Catatan, Cerpen

Senja di Merlion Park

Tuhan hanya menakdirkanmu berpasangan. Bukan pada siapa engkau berpasangan. Jika kau sekarang menggenggam tangan perempuan, kau bilang itu takdir, kau juga akan bilang takdir jika genggaman itu terlepas. Ketika kau berkata seperti itu, seakan-akan kau menyalahkan Tuhan. Itu sangat buruk.

Cahaya senja jatuh di taman itu, mewarnai pepohon, rerumput dan air yang meluncur dari patung ikan berwajah singa yang menjadikan laut itu seperti permadani bertaburkan permata. Ada bintik cahaya yang mengerlip setiap kali air yang tenang itu bergoyang ditiup angin dari selatan.

Raga merekam itu semua, lensa matanya seperti tak habis menangkap keindahan senja di Merlion Park, seperti ia tak berkesudahan menangkap keindahan perempuan bermata sipit dengan alis tebal yang selalu bergelantungan di hatinya. Perempuan itu, selalu menemaninya pada saat seperti ini. Ah, Raga selalu merasa kesepian tanpa perempuan itu.

Rara, perempuan yang dengan bibir tipis dan lesung pipit di sebelah kanan itu telah membuatnya tak bisa tidur semalaman setelah bertemu dengannya pada suatu senja di Merlion Park. Rara ketika itu mengenakan pakaian hijau muda dengan lensa tipis menghiasi wajahnya. Badannya sintal dan kulitnya bersih. Seketika Raga tak berpikir jika perempuan itu berasal dari negara yang sama dengannya, Indonesia. Ia lebih mirip dengan perempuan Jepang atau Cina jika Raga melihatnya dengan sekilas  saja.

Namun, ketika perempuan itu menikmati es krim dan agaknya kesulitan membersihkan bercak es krim yang menempel di pipinya, Raga datang dan memberikan sapu tangannya. Agak ragu Rara menerimanya. Tapi kemudian diambilnya sapu tangan berwarna biru itu untuk menghapus bercak es krim yang menempel di sebelah kanan pipi gempalnya itu.

“Terima kasih sudah membantu. Dari Indonesia kan? Jakarta atau Bandung?”  ujar Rara mengawali pembicaraan itu.

Raga sempat terheran. Tapi kemudian menguasai dirinya dengan baik.

“Jakarta,” jawab Raga. “Kamu?” tanya Raga selanjutnya.

“Surabaya,” jawab Rara singkat. Ia masih asik dengan sisa es krim yang belum habis dikunyahnya.

“Suka senja?” tanya Raga kemudian memulai percakapan.

“Tidak,” jawab Rara singkat. “Tanpa es krim,” lanjutnya kemudian sambil tertawa. Selanjutnya Rara bercerita kalau hari itu ia terburu-buru ke Merlion Park sehingga melupakan sapu tangan yang biasanya selalu terselip di saku celananya. Rara sangat suka pada es krim. Itu sebabnya, barangkali badannya menjadi terlihat berisi.

Raga mengenang pertemuan pertama mereka itu dengan senyum yang tertahan. Tertahan demikian dalam di lubuk hatinya. Sebab ia tahu, Rara tidak akan datang di senja yang ke dua puluh lima di bulan Agustus ini. Ia telah pergi, pergi untuk tidak kembali.

Raga menghela napasnya yang tertahan itu. Lalu memandang ke hamparan laut yang masih memantulkan cahaya senja yang berkilauan. Lampu-lampu gedung telah dinyalakan. Cahayanya di kejauhan seperti ribuan kunang-kunang yang berterbangan. Raga mengedarkan pandangannya kemudian duduk di undakan yang menyerupai tangga di taman itu. Ini tempat biasa Raga menghabiskan waktu dengan Rara. Tetapi kini ia sendiri sedang berpasang-pasang kekasih seperti mengasah perih di hatinya yang sepi.

