Catatan, Esai

SANG PENCERAH: IMPIAN-IMPIAN AHMAD DAHLAN

“Hidup seperti juga sebuah puisi dan lukisan, seluruhnya adalah ekspresi.”

(Muhammad Iqbal)

 

Seminggu setelah lebaran, saya tertarik untuk menyaksikan film Sang Pencerah. Selain karena iklan film ini seringkali tampil di layar televisi, tetapi sebetulnya bukan karena itu. Ada hal yang lebih menggelitik hati saya. Yakni, rasa ingin tahu saya mengenai bagaimana sebuah film mampu menampilkan kehidupan orang yang berpengaruh dalam perkembangan Islam dan bahkan negara ini secara keseluruhan. Sehingga ketika film ini mulai beredar di bioskop-bioskop, saya mulai tidak sabar untuk segera menyaksikannya.

Hari itu, Kamis pukul 13.00 WIB, saya sudah tiba di sebuah studio bioskop yang berada di daerah Cinere, Depok. Karena film tersebut akan diputar pukul 13.30 WIB, saya pun harus menunggu sekitar 30 menit. Agaknya saya harus menekan rasa penasaran ini sedikit lagi. Sambil menunggu, iseng saya memperhatikan keadaan bioskop. Alangkah terkejut saya ketika melihat jadwal penayangan hari itu. Dapat saya katakan, Sang Pencerah berada di tengah padang tandus film Indonesia. Hal ini tidak mengherankan, sebab apa gunanya menonton film misteri di Indonesia ini? Selain mengumbar kemusyrikan tentu yang sebetulnya yang lebih menghawatirkan adalah menonjolnya unsur sensualitas ketimbang nilai-nilai yang semestinya ada dalam setiap film.

Belakangan, perbincangan mengenai film-film Indonesia memang memanas. Protes keras menolak kedatangan bintang film porno Miyabi yang akan berakting dalam sebuah film misteri adalah salah satu contohnya. Selain itu, hal yang paling sering disorot adalah film-film Indonesia miskin nilai. Nilai yang dikedepankan adalah nilai hiburan belaka, sehingga dalam keadaan Indonesia yang menurut Taufiq Ismail akhlaknya telah rubuh, rasanya film semacam itu tidaklah wajar. Ini tentu tidak terlepas dari rumah produksi yang lebih mementingkan nilai komersil dari sebuah film. Sisi-sisi lain, dinomor duakan.

Hal yang terjadi kemudian adalah berbagai polemik pun muncul, mulai dari tuntutan masyarakat menolak penayangan sebuah film maupun tuntutan agar Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) lebih tegas dalam melakukan sensor. Keresahan publik ini memang beralasan dan wajar di alam demokrasi semacam ini. Hasilnya, memang dalam beberapa kasus bahkan film tersebut berhasil untuk tidak ditayangkan. Namun, film-film semacam itu malah tambah menjamur.

Menurut Evi Idawati, upaya menolak penayangan adalah hal yang salah. Sebab hanya menyuburkan film semacam itu. Karena semakin ditentang, masyarakat umum semakin penasaran terhadap film tersebut. Hal yang mesti dilakukan adalah melawan karya dengan karya.[1]

Maka kini, hadirnya Sang Pencerah dapat dikatakan sebagai bentuk perlawanan terhadap film-film yang miskin nilai itu. Sebab, Sang Pencerah sebagai sebuah film menawarkan banyak nilai yang dapat diambil oleh penikmatnya. Hal ini dikarenakan film ini diadaptasi dari kehidupan K. H. Ahmad Dahlan. Sebagai pendiri Muhammadiyah, tentu banyak lelaku yang terpuji yang layak untuk diteladani.

Film Sang Pencerah berusaha menampilkan kisah hidup K. H. Ahmad Dahlan mulai dari kelahirannya sampai pada perjuangannya mendirikan Muhammadiyah. Semua ditampilkan dengan runut yang diikuti dengan beberapa informasi mengenai waktu dan bahkan tokoh-tokoh yang dimaksud memerankan siapa. Hal ini membantu penonton dalam menikmati dan memahami sejarah yang menyertai film tersebut.

