Atap Sastra, Catatan, Esai

EKSISTENSI CERPEN YANG PERLU DIPERTANYAKAN

Sejak saya bergulat dengan dunia penulisan sekitar empat tahun yang lalu, saya hanya menulis sebagaimana saya tulis karya-karya saya. Namun beberapa tahun terakhir ini saya mulai berpikir tentang bagus tidaknya sebuah cerpen. Pernahkan Anda bertanya demikian? Bagaimanakah sebuah cerpen disebut baik dan bagus?

Meskipun, saya sudah banyak membaca teori lewat buku-buku yang ada dan mendengarkan banyak penjelasan yang ada lewat diskusi dan seminar yang diisi oleh penulis-penulis ternama. Saya masih tak mengerti, jelasnya tak pasti bagaimanakah sebuah cerpen itu dikatakan baik dan bagus!

Ketika suatu waktu, cerpen saya dibaca oleh saya, menurut saya itu adalah cerpen yang baik dan bagus, demikian pula kata teman-teman saya. Namun ketika cerpen saya, saya berikan ke penulis senior saya. Selalu saja ada cela, plotnya kurang, diskripsinya, konfliknya, penokohannya dan lainnya. Seakan memberi tanda tanya di hati saya.

Sejak tahun 2006-2007, berapa kali saya diundang sebagai pembicara dalam pelatihan cerpen, puisi, esai dan artikel ilmiyah. Sejak tahun itu pula, tak sedikit karya-karya disodorkan kepada saya untuk dikoreksi. Sebagai pengoreksi sayapun selalu menemukan cela, dan ternyata saya memang sengaja mencari sedetil mungkin kesalahan. Karena tentu, sebagai pengoreksi, sudah menjadi ‘kewajiban’ bagi pengoreksi untuk menemukan kesalahan. Sebagaimana juga kritikus menemukan apa yang harus ia kritik. Sebagaimana redaktur majalah harus menemukan kelemahan setiap karya yang masuk ke redaksinya.

Semula saya berpikir, karena satu tuntutan tersebut, akhirnya obyektivitas dalam menilai cerpen menjadi mandul. Dalam artian, tidak adanya timbangan yang tepat untuk mengukur cerpen itu baik atau tidak. Selain karena hal-hal di atas, bisa saja faktor senioritas, misalnya dalam sebuah lomba ada juri yang memang sudah kesohor namanya, menyatakan cerpen A bagus, maka secara tidak langsung juri yang lain hanya menganggukan kepala. Padahal, di lubuk hati juri yang lain ada karya lain yang lebih baik. Kalau seperti ini, obyektivitas dalam penilaian cerpen bisa dipastikan mandul.

Lantas, bagaimana menilai cerpen baik atau tidak? ketika ada stigma menyatakan, baik tidaknya suatu karya tergantung pada pembacanya. Benarkah ini? Ketika pembaca menjadi tolak ukur, sedang pembaca mempunyai selera yang berbeda-beda. Lihat saja, mana yang lebih banyak membaca majalah ANNIDA atau HORISON? Secara kuantitas tentu saja Annida yang lebih unggul. Sedang kita tahu, tonggak sastra Indonesia adalah majalah Horison. Ada suatu kontradiksi penilaian tentang bagus tidaknya suatu karya, khususnya cerpen.

Masih berbicara tentang penilaian, kita tentu masih ingat tentang sastra pop dan lain sebagainya. Saya pikir, saat ini sastra kita terkotak-kotakan, sehingga penilaianpun menjadi terkotak-kotakan, penulis juga terkotak-kotakan. Semua ini, sebenarnya adalah persoalan idealisme memandang estetika. Namun, semuanya menjadi buram ketika beberapa penulis yang dianggap ‘cermin’ masuk ke banyak kotak. Kita jadi bertambah bingung untuk menjadikan sample menulis kita, membuat kita menebak-nebak, inikah yang bagus?

Saat ini banyak lomba cerpen, selain itu antologi bersama yang tentu mengesankan seleksi yang luar biasa. Kalau kita termasuk pemenangnya, termasuk dalam antologinya. Pertanyakanlah baik atau tidaknya karya kita? Karena siapa tahu itu adalah selera salah satu juri atau editor.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s