Catatan, Esai

Budaya Indonesia dan Fungky-Fungky-an Remaja

Budaya di Indonesia kini mulai mencapai keterpurukan yang amat mendalam. Selain karena faktor pewaris budaya itu sendiri telah banyak meninggal dunia, juga karena para pemuda –ahli waris dalam hal ini-, sudah tak lagi memperdulikan budayanya sendiri, terbukti dari saking banyaknya para remaja  yang ke mana-mana memakai pakaian setelan mini, dan tidak jarang dari mereka yang juga mengecat rambutnya dengan berbagai warna dan fariasi. Jika kamu termasuk orang yang saya contohkan tadi, segeralah berubah (tobat men!).

Sebenarnya faktor ini tidak lepas dari tanggung jawab kita bersama, kenapa remaja membenci budaya? Kenapa mereka lebih menyukai budaya barat dan tidak pada budayanya sendiri? Kenapa bisa begitu?

Pertanyaan-pertanyaan di atas dapat dengan mudah kita jawab andaikata dalam jiwa kita terkembang rasa memiliki. Ini perlu! Kenapa? Karena bila pada diri kita sudah tertanam rasa memiliki niscaya yang namanya snobis DTT (dan teman-temannya) tak akan lahir di bumi kita ini. Sebab bukankah budaya kita tidak mengajarkan hal itu semua?

Selain faktor tersebut tentu faktor lingkungan pula yang sangat mempengaruhi kita. Lingkungan di mana kita bergaul, berhambur, membaur, dan bersosialisasi, lingkungan tempat kita, tempat kita menghilangkan segala kepenatan yang ada.

Jika lingkungan rumah kita sudah mempertahankan budaya, seperti pada kerajaan di Jogjakarta yang masih mempertahankan budaya kerajaannya mulai dari memandikan keris hingga membagikan nasi tumpeng. Mungkin dengan usaha tersebut budaya barat akan hilang dari tanah air kita ini.

 

Mengkomersialkan Budaya

Inilah keuntungan bangsa Indonesia, sebagai bangsa yang mempunyai berbagai macam suku dan adat, tentu dari kedua hal tersebut akan timbul beribu-ribu budaya Indonesia yang juga ditopang oleh keadaan alam yang cukup menguntungkan dapat membantu terlahirnya budaya yang agamis dan mempunyai nilai seni yang begitu tinggi. Seharusnya kita bersyukur atas hal ini, bukan malah mencapakan budaya begitu saja.

Di Bali acara Ngaben dikemas sebegitu rupa, acara prosesi pembakaran mayat itu dapat menarik para wisatawan luar negri. Bagaimana? Besar bukan budaya kita? Lewat hal itu Bali jadi terkenal selain pada budaya lain yang juga menyokong terbentuknya suasana yang sakral untuk membudidayakan budaya. Di samping itu ada kesingkronisasian antara orang yang satu dan yang lain dan itu cukup membantu dalam pembangunan budaya di sana.

Kerajinan tangan Bali sudah mampu menembus pasar internasional, seperti ukiran dari batu yang membentuk seperti manusia atau hewan, hal itu dapat memaslahatkan kehidupan rakyat Bali.

Begitu beruntung bukan mempunyai budaya dan memanfaatkannya semaksimal mungkin? Mungkin hal ini juga bisa terjadi pada budaya lain, adat lain, dan daerah lain di negri ini.

 

Memvisualisasikan Tempoe Doelue

Memvisualisasikan (menggambarkan) tempoe doelue. Ini juga perlu dalam pembangunan budaya dan memperkenalkannya pada mancanegara. Hal ini perlu diaplikasikan dalam bentuk materil oleh setiap orang sesuai dengan suku dan adatnya masing-masing. Selain untuk menarik perhatian wisatawan luar negri juga berfungsi sebagai penumbuh semangat untuk mencintai budaya sendiri -khususnya para remaja.

Saya pikir pada bidang ini cukup banyak yang berusaha mempertahankannya, seperti dibukanya sanggar-sanggar tari yang mengajarkan tari tradisional. Sayang dan amat disayang sanggar-sanggar seperti itu raasnya kurang terlalu diminati oleh kebanyakan remaja entah karena apa? Apa karena gengsi atau kurang mengikuti mode?

Setidaknya dua faktor di atas akan sangat berguna dan bermanfaat jika kita menggunakan cara kedua itu semaksimal mungkin dan tentu akn menambah kas negara dan terbentuknya raung kerja yang lebih banyak. Maka dari itu mari kita membudidayakan budaya. Salam budaya, salam hutan rimba, eh sorry bukan ya…

Iklan

1 thought on “Budaya Indonesia dan Fungky-Fungky-an Remaja”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s