Catatan, Esai

SISTEM TARBIYATUL MUALLIMIN AL-ISLAMIYAH SEBAGAI ALTERNATIF SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL

Pendahuluan

Pesantren adalah model pendidikan tradisional yang berasal dari akulturasi budaya antara Hindu dengan Islam. Hal ini terbukti lewat asal kata pesantren yang kata dasarnya merupakan santri. Menurut Prof. Brown bahwa istilah santri ini berasal dari bahasa Tamil, yang berarti guru mengaji, sedangkan menurut C. C. Berg berpendapat bahwa istilah tersebut berasal dari istilah shastri yang dalam bahasa India bararti orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu, atau seseorang sarjana ahli ktiab suci agama Hindu. Kata shastri berasal dari kata shastra yang berarti buku-buku suci, buku-buku agama atau buku buku tentang ilmu pengetahuan.[1]

Namun dalam konteks santri (baca: pesantren) kekinian adalah tempat pengajian ilmu agama Islam. Hal inilah yang diungkapkan oleh M. Dawam Raharjo yang menyatakan bahwa pesantren tak lain adalah sebuah lembaga keagamaan yang mengajarkan, mengembangkan dan menyebarkan ilmu agama Islam.[2]

Pesantren seringkali diidentikan dengan kitab kuning, huruf gundul, manusia bersarung, ketinggalan zaman dan lain sebagainya. Namun, belakangan pesantren telah bertransformasi menjadi bentuk dari pembaharuan pendidikan yang dianggap penting dalam menyumbangkan SDM unggul. Pesantren ini biasa disebut dengan pesantren modern, yang mencetuskan pertama kali adalah pondok pesantren modern Darus Salam Gontor, Ponorogo dengan sistem yang disebut dengan Kuliyatul Muallimin Al-Islamiyah, disingkat menjadi KMI. Senada dengan pesantren tersebut, di Madura terdapat pondok pesantren Al-Amien Prenduan dengan konsep Tarbiyatul Muallimin Al-Islamiyah (TMI)  yang sebetulnya tidak jauh berbeda dari KMI.

Dalam makalah singkat ini, penulis hanya akan membahas mengenai pondok pesantren TMI Al-Amien Prenduan dengan tinjauan secara empiris. Hal ini semata-mata dilakukan sebab penulis berasal dari pesantren ini.

Pengakuan Dalam dan Luar Negeri

Semula pola pendidikan berbentuk TMI ini ijazahnya hanya diakui oleh luar negeri, terbukti dengan keluarnya SK No. 58/402 tertanggal 17/8/1402 (1982) dari al-Jamiah al-Islamiyah Madinah al-Munawwarah, SK. No. 42 tertanggal 1/5/1402 (1982) dari Al-Jamiah Malik Abdil Aziz (Jamiah Ummul Qura) Makkah al-Mukarramah, SK No. 42 tertanggal 25/3/1997 dari Al-Jamiah Al-Azhar Cairo dan lain sebagainya.[3]

Jauh setelah itu, tepatnya pada tahun 2000 barulah pengakuan dalam negeri dengan menyatakan lulusan dari TMI Al-Amien Prenduan sederajat dengan tamatan Sekolah Menengah Umum (SMU) lewat SK No. 106/0/2000, kemudian disamakan dengan Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah dari Dirjen Lembaga Islam No. E. IV / PP. / KEP / 80 / 98.[4]

Dengan diakuinya pola pendidikan TMI ini, maka lulusan TMI dapat melanjutkan ke berbagai perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta seperti UI Depok, ITB, UNPAD, UIN Syarif Hidayatullah, UHAMKA dan lain sebagainya. Pengakuan ini juga merupakan bukti bahwa, pola pendidikan pesantren dapat bersaing dengan sekolah pada umumnya.

Membangun Karakter Diri

Secara umum pola pendidikan TMI menyangkut tiga aspek yakni Muamalah Maalllah (hubungan manusia dengan Tuhannya), Muamalah Maannas (hubungan manusia dengan manusia), serta Muamalah Maalbiah (hubungan manusia dengan lingkungan).

Dalam rangka mendekatkan santri-santri kepada Tuhannya, ada serangkaian kegiatan yang dipupuk sedemikian rupa meliputi teori dan praktik secara simultan dan kontinu. Seperti pengajian kitab-kitab kuning, mempelajari tafsir, hadis, dan lain sebagainya. Shalat dan mengaji Al-Quran diatur sedemikian rupa agar setiap santri mampu untuk beribadah secara kafah. Seperti misalnya shalat berjamaah, dibangunkan pukul 03.00 WIB untuk shalat tahajjud serta melakukan tajdidul shalat (perbaikan shalat) menyangkut pelafalan bacaan shalat secarah fasih dan gerakan shalat yang telah diisyaratkan oleh Rasul.

