Catatan

Analisis Hikayat Kalilah dan Dimnah

A. Pendahuluan
Hikayat Kalilah dan Dimnah merupakan cerita karangan Abdullah Ibnu Muqaffa yang kemudian diterjemahkan oleh Ismail Jamil. Dari keterangan ini, hikayat ini berasal dari luar ranah melayu.
Secara umum, Hikayat Kalilah dan Dimnah hampir mirip dengan fabel. Yakni cerita tentang hewan-hewan yang memiliki sifat layaknya manusia, karena memang tokoh Kalilah dan Dimnah dalam cerita ini adalah hewan, yakni srigala.
Banyak nilai yang termuat dari Hikayat Kalilah dan Dimnah yang secara tidak langsung menyindir prilaku manusia. Seperti ketamakan, licik, dan menghalalkan segala cara. Hal ini terlihat pada tokoh Dimnah yang dengan liciknya rela mengadu domba sehinga saling bunuh-membunuh padahal keduanya (raja hutan dan Syatrabah) sangat baik.
Maka sangat menarik sekali membaca dan mendiskusikan cerita ini. Lewat makalah singkat ini, kami akan membahas Hikayat Kalilah dan Dimnah dari berbagai aspek.

B. Sinopsis
Dalam hikayat ini, terdapat sejumlah cerita dalam cerita. Awal cerita ini dibuka ketika seorang Baidaba yang menceritakan kepada Maharaja Dabasyalim. Dalam pembukaan cerita itu, Baidaba menceritakan tentang orang tua yang mempunyai dua anak yang senang berfoya-foya. Tetapi kemudian sadar setelah menasehati keduanya. Setelah itu, salah seorang dari mereka ada yang hendak berniaga dengan membawa dua lembu yang kemudian diberi nama Bandabah dan Syatrabah. Dalam perjalan, Syatrabah terjebak ke dalam lumpur, karena tidak dapat keluar akhirnya ditinggalkan Syatrabah karena diperkirakan akan mati di tempat itu.
Namun akhirnya Syatrabah dapat melepaskan diri dan berjalan ke hutan, di dalam hutan itu ia mendapatkan banyak rumput sehingga ia dapat hidup dan tubuhnya segar kembali, ia pun sering melengguh keras yang terdengar hingga ke segenap penjuru hutan. Suara itupun didengar oleh raja hutan, yakni singa. Ia sangat ketakutan karena tidak pernah mengenal lembu sebelumnya.
Ketakutan raja hutan dirasakan pula oleh seekor srigala yang bernama Dimnah. Hal ini kemudian diungkapkan Dimnah kepada saudaranya yang juga seekor srigala yang bernama Kalilah. Karena keinginannya untuk menjadi orang mulia dan dekat dengan raja, Dimnah akhirnya bertemu dengan raja singa dan menanyakan prihal kegundahan hati yang membuat raja singa berhari-hari tidak keluar dari kamarnya.
Setelah tahu sebabnya, Dimnah akhirnya menuju ke sumber suara itu, setelah diketahuinya bahwa suara itu berasal dari hewan pemakan rumput belaka, maka Dimnah kembali menghadap, tetapi raja masih takut dan Dimnah menawarkan diri untuk membawa Syatrabah ke raja singa.
Dimnah pun membujuk Syatrabah untuk mau menghadap pada raja. Setelah menjamin keselamatan Syatrabah, akhirnya Syatrabah mau juga. Dan pada akhirnya justru, antara raja dan Syatrabah malah menjadi dekat dan bahkan Syatrabah menjadi orang kepercayaan Raja Hutan.
Melihat hal itu, Dimnah iri dan merencanakan hal buruk pada keduanya. Ia kemudian memfitnah keduanya hendak saling membunuh. Fitnahan itu pun berhasil membuat kedua karib itu akhirnya bertengkar hingga Syatrabah mati. Namun raja kemudian menyesalkan perbuatannya itu.
Melihat hal demikian, semua penduduk hutan risau termasuk seekor harimau yang kemudian tak sengaja mendengar percakapan antara Kalilah dan Dimnah, di sanalah baru tahu bahwa itu hanya rekayasa yang dibuat Dimnah. Mendengar hal itu, harimau tersebut memberitahu kepada ibu raja singa dan akhirnya ibunya pun memberitahu anaknya. Raja terkejut mendengar itu dan memanggil Dimnah untuk diadili, karena pandainya Dimnah, Dimnah mampu membantah semua tuduhan meski demikian ia tetap dipenjara terlebih dahulu, karena hal itu, Kalilah pun meninggal. Namun pada akhirnya Dimnah pun dapat dihukum mati oleh Raja Hutan.

