjadi penonton setia yang melihat tingkah laku mereka yang terkadang menggelikan itu.
Tubuh Hasan yang tegap selalu membuat Fadilah kalah. Sering kali Fadilah jatuh bangun ketika mengejar Hasan. Hasan selalu punya cara mengalahkan Fadilah, ‘tentara Israel’ itu. Hasan selalu dapat ‘menembak mati’ Fadilah. Kau selalu tertawa ketika Fadilah harus tersungkur dan Hasan menodongkan moncong kayunya tepat di kepala Fadilah.
Kini Hasan tak pernah terlihat lagi. Serdadu kecil Palestina itu telah pergi selamanya. Tentu saja kemenangannya terhadap Fadilah bukanlah sebuah pertanda bahwa Hasan akan menang terhadap tentara Israel di kehidupan nyata. Itu hanya khayal yang selalu membuatmu tertawa dan dapat bermimpi. Ya, mimpi untuk hidup tenang dan damai di bumi yang sangat kau cintai ini meski kini kau merasa begitu sendiri. Sunyi.
***
Dari kejauhan, sebuah rudal tampak menghantam bangunan bertingkat. Asap pekat dan tebal mengepul seperti rokok yang dihisap oleh raksasa. Kau berlari di tengah hiruk pikuk orang-orang yang ketakutan. Kau berusaha mencari tempat yang aman. Aman? Ah, kadang kau merasa kata ini tak pernah lahir di Palestina. Kemudian pada sisa bangunan runtuh yang tak jauh dari puing bekas rumahmu, kau bersembunyi dan memelukku demikian erat.
Kau memang sengaja tak beranjak jauh meninggalkan rumahmu itu. Kau telah meminta seorang tetanggamu untuk mengabari pamanmu di Rafah agar cepat menjemputmu. Tetapi sampai hari ketiga, pamanmu belum juga tiba. Ada kabar, Rafah pun sedang di gempur oleh tentara Israel. Hal tersebut benar-benar menipiskan harapanmu. Meski begitu, kau tetap menunggu karena hanya itu harapanmu. Untuk mempertahankan nyawamu, kau hidup dari belas kasih tetangga yang saat ini bahkan sama-sama susah. Kau lebih banyak mengisi waktumu di masjid. Menyumpal perut laparmu dengan air ketika berwudhu.
***
Setelah sebulan lebih kau menunggu pamanmu, tapi ia tak kunjung datang. Mungkin ia telah menjadi syuhada di Rafah sana. Ya, mungkin saja. Tak ada yang pasti di sini kecuali matahari dan bulan yang silih berganti.
Beruntunglah pada akhirnya kau tak sendiri. Kau bertemu dengan keluarga Hasyim yang bahkan telah menganggapmu seperti anak sendiri. Bersama mereka kau seperti mendapatkan keluarga kembali, meski tak seutuhnya. Kau selalu tersenyum bila mengingat perjumpaanmu dengan mereka.
“Umi, itu kakak, itu kakak!” teriak bocah kecil yang segera berlari menuju ke tempatmu berada sementara kedua orang tuanya tergopoh-gopoh mengikutinya.
Anak kecil itu memakai jilbab abu-abu. Tangannya tampak kotor berdebu dan matanya bengkak serta memerah. Mungkin sekali karena air mata.
Seketika itu juga kau pun mengingat adikmu yang kecil. Jika ia masih hidup, mungkin kau akan segera memeluk adikmu itu. Adikmu memang terkadang menyebalkan. Tetapi entah mengapa saat itu kau begitu merindukannya. Tanpa sengaja air matamu menetes ketika itu, tetapi segera kau sembunyikan seperti kau sembunyikan resah di dalam hatimu.
“Bukan Nak, dia bukan kakakmu. Kakakmu telah tiada,” ibu anak itu segera menjelaskan pada anaknya.
“Tidak Umi, ini Kakak. Ini pasti Kakak! Benarkan Kak?”
Kau bingung saat ditanya oleh anak itu. Tak tahu apa yang harus kau jawab. Tapi kemudian bapak Hasyim bertanya-tanya tentang dirimu; tentang orang tuamu, tentang tempat tinggalmu, tentang saudara-saudaramu. Kau pun menjawabnya dengan susah payah menyimpan air mata namun tetap gagal dan bahkan pecah hingga membuat tubuhmu bergoncang. Kedua orang itu pun begitu iba mendengar kisah pilumu dan kemudian berniat merawatmu.
“Ra, kau pasti akan menjadi kakak yang baik. Sejak kematian kakaknya, ia selalu mencari-cari kakaknya,” jelas bapak Hasyim.
Kau melihat anak itu yang segera menggelendot manja di sampingmu. Ada perasaan iba yang menyelusup ke dalam hatimu. Tetapi kemudian kau tampak bersyukur bertemu dengan mereka, karena cinta mereka mampu menghapus luka yang ada meski tidak semua.
