Catatan, Esai

KEMISKINAN, HAK ASASI MANUSIA DAN KITA

Berbicara tentang kemiskinan merupakan suatu pembicaraan yang tidak memiliki titik temu. Di mana selalu saja diakhir pembicaraan kita terbentur pada kebuntuan untuk mencari solusi dari masalah kemiskinan tersebut. Uang yang dibagikan, atau dana-dana untuk membantu rakyat miskin –yang kemungkinan besar telah dikorupsi itu. Hanya menyelesaikan masalah sejenak saja. Setidaknya untuk perut atau kesehatan yang terjamin dengan kartu Askes. Lantas jalan untuk mengangkat mereka dari jurang kemiskinan yang sudah terlampau berlumut itu bagaimana? Sedang tali-tali yang diulurkan bukanlah tali-tali yang kuat untuk mengangkat mereka. Seutas tari rapia atau seutas benang jarum?

Untuk lebih dalam tentang kemiskinan di Indonesia, ada baiknya kita membuka wancana tentang arti kemiskinan itu sendiri. Khususnya dalam koridor masyarakat kita yang majmuk dengan permasalahannya yang kompleks ini.

Saat ini kita bisa membagi golongan miskin itu menjadi dua karakter. Karakter kurang mampu dan karakter tidak mampu. Karakter kurang mampu adalah mereka yang miskin, namun masih memiliki potensi yang besar untuk mengubah hidupnya lebih baik kedepannya. Karakter tidak mampu berarti mereka yang miskin, namun mereka tidak memiliki potensi ataupun kalaupun ada sangat sedikit untuk merubah kehidupannya lebih baik. Mereka yang tidak mampu inilah yang secara nyata begitu nampak di mata kita. Dari sikap dan tingkah laku serta penampilannya. Siapapun akan berkata ini miskin! Lain halnya mereka yang miskin dalam koridor kurang mampu. Secara nyata ia mampu, setidaknya dengan sandang yang dipakainya, papan yang ditinggalinya, namun tidak untuk pangan. Pada umumnya, miskin kurang mampu ini timbul akibat musibah bencana alam, penyakit, kecelakaan dan lain sebagainya yang lebih diakibatkan oleh faktor eksternal yang tidak diduga. Selain itu, miskin kurang mampu ini sebetulnya lebih pada kebutuhan manusia (human needs) saja.

Ada beberapa faktor timbulnya kemiskinan, dari faktor ini kita dapat membagi kemiskinan ini menjadi dua. Kemiskinan situasional dan kemiskinan struktural. Kemiskinan situasional lebih diakibatkan karena adanya musibah, atau suatu hal yang tidak diinginkan. Misalnya saja PHK pada sebuah kantor, sakit yang diderita yang membutuhkan biaya yang besar jumlahnya, bencana alam yang menimpa, seperti yang belum lama kita alami, tsunami, gempa, lonsor, angin puting beliung, banjir dan lain sebagainya. Hal-hal seperti ini, akan melahirkan kemiskinan dengan karakter yang variatif.

Kemudian, kemiskinan struktural. Saya lebih mengartikan kemiskinan struktural ini sebagai kemiskinan yang turun temurun. Anak yang lahir dari keluarga miskin, lebih lagi pada karakter tidak mampu akan ‘mewarisi’ kemiskinan kedua orang tuanya. Minimnya pendidikan akan mengakibatkan dirinya sulit bersaing dengan mereka yang kurang mampu apalagi yang mampu. Mereka yang tidak mampu mayoritas memiliki izasah SD dan SMP atau bahkan tidak sama sekali. Untuk level ini kerja yang paling cocok di Jakarta adalah sebagai cleaning service atau tukang sapu, tukang lap dan lain sebagainya. Tentu saja honor kerja ini tak seberapa, paling-paling hanya mengangkat dirinya ke karater miskin yang kurang mampu. Ingin jabatan lebih tinggi untuk mendapatkan gaji yang tinggi? Tentulah kemampuan dirinya dipertanyakan. Tidak lucu bukan seorang pedangang asongan mengatur sirkulasi keuangan kantor yang bernilai milyaran perhari. Ini tentu bukan cara terbaik untuk mengubah nasibnya.

Lantas miskin apa yang kita tolong? Tali apa yang akan kita berikan untuk mengangkat mereka dari jurang kemiskinan?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s