Catatan

UJIAN

Setiap kali saya ujian di kampus, entah mengapa saya selalu terbayang pesantren saya dulu. Hal yang saya sadari bahwa ujian adalah hal yang sangat sakral di pesantren saya. Bayangkan untuk ujian kenaikan kelas saja ada sampai lima pengawas yang berputar-putar dalam kelas dengan mata mendilik semua gerak-gerik yang dianggap mencurigakan. Setiap kali satu alat tulis jatuh, suaranya menggema ke seluruh ruangan dan mata-mata itu akan menuju pulpen jatuh itu. Tak ada yang dapat berbicara meminta jawaban atau bahkan berbisik. Bila memang melakukan, alamat ia dalam tanduk kegagalan. Sudah pernah dibuktikan temanku, nilainya tak dianggap dan rambut di kepalanya harus rontok seperti daun-daun yang berguguran di musim kemarau. Ketika ujian, tak ada pilihan lain selain menajamkan otak, meminum berbagai macam vitamin dan susu putih, bangun tengah malam, membawa buku sampai ke kamar mandi dan dapur, dan kalau perlu menabrak tiang listrik karena mata terus memelototi buku ketika berjalan.

Seluruh santri di pesantren saya itu seperti tiba-tiba tersihir oleh kekuatan magis dan bahkan nyaris terlihat gila karena belajar. Pohon-pohon rindang tiba-tiba dipenuhi oleh santri yang menghafal atau berdiskusi tentang pelajaran, masjid menggema suara-suara ayat-ayat al-Quran atau hadis yang berusaha disimpan di kepala oleh seluruh santri. Ketika berkali-kali saya gagal menghafal saya sering frustasi tetapi ketika melihat teman saya masih terus meneriakkan sebaris hadis yang itu-itu juga saya menjadi semangat lagi. Paling tidak saya harus berada di depan dia.

Saya tak heran jika dalam kegagalan saya, saya melihat angka 3 dalam laporan hasil belajar saya. Itu sudah biasa, bahkan saya pernah mendapat angka 2. Paling tidak, saya merasa bangga dengan nilai-nilai itu, saya melakukan dengan kepala sendiri dan saya sudah berusaha semaksimal mungkin dengan melakukan hal-hal gila yang paling ekstreem dalam belajar. Bila memang hasilnya demikian, itulah titik kepuasan saya karena saya toh pada pelajaran lain saya mendapat angka 8 atau bahkan 9.

Saya pernah menghafal sebaris ayat al-Quran yang bunyinya mewajibkan setiap muslim perempuan dan laki-laki untuk menuntut ilmu, menghafal pula bahwa orang yang belajar jika meninggal maka ia akan dianggap mati syahid sampai ia pulang kembali ke rumahnya. Pada akhirnya, hal itu mendarah daging dalam tubuh saya. Saya juga percaya dengan pepatah Arab yang menyatakan bahwa sekeras kau berusaha maka kau akan mendapatkan apa yang kau impikan!

Meski sebetulnya, dalam perkulihan hal ini menjadi tidak adil, banyak teman-teman yang mencontek, tetapi saya tetap teguh pada pendirian saya karena pada akhirnya saya yakin akan mendapatkan manfaat dan berkah yang lebih besar dengan cara belajar yang baik. Saya juga mulai tak peduli pada nilai, karena saya tak yakin dengan dosen-dosen saat ini yang kadang tidak memiliki penilaian yang absolut sehingga hanya berbentuk interpretasi yang sangat rentan jika dosen tersebut tak mengenal mahasiswa yang bersangkutan atau bahkan tidak menyukainya. Belum lagi masalah kesekretariatan yang sering gagal dan mengecewakan. Nilai bagi saya menjadi tidak penting. Tetapi saya tetap menghargai ujian sebagai bentuk evaluasi diri saya, sejauh mana saya mendapatkan apa yang dikirimkan dosen-dosen itu ke dalam kepala saya. Semoga semuanya menjadi berkah, dan segala kezaliman yang terjadi diberikan petunjuk oleh Allah. Amin…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s