Untuk menajamkan rasa nilai-nilai sosial antar sesama, maka pesantren punya ruang banyak untuk melakukan itu, dengan waktu 24 jam penuh, maka pembentukan karakter siswa yang arif dan bertanggung jawab sangat mungkin untuk dilakukan. Dan itu terbukti, pola pengajaran tutor sebaya berjalan dengan baik, siswa dilatih untuk siap memimpin dan dipimpin. Setiap santri kelas V dan VI setara kelas XI dan XII SMA menjadi pengurus pondok secara keseluruhan. Bagian-bagian itu meliputi kegiatan berbahasa (bahasa arab dan inggris), peribadatan (menyangkut mengatur seluruh santri untuk shalat berjamaah), keilmuan (menyangkut latihan pidato dengan tiga bahasa meliputi bahasa Indonesia, Arab dan Inggris) dan bagian-bagian lainnya. Sedangkan santri-santri di bawah itu tetap memiliki tanggung jawab, barangkali ia menjadi ketua kelas, kamar, kelompok belajar, kelompok kesenian, kelompok keterampilan, kelompok olahraga, kelompok bela diri dan kelompok-kelompok lainya. Di dalam pondok bisa terdapat lebih dari seratus kepemimpinan yang berlangsung dan itu dilakukan dengan baik sesuai dengan porsi kepimpinannya.

Selanjutnya, berhubungan dengan lingkungan. Hal yang dilakukan adalah setiap santri bertanggung jawab atas lingkungannya masing-masing. Ada banyak piket yang dibentuk untuk menangani masalah sampah atau perawatan lingkungan yang nyaman dan asri seperti misalnya piket kamar, piket kelas, piket rayon dan lain sebagainya. Sehingga, meski tanpa tukang kebersihan,  pondok akan bersih. Kegiatan bersih-bersih tidak hanya berlangsung secara periodik semacam itu, tetapi juga terkadang insidental dengan pola pembersihan yang lebih masif dari biasanya, meliputi kuras kamar mandi, mencabut rumput dan lain sebagainya. Selain kegiatan pembersihan itu, setiap orang diwajibkan untuk membuang sampah pada tempatnya. Sehingga, jarang sekali sampah yang berasal dari manusia. Sebab, jika membuang sampah sembarangan akan ada orang yang mencatatnya untuk kemudian dihukum.

Tiga pilar pendidikan tadi, tidak lain adalah upaya untuk membangung karater diri (self building) sehingga ketika terjun ke masyarakat, santri akan siap untuk dapat melakukan tugas-tugasnya secara maksimal dan bertanggung jawab dan inilah merupakan bentuk santri yang diidam-idamkan pondok pesantren Al-Amien Prenduan, membentuk Mundzirul Qoum.

Penghargaan dan Hukuman

Negara akan menjadi adil dan tentram apabila ada hukum yang jelas. Paling tidak itulah yang disadari oleh pondok pesantren modern pada umumnya. Adapun pola pembinaan semacam ini memang lazim pula untuk membentuk karakter siswa yang bartanggung jawab atas segala perbuatannya. Tentu saja semua harus ada aturannya, hukum tidak akan diberikan pada mereka yang tidak bersalah. Dengan demikian, rasa keadilan akan terbangun dan membuat nyaman seluruh santrinya. Untuk membangun keadilan yang baik dengan lingkup pesantren yang luas dan santri yang bahkan sampai ribuan TMI punya cara khusus yang efektif dan efisiean, yakni metode jasus (mata-mata), setiap orang yang melanggar akan mendapatkan kartu jasus untuk kemudian mencatat pelanggaran santri lainnya. Sehingga setiap orang selalu waspada, mereka akan tetap menggunakan bahasa resmi pesantren yakni Arab dan Inggris (bergantung harinya) di manapun mereka berada.

Sebaliknya, mereka yang berprestasi akan mendapatkan tempat yang berbeda dari santri lainnya. Mereka akan mendapatkan beasiswa berupa potongan pembayaran uang sekolah, selain itu tentu mereka akan mendapat sanjungan dari asatidz (para guru) dan santri lain pada umumnya. Bahkan di TMI Al-Amien Prenduan ada sebuah acara khusus untuk memberikan penghargaan kepada santri teladan yang disebut dengan TMI Award. Dengan adanya penghargaan semacam itu, timbullah kemudian kompetisi yang positif untuk berjuang dalam kebaikan (fastabiqul khoirot) antar sesama santri.

Tiga Pilar Pendidikan

Untuk membangun bentuk pendidikan yang solid, TMI Al-Amien memiliki tiga pilar dasar dalam menjalankan proses belajar-mengajarnya yang berjalan selama 24 jam itu. Tiga pilar itu adalah iman sempurna, ilmu luas dan amal sejati.