Raga ingat kalau Rara selalu datang pukul empat sore dari arah taman One Fullerton dengan tentu saja sepotong es krim di tangannya. Raga kadang sengaja menunggunya dengan sedikit mengintip dari balik pohon lalu berpura-pura kebetulan bertemu dengannya. Raga masih ragu saat itu, apakah Rara juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Paling tidak mengalami apa yang selalu dialami Raga setiap malam, tak bisa tidur dan selalu terbayang wajah Rara. Apakah Rara merasakan hal yang sama?

Namun, setelah sebelas senja yang tumpah. Raga dapat membaca tanda-tanda itu. Paling tidak, Raga melihat Rara selalu gelisah ketika Raga datang terlambat yang sebetulnya merupakan rancangan yang telah tersusun rapi di dalam kepalanya. Raga sempat melihat Rara duduk tak tenang, sesekali memalingkan wajah ke kanan dan sesekali pula ke kiri. Telihat pula bosan melumuri lidahnya dengan kream manis es di tangannya. Raga seperti memenangkan perasaan itu. Raga mulai membaca, jika inilah tanda-tanda bahwa mereka saling suka, saling cinta.

Hingga akhirnya, meski jadwal kuliah mereka cukup padat, mereka selalu menyempatkan diri untuk menikmati senja di Merlion Park bersama. Warna senja seperti berubah begitu saja saat mereka bersama. Itulah paling tidak yang dirasakan Raga, Raga merasa bahwa warna cinta sebetulnya warna senja.  Bukan warna merah yang lebih terlihat seperti darah yang idientik dengan pembunuhan dan kematian.

Raga masih duduk sendiri pada undakan tangga yang menghadap ke laut. Memandang warna laut yang telah dilumuri warna senja. Di kejauhan, orang-orang sibuk berfoto dengan latar patung kepala singa berekor ikan yang merupakan ikon pariwisata di Singapura. Di antara mereka, terlihat seperti orang Indonesia. Barangkali dari Surabaya. Hmm… Surabaya? Kota itu seperti begitu melekat dalam ingatannya. Raga memang belum pernah ke kota itu. Tetapi orang yang dicintainya itu berangkali sedang mengenakan gaun putih dengan pernak-pernik yang mengilat di kota itu. Apakah ia terlihat begitu cantik? Raga meragukannya.

Beberapa bulan terakhir ini sejak senja kedua puluh lima di bulan Agustus, Raga hanya berkomunikasi lewat internet dengan Rara, terkadang mereka chating atau mengirim surat elektronik. Apapun itu bentuknya, yang jelas mereka masih saling cinta.

Pertemuan terakhir mereka di bulan Agustus itu memang tak pernah diduga sebelumnya baik oleh Rara dan Raga. Raga masih ingat betul pada senja yang hampir musnah, Rara memeluk erat tubuhnya. Ketika itu Rara berjanji akan kembali, meski sebetulnya tidak ingin berpisah saat itu. Air matanya deras mengalir di pipi tembamnya. Tapi kabar kematian ayahnya membuat Rara segera mengemasi pakaian dan memasukannya ke dalam koper. Rara anak tunggal. Kedatangannya sangat ditunggu dan dinanti. Ibunya telah menghubunginya berkali-kali, begitu juga dengan bibi dan pamannya yang segera mengabarinya tak lama setelah kematian ayahnya akibat sakit jantung akut.

“Aku tak bisa kembali,” pesan Rara ketika itu membuat jari-jemari Raga lemas untuk membalas pesan yang disampaikan Rara.

“Kenapa?” singkat Raga membalas dengan perasaan yang sesak.

“Saudara-saudaraku memaksaku  untuk segara menikah.”

“Menikah?” makin lemas Raga membacanya.

“Iya, mereka mau aku menjaga ibu dan meneruskan perusahaan Ayah. Sudah ada calon yang mereka persiapkan. Aku bingung.”