Namun, sebagai sebuah film, tentu saja ada beberapa yang tidak sesuai dengan kisah nyata yang barangkali dalam hal ini sutradara ingin menegaskan sikap K. H. Ahmad Dahlan seperti ketika K. H. Ahmad Dahlan masih muda yang mencuri sesaji untuk kemudian dibagikan kepada kaum dhuafa. Selain itu, ada pula penambahan berbagai adegan untuk menimbukan efek dramatis dalam film tersebut agar tidak terlihat monoton, hal ini nampak pada pernikahan K. H. Ahmad Dahlan.[2]

 

Menyimak dan Meneladani Sejarah

Ahmad Dahlan lahir dengan nama Muhammad Darwisy pada tahun 1868 M atau 1285 H di tengah lingkungan pesantren yang sarat dengan nilai religi. Ayahnya K. H. Abu Bakar merupakan Imam Ratib Masjid Besar Kota Yogyakarta, sedangkan ibunya Siti Aminah merupakan anak dari K. H. Ibrahim yang dikenal sebagai penghulu besar di Yogyakarta saat itu. Jika diurut, silsilah Ahmad Dahlan masih merupakan keturunan wali songo yakni, Maulana Malik Ibrahim. Dengan demikian K. H. Ahmad Dahlan memiliki silsilah yang sangat baik.

Dari kisah hidup yang difilmkan, terdapat nilai-nilai yang dapat diambil dari sosok K. H. Ahmad Dahlan ini. Pertama, bahwa K. H. Ahmad Dahlan merupakan manusia amaliah. Maksudnya adalah dengan segala keterbatasan pendidikannya[3], K. H. Ahmad Dahlan mampu mewujudkan impian-impiannya dengan tidak terlalu mementingkan teori. Apa yang disimaknya dari Al-Quran dan As-Sunah kemudian dipraktekan. Seperti pada adegan dalam Sang Pencerah ketika K. H. Ahmad Dahlan di dalam langgarnya mengajarkan surat Al-Maun berkali-kali, hingga akhirnya muridnya bertanya-tanya mengapa tidak segera pindah ke surat berikutnya. Dengan kewibawaan yang dimilikinya, K. H. Ahmad Dahlan menjawab bahwa surat tidak hanya untuk dihafal dan dibaca sebagai bacaan shalat. Yang lebih penting adalah bagaimana pesan yang disampaikan surat itu dipraktekan atau tidak. Akhirnya, murid-murid K. H. Ahmad Dahlan mengerti dan keesokan harinya membawa berbagai macam makanan dan barang yang berguna untuk dibagikan kepada orang-orang yang tidak mampu.

Bahkan dalam kisah yang lain, dituturkan bahwa kondisi Muhammadiyah yang memiliki banyak hutang membuat K. H. Ahmad Dahlan melelang semua barang-barangnya yang kemudian hasilnya digunakan untuk membayar hutang tersebut. Melihat hal tersebut, para dermawan di Muhammadiyah kemudian turut melakukan hal yang serupa dengan menginfakan tanah, bangunan dan lain sebagainya[4]. Inilah hal yang menegaskan bahwa tingkah laku atau praktek lebih baik ketimbang teori belaka dan K. H. Ahmad Dahlan telah membuktikannya. Virus ini yang kemudian ditularkan pula kepada anggota Muhammadiyah yang saat ini memiliki banyak amal usaha di berbagai bidang meliputi pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya.

Kedua, K. H. Ahmad Dahlan merupakan pendidik sejati. Paling tidak hal ini tercermin ketika adegan bagaimana seorang murid di Kweekschool kentut ketika ia sedang mengajar. Bukannya marah, K. H. Ahmad Dahlan malah membalas kembali kentut itu sambil menerangkan betapa besar kekuasaan Allah yang telah memberikan sebuah lubang di dubur sehingga segala penyakit dapat keluar. K. H. Ahmad Dahlan dapat dikatakan sebagai guru yang profesional dengan menjadikan kondisi seburuk apapun sebagai bagian dari pendidikan.