C. Pendekatan
Hikayat Kalilah dan Dimnah ini dapat dianalisis dengan berbagai pendekatan, namun dalam kesempatan ini kami hanya memilih beberapa pendekatan saja, adapun pendekatan itu sebagai berikut.
1. Pendekatan Obyektif
Pendekatan Obyektif adalah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai karya sastra yang mandiri. Adapun hal tersebut dapat dianalisis pada unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam cerita tersebut. Dalam Hikayat Kalilah dan Dimnah ini, maka unsur intrinsik ini dapat dijabarkan sebagai berikut:
a) Tema: Sosial;
b) Latar: latar sosialnya adalah kehidupan kerajaan dan kehidupan binatang semacam fabel dan latar tempatnya adalah hutan dan kerajaan.
c) Penokohan:
1) Dimnah memiliki sifat yang pandai, tamak, licik, dan gila pada kekuasaan. Dalam cerita ini ia menjadi tokoh antagonis;
2) Kalilah memiliki sifat yang bijak dan baik hati. Dalam cerita ini ia menjadi tokoh tritagonis;
3) Raja Hutan (Singa) memiliki wibawa, labil, dan mudah diprovokasi. Dalam cerita ini ia menjadi tokoh protagonis;
4) Syatrabah memiliki sifat baik budi tetapi mudah diprovokasi. Dalam cerita ini ia menjadi tokoh protagonis.
d) Alur: maju
2. Pendekatan Ekspresif
Pendekatan ekspresif adalah baik atau tidaknya bergantung pada kemampuan pengarang dalam mengembangkan ide dalam karya sastra. Hal inilah yang terjadi pada Hikayat Kalilah dan Dimnah, cerita ini dibungkus dengan berbagai perumpamaan dan nasihat orang tua. Selain itu, dalam cerita ini, terdapat sejumlah cerita lain yang justru malah membantu dan memberi penguatan pada inti cerita. Seperti cerita tentang kancil yang mampu membunuh singa.
3. Pendekatan Pragmatik
Hikayat Kalilah dan Dimnah ini dipenuhi dengan kata-kata bijak dan nasihat-nasihat yang patut dicontoh. Oleh karena itu pendekatan pragmatik yang memiliki pengertian bahwa karya sastra memiliki tujuan yang berupa aspek kesenian, estetika dan pendidikan. Pada hemat kami, pencapaian kesenian dan estetika dalam cerita ini sangat tinggi, bagaimana nasihat-nasihat bijak menunjang sebuah cerita. Seperti pada halaman 8, kutipannya sebagai berikut,
“Orang yang kuat,” kata Dimnah, “Tidak takut memikul beban yang berat. Tetapi orang yang lemah, jangankan beban orang lain, bebannya sendiripun tiada terpikul olehnya.”
4. Pendekatan Moral
Menurut pendekatan moral, karya sastra adalah untuk meningkatkan harkat, martabat manusia sebagai makhluk berbudaya. Hikayat Kalilah dan Dimnah sangat kuat memberikan masukan kepada kita untuk meningkatkan kualitas diri kita. Berkali-kali disebutkan dalam cerita ini, bahwa orang yang tinggi adalah orang yang berbudi dan berakal. Bahkan pada halaman 45 ditegaskan oleh penulisnya lewat tokoh Dimnah,
“…orang yang berakal dan berbudi adalah orang yang sempurna. Orang yang berakal tetapi tiada berbudi masih boleh dijadikan sahabat. Karena sekalipun kelakuannya kurang mulia, tetapi dari pada akalnya dapat engkau mengambil faedah, dan dari pada kelakuan yang jahat, mungkin engkau menjaga dirimu. Orang yang mulia budi tetapi tiada berakal boleh juga. Karena sekalipun dari pada akalnya, tak mungkin engkau mengambil faedah apa-apa, tetapi dari pada budinya ada yang dapat kau ambil dari padanya. Akan tetapi orang yang bodoh, rendah pula budinya, satupun tiada yang dapat engkau ambil dari padanya…”

D. Bentuk Cerita
1. Cerita Dalam Cerita
Jika dalam cerita konvensional, biasanya para tokoh hanya terlibat dalam alur dan konflik yang sama. Tetapi dalam Hikayat Kalilah dan Dimnah ini terdapat cerita dalam cerita. Artinya cerita utama memiliki beberapa sub cerita. Bahkan cerita tentang Kalilah dan Dimnah pun adanya dalam sebuah cerita. Yakni ketika Baidaba menceritakan pada maharaja Dabasyalim. Jika dicatat Hikayat Kalilah dan Dimnah sebagai sub cerita. Maka ada 18 cerita lain dalam satu cerita yang tentu dikisahkan oleh Baidaba sebagai tokoh pencerita dalam Hikayat Kalilah dan Dimnah. Meski demikian, cerita-cerita tersebut bukan merupakan bagian yang terpisahkan, melainkan satu kesatuan yang bahkan membangun inti cerita.

