Puisi

vakansi 1

1

Apa yang kau asah di hatimu

gelisahkah atau sunyi

yang kau tikam berkali-kali

pada rahim purnama

Bila memang gelisah

aku ingin menjadi kumbang pertama

yang menjilatinya

sebagaimana ibu menyapu

ruang-ruang kotor di hatiku

membakar masa silamku

dengan kata-kata yang lebih puisi

dari seruling burung pipit

di pucuk melati

2

Dan kini kugaduhkan sunyimu

lewat jalan-jalan Jakarta

yang memekakan telinga

dan lampu merah yang menguning

dan menghijau

seperti matamu

yang melulu meramu rindu

dari balik spion motorku

Kau hanya memelukku

seperti menanam sesuatu

dan aku mulai tak berdaya

menjadi ladang subur

yang ditumbuhi cinta

Sunyimu melumer

gelisahmu meretak

3

Di pantai ancol ini

kau menjadi kanak-kanak lagi

mengukir jejak kakimu

pada bibir pasir putih

Aku memandangimu

seperti mata langit

merah tembaga

menggigit waktu

di tubuhmu

Sedang sunyi dan gelisahmu

koyak moyak, meruntuh

di atas pasir yang menyimpan jejakmu

wismasastra, 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s