Selain itu, tentu kepedulian K. H. Ahmad Dahlan terhadap pendidikan anak-anak Kauman yang masih terbelakang dengan membuat Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah adalah wujud nyata kepedulian K. H. Ahmad Dahlan terhadap pendidikan di lingkungannya. K. H. Ahmad Dahlan berpikir agar murid-muridnya tak pandai agama saja, sehingga madrasah itu tidak hanya berisi pelajaran agama tetapi juga pelajaran umum yang justru ketika itu dianggap aneh bahkan membuat K. H. Ahmad Dahlan disebut sebagai Kyai Kafir. Hal itu tidak menghalangi langkahnya untuk terus mengajarkan berbagai macam ilmu kepada murid-muridnya, hingga pada akhirnya seorang kyai datang dan berusaha menegur. Tapi dengan arif, K. H. Ahmad Dahlan menjawab dengan sebuah pertanyaan yang mematikan.

Ketiga, K. H. Ahmad Dahlan memupuk kesadaran berorganisasi. Pada tahun 1907 organisasi Budi Utomo dibangun di Yogyakarta. Hadirnya organisasi tersebut menarik perhatian K. H. Ahmad Dahlan. Sehingga dalam beberapa pertemuan, ia turut mengikuti rapat tersebut sampai pada akhirnya K. H. Ahmad Dahlan memutuskan untuk masuk ke dalam organisasi yang dipimpin oleh Dr. Wahidin Sudiro Husodo. Masuknya K. H. Ahmad Dahlan ke dalam Budi Utomo turut memengaruhi pemikiran K. H. Ahmad Dahlan. Bahkan sebetulnya lebih tepatnya keduanya saling memengaruhi. Seperti yang ditulis H. M. Muchlas Abror, bahwa K. H. Ahmad Dahlan masuk Budi Utomo dan Budi Utomo dimasuki K. H. Ahmad Dahlan saling memperoleh manfaat. Lebih dari itu, K. H. Ahmad Dahlan memberikan gizi dan vitamin.[5]

Selain itu, kesadaran ini pula didasari oleh interpretasi K. H. Ahmad Dahlan terhadap pernyataan khalifah keempat, yakni Ali bin Abi Tholib yang mengungkapkan bahwa kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir secara rapi.[6] Dengan spirit yang besar itulah, K. H. Ahmad Dahlan kemudian mendirikan Muhammadiyah.

Keempat, mengembalikan ajaran Islam kepada Al-Quran dan As-Sunah. Pergelutan K. H. Ahmad Dahlan dengan pemikiran para pembaharu Islam, semisal Ibnu Taimiyah dan Muhammad Abduh membuat pemikiran K. H. Ahmad Dahlan semakin kaya.[7] Sehingga wacana tentang keterbelakangan Islam yang tertuang dalam ungkapan Rasyid Ridho bahwa keagungan Islam itu tertutup oleh umatnya didapati pula pada masyarakat Jawa pada umumnya, lebih khusus masyarakat di Kauman. Banyak ibadah yang tidak sesuai dengan perintah Allah beserta Rasul-Nya. Upaya untuk meluruskan kembali ajaran Islam (purifikasi) adalah jalan satu-satunya untuk meluruskan persoalan akidah dan itu pada akhirnya dilakukan oleh K. H. Ahmad Dahlan meski sebetulnya umat yang dihadapinya adalah umat yang bersifat ortodoks (kolot). Hal ini tampak pada adegan ketika K. H. Ahmad Dahlan berusaha meluruskan arah kiblat Masjid Besar Jogjakarta yang malah mendapatkan tentangan dari para ulama.