2. Perumpamaan
Selain adanya sejumlah cerita dalam cerita. Yang unik dari Hikayat Kalilah dan Dimnah ini adalah adanya berbagai perumpamaan yang diambil dari nasihat-nasihat bijak. Seperti pada halaman 8, ibarat batu yang berat, mengangkatnya dari tanah ke bahu susah, tetapi melemparkannya ke tanah, mudah saja.
E. Penutup
Dalam membahas cerita ini, memang Hikayat Kalilah dan Dimnah sangat menarik. Penulisnya mampu menyajikan suatu cerita dengan beberapa sub cerita yang justru membuat cerita ini tambah menarik. Selain itu, ada banyak nilai yang kemudian dipaparkan penulisnya, baik lewat perumpamaan maupun lewat cerita-cerita dengan maksud memberikan penjelasan bagi pembacanya.

Iklan

14 thoughts on “Analisis Hikayat Kalilah dan Dimnah”

  1. Assalamu’alaykum, syukron reviewnya… Kalilah dan Dimnah itu salah satu hikayat yg ana suka, yg maknanya bgtu dalam,. Akhi, ana ndak bnyak tau tapi yg ana prnh baca Ibn muqaffa bukan pengarangnya, ttapi yg menerjemahkan dr bhsa asalnya (kalw ndak salah india) ke bahasa arab,…

  2. HARGA PROMOSI
    Buku Hikayat 1001 Malam 1 set terdiri dari Jilid 1 sd 4
    Harga normal Rp. 625.000,-
    Harga diskon Rp. 375.000,-

    Buku Kalilah dan Dimnah
    Harga normal Rp. 91.000,-
    Harga diskon Rp. 70.000,-

    (langsung dari penerbit)
    Gratis ongkir wilayah DKI Jakarta,
    Luar DKI Jakarta sesuai tarif ekpedisi.
    Pembayaran bisa COD untuk DKI Jakarta
    Keterangan lebih lanjut :
    Divisi Marketing PT. Qisthi Jl. Melur Blok Z No 7 Duren Sawit
    Telp. 021 8610159 ext 105 dengan Sdr . Sapto Senoaji
    Hp : 0818150579 Pin BB : 270B3B47
    Sinopsis lengkap dapat anda lihat di http://www.qisthipress.com
    PENAWARAN BERLAKU SELAMA STOK MASIH ADA

  3. Nambahin dikit Mas, Kalilah wa dimnah bukan karangan Ibn Muqoffa’, tapi sastra Syibh Qoroh (Sub Continent India sekarang) kemudian diterjemah oleh Ibnu Muqoffa’ ke dalam bhs Arab pada masa kekhalifahan Abbasi, masa kejayaan islam. Pada akhirnya cerita Kalilah wa Dimnah ini menjadi lebih kuat sastranya ketika dipindah k dalam bhs Arab, di tambah lagi naskah asli dalam peradaban India hilang, sehingga lebih masyhur cerita ini dengan bahasa arab, bahkan peradaban India baru pun kembali menyadur dari yg bahasa Arab..
    trima kasih info yang lainnya… 🙂

    1. terima kasih atas informasi tambahannya. sangat membantu sebagai sebuah wacana yang perlu ditinjau secara lebih komprehensif. mohon jika ada penelitian mengenai hal ini, minta untuk berbagi dengan saya.

  4. Assalamualaikum, meluruskan saja Kalillah wa Dimnah awalnya dikarang oleh pujangga India bernama Baidaba yang berjudul Pancatantra. Kemudian disalin dalam bahasa Parsi pada tahun 750M dengan nama Keratako Wa Damanakala. Abdullah Ibn al Muqoffa telah menerjemahkan dalam bahasa Arab dan diberi judul Kalillah wa Dimnah pada abad kedelapan. Melalui Terjemahan Abdullah Ibn Al muqoffa Kalillah wa Dimnah menjadi terkenal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s