Raga terdiam cukup lama. Mencermati kata-kata yang ada di monitor komputernya dan hatinya terasa sangat sesak menahan perih yang bergejolak. Yang kemudian ia sadari adalah bahwa orang itu bukan dirinya. Raga masih akan melanjutkan kuliahnya yang tinggal beberapa semester lagi. Ia tak mau mengecewakan orang tuanya yang telah susah payah bekerja demi membiayai kuliahnya. Lulusnya Raga adalah mimpi besar kedua orang tuanya.

“Sayangku?” Rara seperti meminta pertimbangan.

Raga bingung. Ia selalu mencintai kedua orang tuanya. Seorang guru agama pernah mengajarinya untuk terus berbakti pada orang tua. Terlebih ibu. Kaki ibu adalah tempat surga itu berada. Jika untuk surga, Rara berada, Raga merasa pasrah.

“Aku harus bagaimana?” Rara menegaskan pertanyaannya.

“Menikahlah.” Entah bagaimana kata itu begitu saja ia hentakan pada key board komputernya.

“Tapi….” Rara ragu.

Raga pun sebetulnya sama ragunya. Hatinya perih dan matanya bahkan mulai berair. Sekelebat kenangan tentang senja di Merlion Park silih berganti berputar dalam otaknya. Ia bahkan masih ingat kata-kata Rara di suatu senja yang mengekal dalam kepalanya.

“Senja tak akan indah tanpamu,” ujar Rara ketika ia tidak membawa es krim yang kemudian disindir oleh Raga. Ketika itu mereka tertawa dan Raga melihat senyum paling indah di bibir Rara ketika itu. Raga bahkan telah menggantikan sesuatu yang telah tertanam demikian lama dalam hidup Rara. Ia mulai yakin ketika itu, bahwa Rara adalah orang yang kelak mendampingi hidupnya.

Namun, kini semua telah sirna. Ingatan itu ada baiknya dilemparnya ke dalam tong sampah untuk kemudian melupakannya. Tetapi adakah tempat sampah yang mau menerima ingatan, sementara aku sendiri bingung apakah semua itu adalah sampah? Batin Raga. Bahkan ia masih berdamai dengan kenangan yang selalu membuatnya tersenyum itu.

Tak ada yang dapat menghentikan waktu. Waktu adalah lipatan sejarah yang terus menderu. Rara tak punya banyak waktu untuk berpikir. Dan keputusan yang terberat itu harus dipikul. Tak ada pilihan.

“Ya, menikahlah.” Akhirnya kata-kata itu tertulis kembali yang kemudian dikirim Raga.

“Tapi aku masih sayang kamu, cinta kamu, tak akan ada senja tanpa kamu.” Rara membalas.

“Aku pun sama.”

“Lalu?”

“Menikahlah.”

“Tidak mau. Kita kawin lari saja.”

“Bagaimana dengan ibumu? Kamu tidak sayang pada ibumu?”

“Sayang.”

“Menikahlah. Itu yang terbaik. Kau akan selalu tersimpan dalam hatiku.”

“Kau juga. Selalu dalam hatiku.”

Raga menyeka air mata yang telah meleleh di pipinya. Sapu tangan yang dulu mengusap pipi Rara diusapkan pula kini ke pipinya. Semakin resah itu meraga. Hiruk-pikuk di sekeliling Merlion Park seperti tiba-tiba sunyi. Yang ada hanya kesedihan. Air mata. Raga seperti melihat patung singa itu tak meluncurkan air dari mulutnya, melainkan dari matanya. Dan cahaya senja yang merekah membuat air mata itu seperti darah. Darah yang juga membuat gaun putih seorang perempuan itu memerah. Perempuan yang terbaring tak berdaya itu menyisakan pesan belum terkirim di layar komputernya.

“Tak akan ada senja tanpamu….”***

Iklan

2 thoughts on “Senja di Merlion Park”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s