Iman sempurna adalah manifestasi dari hubungan yang erat antara kehidupan dan kekuasan yang dimiliki Allah, sehingga segala sesuatu yang terjadi diyakini adalah kehendak Allah, baik itu berupa pencapaian positif maupun negatif. Dengan demikian, orientasi pendidikan lebih diutamakan adalah penjelmaan dari ibadah. Ini dilandasi oleh hadis nabi yang menyatakan orang yang menuntut ilmu adalah syahid jika kemudian meninggal dunia.

Pilar yang kedua adalah berilmu luas. Dengan spriti ini, semua ilmu tidak hanya terbatas pada pelajaran agama diberikan kepada pondok. Ilmu-ilmu sains, berupa fisika, biologi, kimia, geografi dipelajari dengan internalisasi nilai-nilai Islam yang sebetulnya telah menjabarkan berbagai hal mengenai ilmu-ilmu tersebut. Santri pun diberikan keleluasan untuk mendalami berbagai ilmu dengan fasilitas berupa laboratorium yang telah tersedia lengkap dengan peralatannya. Selain itu, bahasa sumber ilmu pengetahuan pun dipelajari dengan lebih mendalam dan praktis (Bahasa Arab dan Inggris yang kemudian dijadikan sebagai alat komunikasi mutlak).

Pilar ketiga adalah beramal sejati. Tafsiran dari kata beramal sejati ini adalah segala hal yang dilakukan baik santri, muallim (baca: pengurus), dan ustadz dilandaskan pada amal. Sehingga segala sesuatunya dijalani dan diterima dengan ikhlas. Sehingga yang mentransformsikan ilmu dan yang ditransformasikan sama-sama samina wa atana (menerima dan memberi secara ikhlas). Maka tidak heran,  jika kemudian asatidz (tenaga pengajar) tidak dibayar dengan uang, melainkan hanya makan dan diberikan peralatan mandi. Dengan pola seperti ini, maka penghematan dalam pengeluaran dapat dilakukan dengan maksimal yang kemudian berimbas dari minimnya biaya yang dikeluarkan oleh santri.


Menanam Keterampilan Hidup (Life Skill)

Keterampilan hidup atau sering disebut life skill ditanamkan sejak awal santri masuk. Untuk mempertajam life skill ini, TMI Al-Amien Prenduan memiliki cara  dengan membentuk sejumlah kelompok kesenian, bela diri, olah raga, drum band, jamiah qori, dan lain sebagainya. Kelompok-kelompok ini dengan sendirinya akan mencari kader dengan promosi ke seluruh santri baru. Santri baru pun diberikan arahan agar tidak salah dalam memilih keterampilan apa yang diasah. Tidak jarang, santri enggan karena padatnya jadwal di pondok. Tetapi, mencari life skill adalah suatu yang labud (wajib). Untuk mereka yang enggan masuk kelompok keterampilan yang telah ada, maka diberikan jadwal yang permanen dan diberikan ruang-ruang keterampilan dengan pilihan yang variatif sehingga santri tidak bosan dan jenuh.

Dari pengasahan keterampilan ini, santri kedepannya siap terjun di masyarakat dengan kemampuan yang dimilikinya. Selain itu, dari pengasahan life skill secara kontinu tidak jarang mambawa santri meraih berbagai prestasi baik lokal, nasional, dan bahkan internasional. Selain itu, dari hasil ini juga didapatkan para alumni yang lebih mapan dalam menentukan pilihan khususnya dalam menentukan karir.

Penutup

Pola pendidikan semacam TMI dan KMI ada baiknya untuk dipertimbangkan sebagai metode pengajaran dalam lingkup nasional. Karena dengan merosotnya nilai moral di Indonesia dengan berbagai kebobrokan yang saat ini terjadi, mulai dari korupsi, pemerkosaan, pembunuhan dan lain sebagainya membuktikan bahwa kurikulum yang digunakan saat ini jauh dari efektif.

TMI dengan konsep yang mengajarkan santri dari segala sisi, baik keagamaan, kemanusiaan, dan lingkungan adalah solusi yang tepat. Dengan bentuk santri yang memiliki self building yang kuat, berbagai keruntuhan moral yang saat ini dialami oleh Indonesia dapat dituntaskan dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Arsa, M. Hamzah. 2004.  Pertanyaan Itu Sudah Terjawab. Sumenep: Wasilah

M. Dawam Raharjo dkk. 1998. Pesantren dan Pembaharuan. Jakarta: LP3S

Zamarkhsyari Dhofier. 1985. Pesantren dan Perkembangannya. Jakarta: LP3S


[1] Zamarkhsyari Dhofier. Pesantren dan Perkembangannya (Jakarta: 1985)

[2] M. Dawam Raharjo dkk. Pesantren dan Pembaharuan (Jakarta: 1998)

[3] Hamzah, Arsa. Pertanyaan Itu Sudah Terjawab (Sumenep, 2005) hal. 76

[4] Ibid. Hal. 75

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s