Bahkan dalam kisah lain, untuk memberantas tahayul yang melanda masyarakatnya, K. H. Ahmad Dahlan mengungkapkan kalimat yang tegas, “ziarah kubur kufur, ziarah kubur musyrik, dan ziarah kubur haram.” Banyak kaum muslim yang saat itu mendengar, menganggap K. H. Ahmad Dahlan telah berubah menjadi wahabi atau bahkan muktazilah. Namun, setelah mendapat penjelasan dari K. H. Ahmad Dahlan pada akhirnya mereka mengerti mengapa K. H. Ahmad Dahlan mengungkapkan hal itu.[8]

Dalam keadaan Indonesia yang menurut Taufiq Ismail akhlaknya telah rubuh, atau sebagian orang menyebutnya sebagai krisis moral. Maka rasanya diangkatnya kembali figur K. H. Ahmad Dahlan dari serabut sejarah menjadi semacam cermin pantul untuk memperbaiki diri. Jika pada awalnya, guru-guru lebih mementingkan gaji ketimbang ketulusan dalam mengajar, maka sikap K. H. Ahmad Dahlan menjadi cambuk yang menyadarkan kita untuk menjadikan profesi guru sebagai ladang amal untuk bekal di akhirat. Demikian pula dengan persoalan akidah, fenomena Ponari, bocah kecil yang konon mampu menyembuhkan segala penyakit adalah bibit kemusyrikan dengan mempercayai hal-hal gaib lebih dari yang disyariatkan. Ini membuktikan, bahwa kedangkalan iman masih merajalela di Indonesia.

Dari Sang Pencerah ini, ada baiknya kita mulai menimbang perilaku kita, sikap kita, untuk kemudian menjadi titik balik sebagai bagian dari perubahan yang progresif. Tentu saja dengan cara menyimak dan meneladani sejarah secara kafah.

Sang Pencerah yang Menjadi Pencerah

Saat ini, remaja seperti kehilangan figur untuk dicontoh. Para pejabat melakukan korupsi, ulama banyak yang menelikungkan ayat Al-Quran, sedangkan guru yang menjadi contoh paling dekat lebih sering mengorbankan pendidikan dari kepentingan pribadinya, demikian juga orang tua yang lebih disibukkan dengan pekerjaan. Kekecewaan-kekecewaan terhadap sosok yang awalnya patut dicontoh itu pada akhirnya membuat remaja kehilangan identitas. Remaja gagal mentransformasi dirinya menjadi manusia yang baik. Sehingga, yang ada hanya pelampiasan atas kegagalan itu dengan cara menikmati obat-obatan terlarang. Padahal pada masa itu, remaja butuh sosok untuk ditiru.[9]

Hadirnya Sang Pencerah di tengah-tengah perfilman Indonesia, memberikan semacam  pencerahan bagi remaja untuk dapat mengidentifikasi dirinya secara maksimal. Sang Pencerah yang merupakan film yang mengangkat biografi K. H. Ahmad Dahlan dapat dijadikan streotipe bagi kehidupan remaja. Seperti yang saya ungkapkan diawal mengutip ungkapan M. Iqbal bahwa hidup seperti juga sebuah puisi dan lukisan, seluruhnya adalah ekspresi. Dan kehidupan K. H. Ahmad Dahlan adalah ekspresi-ekspresi positif sehingga menginspirasi remaja untuk dapat pula mengekspresikan gagasan dan pendapatnya secara positif. Seperti misalnya, ketika masih muda K. H. Ahmad Dahlan sudah belajar banyak kitab untuk menambah wawasannya yang lantas bahkan diumur 20 tahun K. H. Ahmad Dahlan telah berangkat Haji dan menimba ilmu di Mekah.

 

Film Sebagai Suara Dakwah

Dalam sebuah kesempatan, K. H. Ahmad Dahlan pernah menyeru kepada pemuda-pemudi Muhammadiyah, “Muhammadiyah sekarang ini lain dengan Muhammadiyah yang akan datang. Maka teruslah kamu bersekolah, menutut ilmu pengetahuan di mana saja, jadilah guru, kembalilah pada Muhammadiyah. Jadilah dokter, kembalilah kepada Muhammadiyah. Jadilah master, insinyur dan lain-lain dan kembalilah kepada Muhammadiyah.”[10]