Dulu kau seperti anak itu, mencari kakakmu ke setiap jalan yang pernah kau dan kakakmu lalui di Jalur Gaza. Kau selalu menginginkan kakakmu itu kembali dan kemudian bersama-sama memilah-milah sayur yang akan dijual bapak. Tetapi sejak perang terjadi, kakakmu menghilang setelah malamnya terjadi pertengkaran dengan bapak yang tidak membiarkan kakakmu itu pergi ke medan perang.
“Perang tidak akan terjadi lagi Nak,” ujar bapakmu malam itu kepada kakakmu.
“Tidak, bapak tidak lihat bagaimana rudal-rudal sudah menghancurkan rumah di sebagian wilayah Gaza ini? Perang bakal pecah dan aku ingin membela Palestina.”
Bapakmu terdiam, kau menatap nanar kedua lelaki yang ada di rumahmu. Adikmu telah tertidur dan kau bersembunyi dari balik pakaian ibumu. Perang memang tidak akan berakhir di daerah penuh konflik ini bahkan sampai kiamat tiba. Perang akan selalu menyala. Dalam kitab suci bahkan telah termaktub tentang orang Yahudi yang tak akan merelakan kedamaian lahir di sini.
“Kami khawatir Nak,” ujar ibumu.
“Tidak akan terjadi apa-apa Bu. Palestina akan selalu ditindas Bu bila kita hanya diam dan menyelimutkan diri karena ketakutan. Ini harus kita perjuangkan Bu!”
Kemudian kakakmu pergi dan tak pernah kembali. Selanjutnya kau mendengar kakakmu telah meninggal dalam pertempuran di wilayah perbatasan. Tapi kau tak percaya, kau susuri gang-gang kecil mencari kediaman kakakmu hingga berhari-hari.
“Ke mana kakak Bu? Mengapa ia tak pernah kembali?” kau bertanya dan ibumu hanya menangis sambil menjawabnya dengan bibir gemetar.
“Kakakmu telah terbang menuju langit. Menuju taman surga yang dijanjikan untuk para syuhada.”
“Mengapa ia terbang sendiri Bu? Mengapa ia tak mengajakku terbang bersamanya? Barangkali kota ini akan tampak indah dari langit sana Bu. Kenapa ia tak mengajakku?” sambil merengek terus, ibumu kemudian hanya memelukmu begitu erat dan air matanya terus menetes membasahi kerudungmu. Sesekali ibumu mencium kepalamu dan menatapmu begitu dalam.
Ah, kini kau merindukan ciuman ibu, merindukan pelukan hangat perempuan yang telah melahirkanmu itu dan kau pun pada akhirnya mulai berairmata. Kau pun kemudian berlari dan meninggalkanku. Aku tahu ke mana kau pergi, aku tahu kau akan basahi mukamu dengan air wudhu dan shalat dua rakaat. Aku tahu setelah itu kau akan berdoa sambil sesekali kau terisak karena sedih dan kemudian sedih itu hilang saat kau mengeja kalam Tuhan.
Tetapi kau tak segera kembali. Padahal, serangan rudal dari pesawat berkali-kali terdengar menggema ke seluruh penjuru kota. Mengapa kau tak kembali untuk diriku? Mengapa kau tak kembali untuk anak kecil yang kini mulai menangis-nangis memanggil namamu dan orang tua angkatmu pun mulai gelisah.
Kami pun mulai mencari-carimu saat serangan mulai reda. Tempat pertama pencarian kami tentu saja masjid tempat kau biasa berwudhu dan membenamkan seluruh air matamu.
Dan, Ya Allah… betapa hancur hatiku seperti kepingan masjid yang kulihat runtuh. Bangunan itu telah ambruk, hanya menyisakan reruntuhan tembok, darah, dan daging yang terbelah. Lalu… lalu di mana dirimu?
Kutatap langit yang kelabu, kutemukan jawaban itu.***

wismasastra, 2010

keterangan: cerpen ini terpilih sebagai cerpen islami terbaik dalam lomba bertema goresan pena untuk palestina yang diselenggarakan oleh fsi fisip universitas indonesia, depok (3 Maret 2010)

Iklan

4 thoughts on “RUH YANG MENUJU LANGIT”

  1. selamat ya, ohya aku sedang menggarap ebook kumpalan cerpen cinta reliji lintas negara, kalau ada cerpen cinta relijinya aku minta posting di fb dan taq aku di bagian judul dikasih misal MA’RIFAH CINTA (NASKAH INI DIIKUTKAN DALAM EBOOK KUMPULAN CERPEN CINTA RELIJI LINTAS NEGARA), sALAM PERSAHABATAN DAN SALAM KARYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s