Sang Pencerah sebagai sebuah film seperti ingin menjawab “tantangan” yang diberikan oleh K. H. Ahmad Dahlan berabad yang lalu. Kini Sang Pencerah dapat dijadikan sebagai alternatif dakwah. Sebab saat ini, remaja khususnya, mulai malas mengaji. Ilmu agama hanya dipandang sebagai pelengkap pelajaran sehingga yang terjadi adalah minimnya internalisasi nilai-nilai keberagamaan dalam kehidupan bermasyarkat. Sang Pencerah seperti membuka tabir kejumudan mengenai metode dakwah yang cendrung kaku dan membosankan menjadi dinamis dan menarik. Dengan demikian, Sang Pencerah dapat dikatakan sebagai manifestasi dari impian-impian Dahlan yang mengidamkan kader Muhammadiyah untuk terus belajar dan selanjutnya kembali pada Muhammadiyah.

Dari sini, dapat dikatakan bahwa K. H. Ahmad Dahlan adalah kyai yang modern dan progresif. Pemikirannya jauh melintasi zaman di mana ia hidup. Konsepnya mengenai pendidikan dan pemberdayaan umat masih sesuai dengan kehidupan saat ini. Dahlan bahkan masih hidup saat ini, bukan tentang jisimnya, tetapi tentang pemikiran-pemikirannya.

DAFTAR PUSTAKA

Abror, M. Muchlas. 2010. Muhammadiyah, Persamaan dan Kebersamaan. Jogjakarta: Suara Muhammadiyah

 

Asrofie, M. Yusron. 1983. Kyai Haji Ahmad Dahlan Pemikiran dan Kepemimpinannya. Jogjakarta: Yogyakarta Offset

 

Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Penerbit Erlangga

 

Salam, Junus. 2009. K. H. Ahmad Dahlan Amal dan Perjuangannya. Tanggerang: Al-Wasat Publishing House

 

Syuja. 2009. Islam Berkemajuan. Tanggerang: Al-Wasat Publishing House


[1] Dalam acara seminar Puisi Menolak Lupa yang diselengarakan di Purwokerto pada 9 Maret 2010

 

[2] Dalam film Sang Pencerah, K. H. Ahmad Dahlan menikah dengan Siti Walidah setelah pulang dari haji, akan tetapi dalam literatur karangan Kyai Syuja disebutkan bahwa Ahmad Dahlan menikah dengan Siti Walidah sebelum berangkat haji, tepatnya beberapa bulan sebelum keberangkatannya pada tahun 1889. Syuja. Islam Berkemajuan (Jakarta:Alwasath Publishing). Hlm. 23

 

[3] K. H. Ahmad Dahlan hanya jika dibandingkan pembaharu Islam yang lain, maka tampak bahwa beliaulah yang paling minim pendidikannya. Sehingga dari itu, K. H. Ahmad Dahlan tidak pernah menghasilkan suatu karangan apapun. Junus Salam, K. H. Ahmad Dahlan Amal dan Perjuangannya (Tanggerang: 2009) hlm. 89.

 

[4] Op. Cit. hlm. 167-163

[5] Maksudnya adalah K. H. Ahmad Dahlan memberikan warna baru bagi Budi Utomo, yakni dengan memberikan pengetahuan agama di antara para anggota Budi Utomo selepas rapat dalam H. M. Muchlas Abror, Muhammadiyah, Persamaan dan Kebersamaan (Jogjakarta: 2010). Hlm. 119

 

[6] Dalam bahasa arab, al-haqqi bila nidzham yaghlibuhul baatilu bin nidzham. Ibid. Hlm. 136

 

[7] Yusron Asrofie. Ahmad Dahlan Pemikiran dan Kepemimpinannya (Yogyakarta: 2010) Hlm. 43

[8] Op. Cit. Hal. 86

[9] Elizabeth B. Hurlock. Psikologi Perkembangan (Jakarta: 1980) Hlm. 208

[10] Loc. Cit. Hlm. 135

Iklan

1 thought on “SANG PENCERAH: IMPIAN-IMPIAN AHMAD DAHLAN”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s